Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 146


__ADS_3

Sedangkan di ruangan lain.


"Halo sobat lama ku, lama sekali tak pernah jumpa dengan kalian Ed dannn... Bapak menteri pertahanan Bakri Anggoro yang terhormat?" Ayah Ardhi menyapa kedua sahabat lama nya iti dengan senyum menyeringai.


"Hahahaha, selamat datang Ar, kau ingin bergabung dengan kami? Dengan bisnis yang dulu kau tolak saat Ed menawarkan mu dan Andi untuk bergabung?" sahut Bakri


"Maaf, aku lebih senang melihat rumput daripada bermain senjata"


"Sombong! Seharusnya dulu kau bunuh mereka Ed, agar tak ada yang mengganggu kita saat ini" ucap Bakri sambil menyeringai


Grep


Mereka saling todong senjata. Belum ada yang mulai memainkan senjata mereka. Hanya diam dan saling todong, itulah yang mereka lakukan.


Dor


Edi mulai menyerang ayah. Raka membalas tembakan itu. Bakri berusaha melarikan diri saat baku tembak terjadi. Dia berlari keluar ruangan dan mencari anak buahnya, tapi tidak ketemu. Dia berlari sampai bertemu dengan seseorang.


"Ada yang bisa saya bantu bapak menteri yang terhormat? Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Komandan Suherman dengan tersenyum licik.


"Hahahah, sedang apa kalian disini? Apa kita sedang melakukan reuni kecil-kecilan?" balas Bakri


"Yaaa,,, bisa dibilang begitu. Kalau saja mas Andi masih ada, kita akan lengkap bukan sebagai pasukan khusus?"


"Hahaha, jangan membangunkan kembali memori yang sudah mati"


"Memori ku tak akan pernah mati. Aku kira bang Ed adalah otak dari ini semua. Tapi fakta lain mengejutkan. Pantas saja bang Ed bisa lolos dengan mudahnya dari jerat hukum"


"Hahahah, aku hanya sedikit memainkan kekuasaanku"


Grep


Mereka saling todong pistol di kepala masing-masing.


Edi masih baku tembak dengan Ayah dan Raka.


"Menyerahlah Ed, bertobatlah! Kau tidak ingin meminta maaf kepada Anin kita? Anak sahabat mu yang sudah kau anggap anak sendiri, kau manjakan dengan semua perlakuan mu? Kau tidak ingat kenangan manis itu bersama nya?" teriak Ayah kepada Edi.


"Aku tidak memiliki gadis kecil itu lagi. Aku sudah mengubur memori ku yang dulu"


"Kau tidak ingin melihat mata nya, dia memiliki mata ibu nya"


Kata-kata Ayah mampu membuat Edi hilang konsentrasi.


"Dia memiliki hati setulus dan sehangat ibunya. Kau tidak ingin bertemu dengan anak itu? Anak yang memanggil mu dengan sebutan om Umang? Panggilan kesayangannya untuk mu?" Ayah masih meracuni pikiran Edi dengan memori manis dia bersama Anin kecil.


Ayah memberi kode ke Raka untuk melumpuhkan Edi.

__ADS_1


Dor


Satu peluru mengenai tangan Edi dan membuat dirinya kehilangan senjata nya. Dengan cepat Raka melumpuhkan Edi, tapi bukan Edi bila tak bisa licik. Dia mengambil senjata itu dengan kaki nya dan akan menembak dengan tangan kiri. Seketika ayah mengarahkan pistol ke dada Edi.


Dor.


Mulut Edi mengeluarkan darah. Tubuhnya tumbang.


"Bawa dia ke rumah sakit. Terlalu cepat untuk nya mati. Aku ingin dia mempertanggung jawabkan perbuatan nya kepada yang berhak menerima maaf dari nya"


.


Dor


Seorang sniper berhasil menembak kaki Bakri membuatnya jatuh berlutut. Komandan menyuruh bawahannya untuk membekuk nya dan mengantarkan nya ke rumah sakit.


Komandan menyusuri ruangan dan melihat Edi sudah dengan luka tembak di tangan dan dada nya.


Mayor Indra kembali ke ruangan yang digunakan untuk Salma dan Anin disekap.


Tristan baku hantam dengan Akbar. Tak semudah yang dibayangkan Tristan mengalahkan Akbar. Dia terlalu kuat untuk ditumbangkan.


Akbar mencoba mendekati pistolnya. Dan saat sudah dapat dia menendang Tristan dengan keras mengakibatkan Tristan terjerembab dan memegang dadanya.


"Awas!" ucap Tristan dengan keras.


Dor


Bagas yang merasa mimpinya menjadi nyata saat Tristan berteriak membuatnya blank. Dia sadar saat Anin sudah memeluknya dengan peluru yang tertancap di punggung.


Mayor Indra dengan segera menembakkan pelurunya dari jarak jauh dan mengenai kepala Akbar. Akbar dipastikan meninggal di tempat kejadian. Di sisa nafasnya dia bilang.


"Tolong jaga anak dan istriku" dengan terbata-bata dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Yank, sayank, bangun. Anin. Gadis bodoh. Kenapa kamu menyelamatkan mas?" tanya Bagas yang sedang memangku tubuh Anin sambil berurai air mata.


"Gas, cepat bawa Anin ke rumah sakit" perintan Mayor.


Tubuh Bagas bergetar hebat. Dia tak sanggup membawa kekasih nya. Mayor yang melihat keadaan itu dengan cepat membawa Anin menuju ambulance melewati semua orang disana. Raka yang melihat itu mengecek keadaan.


Dia melihat sahabatnya menangis. Dengan cepat dia menghampiri sahabatnya.


"Mimpi gue kenapa menjadi kenyataan mbel? Anin gue mbel, hiks huhuhu" ucap Bagas yang sudah tak kuasa menahan tangisnya.


Baru kali ini Raka melihat sahabatnya benar-benar menangis. Dia hanya menepuk bahu Bagas dan membantunya keluar dari ruangan itu diikuti Tristan.


.

__ADS_1


Rumah Sakit.


Pasien luka tembak satu persatu dibawa ke rumah sakit TNI membuat Sani dan yang lainnya sibuk bukan main.


"Ya Allah, berapa banyak lagi jumlah korbannya??" pekik Sani yang melihat IGD sangat kacau.


"Dokter Sani, 2 pasien dengan luka tembak daerah dada dan punggung. Satu laki-laki usia sekitar 60 tahun dan satu perempuan usia sekitar 25 tahun. Saturasi oksigen mereka menurun drastis ke angka 70" jelas perawat kepada dokter Sani.


Mata Sani terbelalak melihat pasien yang dikatakan perawat itu. "Astaghfirullah Anin! Sus, tolong lakukan rontgen untuk keduannya. Apakah dokter Gani sudah selesai melakukan operasi?"


"Baru saja selesai dok"


"Oke, ganti cairan mereka dengan NaCl, tingkatkan pemberian oksigen, pantau tekanan darahnya, transfusi darah siapkan sekarang cepat!"


"Yang perempuan golongan darahnya A, kita kehabisan stok darah golongan A dok"


Sani tampak berpikir. Seorang perawat laki-laki menghampirinya.


"Golongan darah saya juga A dok, silahkan ambil untuk sahabat saya" ucap perawat laki-laki itu. Adit. Penolong darah untuk Anin.


"Cepat ambil darahnya dan segera transfusikan ke korban. Aku akan melihat hasil rontgen terlebih dahulu" Sani melihat hasil rontgen kedua nya. Sani bingung harus menyelamatkan yang mana dahulu. Dia mondar-mandir dan berpikir.


"Dokter Gani!" panggil Sani


"Iya dok, ada yang bisa saya bantu?"


"Bantu saya mengeluarkan peluru pasien ku"


Gani melihat hasil rontgen nya. "Mana bisa saya dok, saya bedah umum. Ini peluru sama-sama dekat jantung. Bagaimana kalau saya gagal?"


"Please, hanya mengeluarkan peluru nya saja. Selebihnya biar aku yang bertanggung jawab" pinta Sani memelas.


"Haduhhh, kenapa hari ini aku yang harus jaga sih! Baiklah, tapi cepat tangani pasien mu dulu, setelah itu bantu aku" ucap Gani pasrah.


"Oh syukurlah, terima kasih dokter. Aku berhutang padamu. Aku akan segera menyelesaikan dengan cepat pasien ku. Bawa korban laki-laki ini ke ruang operasi. Aku akan bersiap!" perintah Sani kepada perawat yang ada disana.


Sani mulai mempersiapkan diri. Sani sudah berada di ruang operasi.


"Sebelum kita memulai operasi ini, mari kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing mulai" Sani memimpin doa. Hening seketika terjadi.


"Selesai, laporkan padaku tanda vital pasien. Kita mulai. Pisau bedah" Sani mulai mengoperasi Edi.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut nanti lagi ya, author beberes dulu gengs. 😘😘😘😘😘


__ADS_2