
Anin sudah berada di apartemen Tari. Dilihatnya Tari rebahan di sofa sambil nyemil.
"Aduuuuhh enaknyaaaa, rebahan sambil nyemil. Jangan dihabisin! Sisain buat gue" ucap Anin sambil melepas high heels nya.
"Ibu kan ngasihnya ke gue"
"Enak aja! Sisain! Awas kalau habis!"
"Buruan, habis nih"
Dengan cepat Anin mengganti baju dan sejurus kemudian dia sudah berada di samping Tari.
"Bagi!"
"Nih, nih abisin! Nin, gue mau curhat"
"Tristan ya? Cieeee, kenapa-kenapa? Udah ada benih cinta ya?"
"Mulut lo meski ngunyah tapi tetep ya, dengerin dulu. Tadi gue sempet ciuman sama Tristan"
"Uhuk uhuk uhuk, ehem demi apa? Wahhhh, amazing! Gue kira bakalan susah ngejodohin lo"
"Bentar dong. Gue gak tahu beneran cinta sama dia apa gak. Gue kebawa perasaan. Gue bales ciuman dia, tapi sekarang gue merasa bersalah sama almarhum Angga. Gue pengen bener-bener mastiin dulu perasaan gue. Menurut lo gimana?"
"Caranya?"
"Itu dia yang gue bingung. Eh, gue lupa kasih tahu lo. Gue dapat panggilan kerja buat jadi dosen di POLTEKKES tapi cabang Kalimantan. Gimana menurut lo?"
"Pikirin dulu itu masalah si Tristan. Ambil tawaran dosen itu. Siapa tahu nanti kita bisa kumpul di Kalimantan. Kan asik"
"Iya, pokoknya gue mau mastiin dulu perasaan gue. Mending gue ke Surabaya deh nemenin nenek disana. Biar sementara menghindari Tristan sampai gue beneran yakin"
"Terus masalah dosen?"
"Besok gue berangkat, nanti gue minta tolong Salma buat jemput di bandara. Kalau deal lo disini jaga diri"
"Tenang, ada Tristan"
"Sombong amat sekarang ada bodyguard"
"Hahaha"
.
Matahari sudah kembali menduduki tahta nya. Tari sudah bersiap dan hendak berangkat ke bandara.
__ADS_1
"Nin, gue tinggal ya. Gue harus ke kampus ke Jakarta dulu, terus nanti siang langsung berangkat ke Kalimantan"
"Kok harus ke Jakarta? Gak langsung ke Kalimantan?"
"Gak Nin, gue salah baca infonya. Harus interview dulu sama rektor yang di Jakarta dan besok nya interview dengan rektor yang Kalimantan. Karena gue kan kemarin daftarnya buat di Jakarta. Tapi karena ada salah satu dosen yang keluar akhirnya gue di lukir ke Kalimantan"
"Ooh, gue kirain. Ya udah hati-hati ya. Lo dianter Tristan?"
"Kagak! Naik taksi online"
"Lo gak pamit ke dia?"
"Gak usah, udah gak keburu kalo gue pamit. Gue berangkat ya, daaaahhhh"
Tari dengan sedikit berlari meninggalkan Anin sendiri. Anin ingin kembali ke rumahnya karena ditinggal kan oleh Tari. Dia yang sudah bersiap menghampiri apartemen Tristan.
Teng tong. Tristan segera membuka pintu.
"Selamat pagi Anin, mau kemana kita hari ini? Tari mana?"
"Tumben manis amat sapaan nya. Antar Anin pulang ya, Tari ada interview jadi untuk beberapa hari kedepan gak ada di Semarang"
"Kok gak pamit ke aku?"
"Situ siapa nya ya? Pengen banget dipamitin? Hahaha"
"Aww sakit bang, hahahah. Siap-siap kangen sama Tari. Hahaha"
"Ini bocah ya, ayo berangkat. Bercanda melulu" Tristan dan Anin menuju parkiran.
.
Tristan melajukan mobilnya. Jalanan agak sepi karena gerimis jatuh dari langit. Di belakang mobil Tristan ada 2 buah motor yang sepertinya sedang mengikuti mereka.
"Kenapa bang?" tanya Anin mendapati tingkah aneh Tristan.
"Sepertinya kita akan diserang lagi. Lo di dalam mobil aja. Jangan keluar"
Anin mengangguk. Dua motor tadi sudah berada di depan mobil Tristan dan menyuruh Tristan untuk menepikan mobilnya.
"Siapa kalian?" tanya Tristan.
"Banyak bacot! habisi!" jawab orang itu yanh diyakini Tristan sebagai ketua mereka.
Tristan hanya 1 orang, sedangkan lawannya 4 orang. Awalnya memang Tristan bisa sendiri tetapi tenaganya terkuras, entah berapa lama lagi dia bisa bertahan. Anin yang melihat Tristan agak sempoyongan keluar dari mobil untuk membantu Tristan. Dia juga ingin mencoba kemampuannya dalam beladiri.
__ADS_1
"Ngapain keluar sih Nin?"
"Bantu abang, ayo kita lawan mereka"
Baku hantam kembali terjadi. 1 orang bertarung dengan Anin dan 3 orang mengeroyok Tristan. Anin berhasil menendang perut orang itu membuat si empunya terjerembab. Anin hendak membantu Tristan, tanpa dia sadari lelaki yang dihajarnya tadi mengeluarkan pisau dan menusuk perut Anin. Tristan muak dengan mereka. Segera Tristan mengumpulkan semua tenaganya dan menghajar orang-orang tersebut. Mereka lari ketakutan karena ada beberapa warga yang datang mendekat.
"Mas, mbak nya kena tusukan ini. Segera dibawa ke rumah sakit"
"Tolong bantu saya ya pak"
"Ayo bapak-bapak bantu mas nya"
Tristan melajukan mobilnya dengan sangat kencang ke arah rumah sakit. Anin sudah berada di atas brankar dan didorong menuju ruang IGD. Tristan memberitahu om dan tantenya. Dia juga meminta tolong papah nya untuk mencari tahu siapa yang menyerang mereka tadi.
Anin yang tidak sadarkan diri segera mendapatkan perawatan intensif. Nisa yang menangani adiknya itu juga khawatir. Anin mengeluarkan banyak darah. Hingga harus di transfusi
"Ya Allah Nin, kenapa bisa begini lagi sih?" tanya Nisa kepada Anin yang masih belum sadarkan diri.
Orang tua Bagas yang baru saja datang memarahi Tristan habis-habisan. Papah Tristan juga datang dan membawakan apa yang diminta oleh anaknya.
"Orang yang menyerang Anin bukanlah orang suruhan Edi" ucap pak Arya yang merupakan kakak dari ayah.
"Lalu siapa pah?" Papah Tristan menepuk bahu anaknya. "Kenapa?"
"Maafkan papah karena kemarin memaksa menjodohkan kamu dengan Ana. Ini adalah perbuatan orang suruhan papah Ana"
"Jadi maksudmu Anin korban salah target?" ucap Ayah.
"Kemungkinan besar begitu dek, mungkin mereka tidak terima dengan Tristan dan saat di kejadian Anin membantunya malah Anin yang mengalami nasib sial ini"
Dokter keluar dari ruang IGD. Membuka maskernya.
"Om, tante Anin sudah dipindahkan ke ICU karena luka tusuknya cukup dalam dan harus transfusi juga tadi. Saat ini belum sadar, tapi kita doakan saja semoga cepat sadar. Ada beberapa jahitan di perut Anin. Mari saya antarkan ke ruangan Anin" ucap Nisa.
Ayah dan Ibu mengikuti Nisa. Sedangkan Tristan dan papah nya masih di depan IGD.
"Kamu mau kita balas mereka?"
"Tidak usah pah, biar Tristan saja yang selesaikan"
"Baiklah jika memang begitu. Ayo lihat keadaan Anin dulu"
.
.
__ADS_1
.