
Akad Anin dan Bagas berjalan dengan lancar. Semua yang ada disana merasakan kebahagiaan. Sedangkan di pulau berbeda ada yang benar-benar patah hati.
Kalimantan.
Bimo berangkat ke puskesmas dengan lesu setelah mendengar kabar dari grup puskesmas nya bahwa Anin menikah hari ini. Semangat Bimo menguap entah kemana. Penampilannya saja tak serapi dan sekeren biasanya.
Hari ini ada pekan BIAS. Karena petugas puskesmas yang cuti ada 3 orang jadilah Bimo ikut turun tangan membantu kekurangan tenaga di desa x.
"Dokter Bimo sehat?" ucap pak Rusdi saat mengantarkannya ke desa x.
Bimo tersenyum getir. "Sehat pak, hati saya yang sakit. Anin menikah hari ini pak. Itu artinya tidak ada kesempatan bagi saya untuk mendekatinya lagi. Sudah haram hukumnya bagi saya pak"
"Ooohh ternyata karena itu dokter jadi kacau begini. Dokter, saya hanya bisa bilang sabar. Carilah obatnya dok"
Bimo menautkan alisnya. "Maksudnya pak?"
"Obat untuk orang batuk pasti obat batuk kan? obat untuk orang diare pasti obat diare kan? Begitu juga hati dok, obat untuk hati yang sakit adalah hati"
"Bapak bisa saja"
"Saya serius dok, dokter tahu saya ini duda sebelum bertemu istri kedua saya?"
"Masa sih pak?" ucap Bimo tak percaya.
"Iya dok, dulu saya pernah dikhianati oleh mantan istri pertama saya. Dia tidak tahan hidup kekurangan dengan saya. Akhirnya kami bercerai. Setelah itu saya terpuruk. Benar-benar hilang arah. Saat saya sudah putua asa, saya mengenal istri saya. Lebih tepatnya dekat. Karena kami sebenarnya sudah mengenal lama.
Dia membuat saya percaya akan cinta lagi. Dan sejak saat itu saya baru tahu obat hati adalah hati. Dan prinsip saya sekarang adalah lebih baik dicintai dari pada mencintai. Jika kita dicintai kita akan lebih dihargai dok"
"Jadi awalnya bapak tidak mencintai istri bapak yang sekarang?" tanya Bimo penasaran.
"Bukan tidak mencintai dok, hanya rasa saya terhadapnya belum sebesar dulu saya mencintai mantan istri saya. Rasa cinta itu ibarat tanaman dok. Kalau dipupuk terus ya akan semakin tumbuh besar" jelas pak Rusdi.
Bimo diam.
"Kenapa tidak mencoba membuka hati kepada Sinta dok? Dia kan jelas punya rasa untuk dokter. Itu sudah menjadi rahasia umum dok. Dia juga cantik, baik, pinter, mandiri, dewasa. Sebelas dua belas lah kalau sama Anin" ucap Pak Rusdi menoleh kepada Bimo.
Bimo diam dan membuang muka ke arah luar.
"Dicoba aja dok, lakukan pendekatan. Siapa tahu memang jodoh" tambah pak Rusdi.
Bimo sudah sampai di desa x. Dia langsung menuju SD yang ada disana. Sinta lebih awal datangnya daripada Bimo.
"Hai" ucap Bimo kaku. Mengingat perbuatannya terhadap Sinta tempo hari.
"Hmm, saya di kelas 1, 2, 3, dokter silahkan di kelas 4, 5, 6" Ucap Sinta datar.
"Maaf" ucap Bimo.
"Sekarang bukan waktunya untuk membahas itu. Lakukan apa yang menjadi tugas dokter saat ini" Sinta meninggalkan Bimo menuju ruang kelas 1.
__ADS_1
"Kenapa jadi begini sih? Hah, Bimo, Bimo! Sebel bertindak dipikir konsekuensi nya! Dasar bodoh!" Bimo merutuki dirinya sendiri.
Bimo dan Sinta melakukan imunisasi kepada seluruh siswa SD tersebut. Kecuali yang sedang sakit.
Hampir tengah hari mereka baru kembali ke pustu. Sinta yang selesai lebih dulu memang sengaja meninggalkan Bimo.
"Huh capeknyaaa" ucap Sinta dan mengambil botol minumnya. Lalu menegaknya.
Bimo duduk bersebelahan dengan Sinta. Melihat Sinta yang sedang minum membuatnya ikut haus. Dengan cepat Bimo mengambil botol minum Sinta dan ikut meminumnya. Sinta sampai melotot tak percaya.
"Minumku!" ucap Sinta.
Bimo mengembalikan nya. Mereka sama-sama diam. Tak tahu harus melakukan apa, karena tidak ada pasien.
"Sin" panggil Bimo saat melihat Sinta hendak pergi dan memegang pergelangan tangan Sinta.
"Tolong lepaskan dok"
"Kita gak bisa kayak gini. Aku minta maaf untuk kemarin. Aku khilaf. Tolong maafkan aku. Dan tolong bersikap lah seperti biasa"
"Sudah aku maafkan. Aku bersikap seperti biasanya kok. Dokter aja yang baper an" jawab Sinta sedikit judas.
"Kamu berbeda. Kamu sekarang galak"
Sinta menautkan alisnya. "Aku dari dulu galak. Bukan seperti Anin yang bisa ramah sama semua orang!"
"Kok jadi bawa-bawa Anin sih. Gak ada hubungannya dengan itu"
"Duduk sini, aku butuh teman"
"Maaf, aku tidak bisa menjadi teman bagimu"
"Kalau teman sehidup semati?"
"Maksud dokter?"
"Duduk dulu"
Sinta duduk kembali di kursinya.
"Jangan merubah perasaan mu terhadapku. Aku akan mencoba membuka hati untuk mu. Jangan pergi menjauh. Bertahanlah sebentar"
Sinta diam tak menjawab.
.
Resepsi berjalan dengan lancar. Tari dan Salma menyumbang lagu untuk Anin dan Bagas. Meriah, bahagia, terpancar di pesta resepsi itu. Bagas dan Anin sudah sampai di rumah Anin. Mereka membersihkan diri. Anin memanaskan makanan yang dibawakan oleh ibu tadi. Setelah selesai, Bagas dan Anin makan malam pertama kali sebagai suami istri. Anin melayani Bagas seperti dulu ia menyiapkan makanan.
"Makasih sayang" ucap Bagas sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama. Ayo makan"
Mereka makan dengan nikmat, tak bersisa. Bersih piringnya. Setelah itu mereka sholat isya dan sunah 2 rakaat. Anin selesai dan menggosok giginya. Bagas sudah siap di atas ranjang. Anin merasa grogi dilihat Bagas seperti itu. Tatapan yang dalam. Sungguh berhasrat. Membuatnya malu-malu tapi mau. Hahaha.
Bagas pun sebenarnya merasa grogi. Tapi dia menutupi itu semua dengan senyum cengar cengirnya. Degup jantung Bagas sudah tak beraturan.
"Yank, sini dong" ucap Bagas menepuk tempat disebelahnya.
"Iya" jawab Anin dan ikut duduk di ranjang.
"Ranjang kamu kecil banget sih, buat berdua aja sisa dikit banget. Besok beli yang gede" ucap Bagas membuka percakapan. Mas Bagas grogi boooo 😅
"Kamu nya aja yang badannya besar mas, orang aku aja sama Tari tidur disini gak pernah protes sempit kok" sanggah Anin.
"Ya makanya besok beli yang besar. Jadi nanti kalau kita udah punya anak gak sempit lagi kayak begini"
"Terserah kamu lah mas"
"Kamu dapat cuti puskesmas berapa hari lagi yank?"
"Cuma sampai sabtu mas, senin udah harus tugas"
"Ya sudah, nanti sabtu kita pulang Kalimantan. Syukuran nikahan kita sama temen-temen kamu disana. Gimana?"
"Ikut saja lah"
"Yank, mas beli rumah Raka buah kamu, nanti kamu tempati ya. Dirawat, dijaga. Boleh mas minta sesuatu?"
Anin menjadi panas dingin. "Apa mas?"
"Mas pengen kamu pakai hijab. Tutup aurat kamu. Mas ingin hanya mas yang melihatnya. Bisa?"
"Insyaallah"
"Alhamdulillah, terima kasih ya yank"
"Sama-sama"
Bagas mulai membelai rambut Anin. Mengecup keningnya. Matanya, hidung nya, pipi nya, dan bibirnya. Entah mengapa ada rasa yang berbeda. Ada getaran yang sungguh menggelora. Anin semakin grogi karena Bagas menyerang secara tiba-tiba.
.
.
.
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Tip