Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 91


__ADS_3

Semarang


"Ri, jangan ngelamun terus. Gue sedih kalo lo begini" Anin memeluk Tari yang sedang duduk di teras sambil melamun.


"Nin, ke pantai yuk. Gue pengen teriak" pinta Tari


"Ayo, bentar gue minta tolong Bang Tristan buat nganterin kita dulu"


Tari hanya diam. Anin menelpon Tristan


"Halo Bang, dimana?" tanya Anin melalui telpon kepada Tristan.


Lagi ada urusan. Kenapa?


"Bisa nganterin kita gak ke pantai?"


Gak bisa Nin, maaf. Kalian di rumah saja. Jangan kemana-mana dulu. Udah dulu ya, aku lagi ada urusan mendesak. Daaahhh


Anin melihat layar ponselnya.


"Sialan ini orang, main tutup telpon aja. Ya udah Ri, kita berangkat sekarang. Pake taksi online aja ya" Anin tak ingin membuat kecewa Tari


"Kalo lo gak bisa gue pergi sendiri aja Nin" Tari yang mengetahui bahwa Tristan tidak bisa menjaga Anin.


"Bisa, gue bisa. Ayo, kita ke pantai. Lama juga kita gak kesana. Bentar gue ambil tas dulu" Anin mengambil tas nya dan memesan taksi online.


Tak berapa lama taksi yang Anin pesan pun sampai.


"Mas, ke pantai ya" ucap Anin kepada sang sopir.


"Baik mbak" mobil melaju ke arah pantai.


.


Bagas dan kawanan nya baru saja sampai di barak. Mereka segera membersihkan diri dan beristirahat. Raka memilih menelpon pacarnya. Bagas penasaran dengan Raka, dia menguping sebentar pembicaraan Raka dan Salma di telpon.

__ADS_1


"Iya dek, bentar lagi abang dapat cuti. Tukar jadwal dong biar kita bisa kota-kota" ucap Raka meminta pada Salma.


Iya Bang, nanti adek tukar jadwalnya. Itu gampang. Kapan tanggalnya?


"Mmm mungkin 3 hari atau paling lama seminggu dek, ah senangnya"


Bagas familiar dengan suara yang di telpon Raka. Raka menggunakan loudspeaker karena hp nya mengalami kerusakan. Jadi speakernya tidak bisa normal.


"Eehhhemmmm" Bagas mengagetkan Raka. Sontak Raka menoleh dengan salah tingkah seperti orang yang sedang mencuri.


"Dek, abang matikan dulu. Kapten abang ada perlu sama abang. Assalamualaikum" Raka dengan cepat memutus sambungan telpon nya.


"Kok udahan sih Mbel? Siapa sih pacar lo? Penasaran gue! Sini pinjem hp lo. Sombong amat telpon pake loudspeaker!"


"Enak aja, hp gue speakernya rusak. Jadi kalo.mau telpon harus loudspeaker. Nanti kalo waktunya udah pas gue kenalin ke lo"


"Gak asik lo. Main rahasia sama gue. Ya udah lah, semoga langgeng. Gue mau tidur. Nanti kalo komandan nyari bangunin gue" Bagas menepuk bahu Raka dan meninggalkannya.


Raka masih mematung di tempatnya.


Kalo lo tahu yang sebenarnya, masih kah kau mendoakan ku langgeng? Maaf aku tak bisa memegang janjiku. Aku teramat mencintai nya, adikmu, Salma.


Kalian gak papa kan? Tenang lah, aku sudah disini. *Bom kecil ini menakuti kalian? Hanya ini yang akan mereka lakukan terhadap kalian. Oke yank, punyamu sudah ku potong. Lepaskan sendiri ikatan di kaki mu


Dor


Anin, tidak tidak tidak, Anin bangun yank. Mas bilang bangun yank. Nin, Anin, Anindya Wijaya*!.


"Gas, woy! Bangun! Kenapa? Ada apa dengan Anin? Hmm?" Raka duduk di sebelah Bagas memberikan air untuk minum.


.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, aaaaaaaaaaaaaaaaa, aaaaaaaaaaaaaaa" Tari berteriak sekencang-kencangnya.


"Gimana udah lega?" Anin menunggui Tari dengan duduk di pasir pantai.

__ADS_1


"Setidaknya gak sesak lagi di dada gue Nin" Tari ikut duduk di sebelah Anin.


"Mending begini daripada depresi. Sekarang gimana? Lo mau cerita tentang Angga apa disimpan dalam kenangan?"


"Waktu itu, gue sama dia lagi nyari baju buat lamaran. Gue milih baju, dia duduk dan setiap gue tanya pendapat dia, dia bilang iya bagus. Wajahnya pucat. Dia memegangi dada nya. Tiba-tiba dia pingsan. Dia dibawa ke rumah. Di perjalanan gue cuma bisa nangis, gue melihat ada air mata yang keliar dari mata Angga. Dia tersenyum Ri. Pas ssampe di rumah sakit dokter menyatakan dia meninggal karena serangan jantung. Gue gak pernah tahu dia punya penyakit jantung. Gue jadi orang bodoh banget! Gue jadi orang yang gak berguna bagi dia. Gue gak bisa lakuin apapun buat dia. Nyesel gue kenapa memforsir tenaga dan pikirannya. Gue egois banget Nin, hiks huhuhu"


Anin memeluk sahabatnya. Mengusap punggung sahabatnya untuk menguatkan nya.


"Sabar Ri, lo bukan orang egois. Lo gak tahu kalo Angga sakit jantung. Lo gak boleh nyalahin diri lo sendiri. Ini udah suratan Ilahi. Takdir Allah yang tidak pernah bisa kita ubah. Sekarang yang terpenting lo gak boleh depresi. Lupain Angga. Biar dia tenang disana. Jangan pernah nangis buat dia, karena jalannya akan berat. Coba untuk mengikhlaskan kembali. Lo pasti bisa" Anin menyemangati Tari.


Waktu berlalu tanpa ada pembicaraan lagi. Hingga matahari tergelincir mereka masih menatap langit jingga itu.


"Balik yuk, udah mau petang. Bentar pesan taksi dulu" Anin mengajak Tari untuk pulang karena hari sudah akan gelap.


Anin dan Tari beranjak ke jalan pinggir pantai. Mereka masih mencoba mencari taksi.


"Belum ada yang nyangkut juga?" tanya Tari


"Belum, gimana nih? Coba telpon Tristan deh, siapa tahu dia udah selesai urusannya" Anin menelpon Tristan.


"Halo, bang. Bisa jemput kita di pantai gak? Kita gak dapat taksi nih. Dibatalin terus dari tadi"


Kan sudah ku bilang, jangan kemana-mana. Ya sudah tunggu disitu!


Saat mereka menunggu Tristan, sopir yang mengantar Anin menghampirinya.


"Mbak, yang tadi bukan? Mau pulang mbak?"


"Lhoh, mas masih disini. Iya tapi gak dapat taksi. daritadi dibatalkan terus"


"Mau saya antar? Saya daritadi nunggu orderan mbak. Mari saya antar"


Anin dan Tari menuju mobil yang dituju. Saat akan masuk ke mobil, ada seseorang yang membekap mereka berdua hingga semua gelap.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2