
Anin dan Tari melaksanakan sholat malam. Mereka menengadahkan tangan meminta kepada Sang Pencipta. Doa yang hanya mereka dan Allah yang tahu isi doanya. Anin mengingat kembali mimpinya tadi.
"Ayah..... Anin kangen sama Ayah" Anin tertunduk lesu.
"Lo kenapa Nin?" Tari yang baru saja menyelesaikan doa nya mendengar Anin menyebut ayahnya.
Kini Anin tengah memeluk sahabatnya itu. Dia terisak mengingat mimpinya. Hanya doa yang bisa ia kirimkan. Sangat rindu. Tapi beda dunia. Sudah tidak bisa melihat dan menyentuh, tak bisa mendengar suaranya. Berat. Rindu itu menyiksa hingga air mata yang akhirnya tumpah.
Anin melepas pelukannya.
"Lo kenapa?" Tari tak tega melihat sahabatnya menangis
"Hiks, huhuhuhu. Gue kangen sama Ayah Ri, gue tadi mimpi ketemu sama Ayah. Ayah senyum. Ayah bilang udah selesai mengawasi gue. huhuhu"
"Sabar ya Nin, kirimkan Al fatihah. Besok pulang dari Kalimantan kita nyari pesawatnya yang transit dulu deh di Jakarta. Ke makam pahlawan dulu. Mau gak?" Tari hanya bisa menghibur sahabatnya.
Anin mengangguk.
"Ya udah, sekarang tenang dulu ya. Nanti pagi kita telpon bokap gue. Gue mendadak kangen sama omelan bokap, hufttt. Apa gue ikut nenek aja ya di Surabaya? Menurut lo gimana?"
"Terserah lo, kok jadi lo yang minta saran gue sih. Kan gue yang mewek"
"Hahahah, gue gak suka lihat lo nangis. Gue gak tega"
__ADS_1
"Ri, lo yang masih punya orang tua lengkap jaga mereka seperti mereka menjaga lo. Bener omongan kak Adit. Seburuk apapun orang tua kita mereka lah kehidupan pertama kita. Gue mohon sama lo, buka hati lo buat maafin tante Nam. Kalo lo tinggal di Surabaya biar bisa menghindar dari masalah ini lo salah. Masalah akan tetap ngejar lo sampai lo selesaikan"
"Iya gue tau Nin, doain aja yang baik buat gue"
"Aamiin. Tumben lo sholat malam, biasanya kalo dibangunin aja susahnya minta ampun"
"Lo gimana sih, bukannya ucap syukur sekarang gue mau sholat malam malah lo tumben tumbenin" Tari memanyunkan bibirnya kesal dengan ucapan Anin.
"Hahahah, iya maaf. Alhamdulillah temen gue akhirnya mau sholat malam. Semoga istiqomah ya Ri"
"Iya, menurut lo Angga tipe orang yang bakalan selingkuh gak sih Ri?" Tari tidak tahan dengan pikirannya yang mengganggu nya semenjak tidak bertemu dengan Angga.
"Hmmmm? Kenapa lo nanya nya gitu?"
"Gue takut, kalo beneran gue terima dia terus kita nikah dia bakalan selingkuh"
"Iya juga sih ya. Tapi dari sisi lo ngeliat Angga gimana?"
"Mmmm, jujur sih ya. Gue itu ngelihat Angga orangnya care, care sama semua orang. Bisa ngemong kalo istilah nya"
"Bukan itu yang gue tanya. Otak lo udah lo setel buat dengerin dan rekam pertanyaan gue kan?"
"Hahahaha, iya iya. Dia bukan tipe yang bakalan selingkuh Ri. Yakin seribu persen deh gue"
__ADS_1
"Seyakin itu?"
"Mas Bagas pernah cerita sama gue. Angga itu gak pernah pacaran dari SMA. Padahal dia idola loh. Dan dia pernah cerita sama Mas Bagas kalo cuma lo mantannya. Dan emang kebukti kan kalo cuma lo mantannya?"
"Iya"
"Jadi kenapa lo masih ragu sama dia? Kalo karena tente Nam, lo gak bisa dong samain orang satu dengan lainnya. Hidup lurus ke depan. Sesekali boleh nengok ke belakang biar kita tau kesalahan kita. Buat pembelajaran bukan buat jadi penghambat"
"Hmmmm, semoga cepat diberi jawaban sama Allah deh gue. Tidur lagi yuk"
"Nanggung, sekalian subuh aja. Hari ini Mas Bagas ngajak ke Kopeng. Hhhmmmmmm bentar lagi gue LDR an deh sama dia"
"Ikut! Ya ya ya?" Pelas Tari
"Okeh, nanti pagi jam 5 udah harus siap. Eh, bentar kalo pake motor lo sama siapa?"
"Ih jahat!"
"Bentar telpon dulu. Biar ngajak Angga"
"Eh, jangan. Gue sama dia lagi gak ketemuan"
"Hilih, ketemuan bentar pun gak papa. Suka kan lo?"
__ADS_1
"Hahaha, kangen juga gue sama dia 3 hari gak ketemu bagai 1 windu"
"Diiiiiihhhhhhhh lebayyyyyyyy"