
Jakarta.
"Pagi ini kalian akan dibuang ke hutan. Berlatih bertahan hidup disana. Semoga kalian selamat dan kembali dalam keadaan hidup dan utuh!" ucapan komandan membuat merinding.
"Lagi? Dulu waktu pendidikan begitu ini begini lagi" ucap salah satu anggota baru black stones itu.
"Ssstt, diamlah jika tak mau terkena masalah oleh komandan!" sergah Raka
"Tapi bang, perlu kah kita melakukan seperti ini? kenapa tidak langsung diberi misi saja sih?"
"Hei yang di sisi kiri! Kenapa?! Ada yang kau keluhkan?!" ucap komandan membungkam mulut Rian.
"Siap, tidak!" jawab Rian
"Lari keliling lapangan 15 kali!" ucap komandan lagi
"Siap, laksanakan!" jawab Rian lalu berlari mengelilingi lapangan.
"Yang lainnya, segera bersiap!"
"Siap!" ucap semua anggota itu, komandan meninggalkan lapangan.
"Mbel, sepertinya survival kali ini lebih mengerikan. Kau siap?" ucap Bagas sambil mendekati Raka
"Kau meremehkan ku? Siapa yang dulu bertemu kucing di hutan berteriak dia bertemu macan? Ha? Aku tidak ingat orangnya. Coba beri petunjuk padaku!" balas Raka
__ADS_1
"Ya itu kan gue kira memang macan mbel. Dari jauh udah bikin merinding mbel. Kalo gue diterkam kan lo gak bisa mesra mesraan sama gue!"
"Iiihhhh, pengen mesra mesraan lagi sama kamuuuu" Raka bertingkah seperti perempuan dan mengedipkan matanya.
"Hihhh, ngeri gue kalo udab liat lo begini!" Bagas bergidik ngeri
"Iiihhh massss" Raka masih menirukan suara perempuan dengan menggelayut manja di lengan Bagas.
"Apaan sih lo mbel, nyesel gue ngomong aneh aneh sama lo" Bagas meninggalkan Raka yang masib genit terhadapnya.
.
Rumah Ayah.
Terbuka, kenapa aku tidak pernah tau kalo itu bisa dibuka?. Anin membatin bodoh
"Wow, pantas dia bisa dengan mudah lolos. Kecurangan nya benar benar sempurna. Mulus sekali. Nyata seperti asli. Siapa yang melindungi mu Ed? Kau sudah cukup berkeliaran di luar sana. Sekarang saatnya kau dihakimi" Ayah berbicara sendiri. Anin hanya diam enggan bertanya.
Dengan cekatan Ayah mengkopi seluruh file itu di hp nya. Dan segera mencolokkan USB ke hp nya. Bukan hanya satu bahkan 3. Untuk jaga jaga saja. Lawannya sungguh licik.
"Selesai!" Ayah memasukkan kembali memori card itu ke kalung Anin. Ayah menyerahkannya kepada Anin. Anin menerima kalung itu kembali.
"Jangan pernah dipakai Nin, letakkan sesuai tempatnya. Dia pasti akan mengambil itu suatu saat. Dan ternyata inilah jawaban dari pertanyaan ku dulu. Tinggal cari saksi dan siapa orang yang membantunya dalam kejahatan ini" pesan Ayah kepada Anin
"Baik Yah, akan Anin simpan"
__ADS_1
"Oya, carikan boneka milikmu" perintah Ayah lagi kepada Anin.
"Iya Yah"
"Ya sudah, istirahatlah. Kau pasti lelah. Jangan beritahu siapapun"
"Siapapun? Termasuk sahabat sahabat Anin, mas Bagas?"
Ayah mengangguk.
"Baiklah Yah. Terima kasih sudah menjaga Anin"
"Sudah menjadi kewajiban Ayah melindungi calon mantu sekaligus anak almarhum sahabat Ayah"
Anin tersenyum. "Anin permisi dulu Yah"
Ayah mengangguk. Anin meninggalkan Ayah sendiri dalam ruangan nya. Ayah tenggelam dalam pikirannya. Matanya terpejam tapi tidak tidur. Melainkan memikirkan sesuatu
Siapa yang membantumu Ed? Mungkinkah dia? Hah, masalah ini membuatku ingin segera membongkarnya.
.
.
.
__ADS_1
Siapa lagi ini yang bantuuuu? Pusing aku. Mohon bersabar ya gaes. Otak author kadang mampet buat nulis ide nya. Makasih yang udah dukung.
Vote, like, komen nya dikencengin yaaaa