Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 150


__ADS_3

Anin tak kuasa lagi membendung emosinya. Dia berlari keluar rumah menuju rumah Raka.


"Awas aja nanti kalau ketemu, beneran aku geplak pake sandal kamu mas! Dasar lelaki pengecut! Hish. Bikin orang emosi aja sih!!"


.


Ayah dan Raka tidak tahu jika Anin mendengar pembicaraan mereka. Ibu dan Salma yang dari arah dapur melihat Anin berlari terheran-heran.


"Anin kenapa yah?" Tanya Salma.


"Anin tahu kalau Bagas hanya menghindarinya" jawab Ayah pasrah.


"Apa?!" Ibu dan Salma sama-sama terkejut.


"Telpon Bagas, cepetan telpon Bagas! Suruh dia pulang sekarang atau akan hancur lagi seperti dulu. Cepet!" Ibu sudah mondar-mandir bingung.


Raka menghubunginya tapi tidak diangkat.


"Gak diangkat bu, apa Raka susul aja ke rumah ya? Pasti Anin kesana"


"Jangan. Udah semuanya tenang. Biar kak Bagas yang mempertanggung jawabkan hasil kelakuannya sendiri. Biarin mereka yang menyelesaikan sendiri" sergah Salma saat Raka ingin menyusul Anin.


"Ayah setuju. Udah ketahuan kok, ngapain lagi ditutupi?" jawaban ayah sependapat dengan Salma.


"Yaudah deh, kita makan dulu aja" ucap ibu diangguki oleh semuanya.


.


Bagas terkejut saat dirinya kembali dari membeli makan siang dilihatnya Anin sudah berada di teras Raka. Dia turun dari motornya seperti maling ketahuan mencuri. Takut, bingung, ah pokoknya menyeramkan.


Anin bersidekap dan melotot melihat pacarnya datang.


"Mau ngomong apa lagi kamu?! Dasar pengecut! Kamu mau menhindar lagi apa gimana? Mau minta putus lagi? Oke ayok!"


Bagas menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Dalam misi? Misi menyembunyikan diri maksud kamu?! Jahat kamu! Aku disana tersiksa oleh rindu dan kamu disini masih bisa makan dengan enak!" imbuh Anin yang sudah meneteskan air mata karena tak mampu membendung lagi emosinya.


Bagas meletakkan helm dan bungkusan nasi nya mendekat ke arah Anin. Bagas memeluk pacarnya itu dan mengecup puncak kepalanya.


"Maafin mas"


"Kamu tuh kenapa sih mas?? Aku udah bilang, jangan menyalahkan diri kamu sendiri, bisa ngerti omongan aku gak sih?! Apa perlu aku pakai bahasa planet sekalian biar kamu makin gak ngerti?!"


"Maaf, mas gak sanggup lihat kamu terbaring begitu"


"Aku manggil nama kamu saat sadar tapi kamu nya gak ada. Ibu bilang dalam misi. Aku percaya aja karena itu udah kewajiban kamu sebagai abdi untuk negara kita. Tapi apa ini?? Kamu mempermainkan ku lagi??"


"Maaf"


"Cuma itu yang bisa kamu ucapkan? Berapa kali kamu minta maaf? Capek aku dengernya!"


"I Love you, I miss you, I really miss you ayang beb. Mas juga kangen berat sama kamu. Maafin mas karena gak bisa nemenin kamu. Mas sangat merasa bersalah. Coba kemarin...." Anin memotong pembicaraan Bagas dengan mengecup bibirnya.


Bagas sampai melotot mendapatkan sebuah ciuman yang sudah lama tak ia rasakan.


"Apa?? Kamu terlalu banyak alasan mas. Merasa bersalah boleh, tapi jangan sampai terpuruk. Aku itu butuh kamu. Aku pengennya sama kamu. Sekarang kamu maunya gimana? Kita putus lagi?"


Bagas menggelengkan kepalanya. "Gak mau, mas gak mau kita putus. Mas mau kita nikah!"

__ADS_1


"Kalau mau nya nikah kenapa malah ngilang?


"Iya, gak ngilang lagi. Mas gak sanggup lihat kamu kayak kemarin"


"Dasar cowok bodoh! Pengen nampol kamu pakai sandal aku!"


"Tampol aja kalau itu bikin marah kamu hilang"


"Bener??"


"Iya"


Anin mengambil sandalnya dan dengan keras dia mengayunkan sandal itu. Bagas memejamkan mata. Jarak pipi Bagas dan sandal Anin hanya 1 cm. Anin menghentikan aksinya. Dan


cup. Anin mengecup pipi Bagas. Bagas terbelalak dan tersenyum.


"Apa mas ngilang terus aja ya biar dapet kecupan terus dari kamu?"


Anin dengan geram mencubit perut Bagas.


"Aaaaawwwww, yank yank sakitttt. Adduuuuuuhhhhh"


"Makanya jangan banyak tingkah! Main ngilang! Udah ah, aku mau pulang!"


"Mau pulang kemana? Nanti aja pulangnya. Makan dulu sama mas yuk. Kamu belum makan kan?"


"Orang kamu beli nasinya cuma sebungkus doang kok gayanya nawarin aku makan!"


"Biar romantis makannya sebungkus berdua. Nanti mas suapin deh. Mumpung cuma berdua doang"


"Itu romantis apa ngirit sih? Sebungkus buat berdua. Dasar pelit!"


Bagas meraih tangan Anin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah Raka. Bagas mengambil piring dan minum.


Anin duduk di ruang tamu dan menunggu Bagas sambil menyalakan tv.


"Sini mas suapin. Aaaa" Bagas menyodorkan sendok yang berisi makanan itu.


Anin membuka mulutnya sesuai perintah Bagas. Sampai beberapa suap Anin mulai sadar sedari tadi Bagas belum makan.


"Kamu kok gak makan mas?"


"Mas nanti, kamu dulu biar kenyang"


"Aku udah, kenyang"


"Lagiiii, ini masih banyak gini kok"


"Udah ah mas, nanti malah muntah" Anin menyudahi makannya dan segera minum.


Bagas menghabiskan sisa makan Anin hingga bersih. Selesai makan dia mengobrol dengan Anin.


"Yank, nikah yuk!"


Anin heran dan menahan tawa nya.


"Kamu demam atau apa sih mas? Tiba-tiba ngajak nikah setelah main ngilang begitu. Eh, undangan minggu ini berurutan dong. Jumat dokter Sani, Sabtu resepsi Tari, minggu Salma"


"Kamu kok bisa tahu Sani nikah?"

__ADS_1


"Ya tahu lah, sebenernya waktu aku sadar dokter Sani tu nemuin aku. Dia ngasih undangan dan minta maaf karena sempat manas-manasin aku. Itu semua skenario kamu kan?"


"Hahaha, dasar Sani mulut ember. Udah dibilang diem dulu masih aja ngasih tau"


"Calon nya kak Sani ganteng banget sih"


"Ooo, jadi kamu lebih seneng lihat calonnya Sani daripada tunangan kamu sendiri"


"Ih, tunangan aku aja main kabur-kaburan kok. Ngapain juga aku pusing"


"Ooo gitu ya"


"Cemburu mu itu lho mas, aku iki tresno ne mung karo awakmu. Liyane ora tak lirik"


"Mosssooookkkk??"


"Gak percaya yawes"


Bagas diam menyudahi obrolan mereka. Tangannya membelai rambut Anin. Anin tak berani melirik ke arah Bagas. Matanya tertuju pada tv, tapi hatinya sudah berdegup kencang.


Dia mau ngapain sih? Haduuuhhh, jadi grogi deh gueeee


"Ayok pulang mas" Anin berdiri tapi tangannya ditarik kembali oleh Bagas.


"Disini dulu sebentar"


"Kamu mau ngapain sih mas, aku takut nih"


"Hahahah, kamu jujur banget sih yank" Bagas mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Anin.


Anin diam tak bergerak. Dia memejamkan matanya.


"Makanya ayo nikah cepet. Mas udah gak sabar" Bagas berdiri meninggalkan Anin, mematikan tv dan memakai jaketnya.


"Apa sih?"


"Gak usah berlagak polos bu bidan. Mas mu ini nahan-nahan. Ayo pulang daripada kamu tak makan"


"Ih gak jelas deh" Anin menahan wajahnya yang merah padam karena tersipu.


Bagas dan Anin pulang ke rumah. Di rumah dia mendapatkan kejutan.


"Surpriseeeee" teriak semuanya.


.


.


.


Cewek kalo marah mah gitu, cuma dipeluk aja udah meleleh. Kalian gimana gaes? Iya apa iya? Kalo author sih yessss. 😂😂😂


Silahkan menikmati karya baru author


"Larasati dan Pak Bupati"


Sudah mulai rilis 1 episode lhoh.


Like komen vote tip kencengin boleeeehhhhh.

__ADS_1


__ADS_2