Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 160


__ADS_3

Anin mulai menyanyikan lagu kedua, sampe tuwek dari Denny Caknan. Bagas sudah kembali ke meja nya bersama Tristan dan Tari.


"Dari mana Gas?" tanya Tristan.


"Tris, bantuin gue" jawab Bagas.


"Ditanya apa jawabnya apa. Bantuin apaan?" tanya Tristan.


"Sssttt, bisa gak sih diam. Anin lagi nyanyi tuuuh" timpal Tari melihat keduanya ngobrol sendiri.


"Di luar sana ada temennya Anin yang sepuskesmas sama dia. Dia mau ngelamar Anin. Bisa rusak rencana gue. Bantuin gue kalau dia datang halangi dia. Pokoknya buat dia gak bisa ngerusak momen gue ngelamar Anin" jelas Bagas.


"Lo seriusan mau ngelamar Anin? Disini? Di keramaian begini? Sumpah Gas, bukan gaya lo banget. Terus orangnya yang mana?"


"Gue juga gak tau Tris orangnya, pokoknya nanti lo lihat sekeliling, sekiranya dia mau maju langsung lo alihkan perhatiaanya biar gak bisa mendekati Anin. Oke?"


"Wani piro?"


"Ya Allah Tris, sama adek sepupu sendiri juga"


"Hmm, kalau gini ngaku adek sepupu. Dulu aja gue lo bully. Iya-iya gue bantuin"


"Oke sip, makasih. Eh Ri, gue pinjem bunga yang ada di sanggul lo doooongg" pinta Bagas kepada Tari.


"Ennaaaakkk aja. Noh di panggung banyak kembang, ambil gih" sahut Tari


"Yang dipanggung tuh gak ada kembang mawarnya Ri, nah mumpung di belakang kepala lo lagi mekar tuh kembang makanya gue pinjem. Nanti gue balikin lagi deh" pinta Bagas dengan cengengesan.


Tari mengambil bunga mawar merah yang ada di belakang sanggulnya. "Nih ambil, demi sahabat gue ikhlas gue. Awas aja sampe gagal ngelamar nih sandal gue melayang ke kepala lo mas!"


"Iya-iya, doain aja sih" Bagas segera menghampiri penata sound sistem meminta mic.


Anin telah menyelesaikan lagunya. Saat ia ingin turun langkahnya terhenti. Dia melihat Bagas sambil memegangi mic dan menyanyikan potongan lagu melamarmu milik Badai Romantic Project.


"Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Kuingin melamarmu"


Anin sampai menutup mulutnya yang menganga. Dia menahan air mata nya agar tak jatuh karena haru bahagia.


"Mohon maaf semuanya, mengganggu waktunya sebentar. Hari ini saya Bagas Ardhitama ingin meminta restu kepada paman tunangan saya, bapak Ade Wijaya. Dengan kesungguhan hati saya, bolehkah saya meminang keponakan bapak untuk diri saya sendiri? Jika dulu yang meminta adalah orang tua saya, tapi karena kebodohan saya, saya menyia-nyiakannya. Takdir mempertemukan kami kembali. Dan hari ini, saya ingin meminta restu kepada Bapak Ade. Apakah saya diterima untuk meminang Anindya Wijaya?" tanya Bagas di atas panggung sambil melihat arah paman Anin sekeluarga.


Seorang panitia WO memberikan mic kepada paman Anin. Paman Anin menerima mic itu dan berdiri.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk selalu membahagiakannya, maka akan paman restui kalian" jawab pak Ade dengan tenang.


Riuh tepuk tangan tamu undangan yang hadir membuat jantung Bagas semakin berdebar tak beraturan.


"Terima kasih pak Ade, sekarang saya akan tanya kepada pujaan hati saya. Anindya Wijaya, apakah kamu mau menjadi istriku? Menjadi pelengkap tulang rusuk ku? Menjadi ibu dari anak-anak ku?" tanya Bagas.


Anin akhirnya menitikkan air matanya. Air mata bahagia karena tak menyangka Bagas akan melakukan lamaran di depan semua orang.


"Aku mau" jawabnya singkat dan memeluk Bagas.


Bagas mendekapnya erat. Riuh tepukan dan siulan dari beberapa tamu undangan tak mereka hiraukan. Mereka tetap berpelukan.


Dokter Bimo tak terima dengan rencana Bagas yang menipu dirinya. Dia merasa dicurangi. Dia hendak maju ke panggung tapi dicegah oleh Tristan.


"Maaf, momen nya lagi romantis. Jangan dirusak" ucap Tristan kepada dokter Bimo.


Dokter Bimo berbalik dan Tristan lengah. Dan saat itulah dokter Bimo berhasil naik ke panggung.


Anin dan Bagas melepaskan pelukannya. Dilihatnya dokter Bimo yang menahan amarah.


"Dokter?" sapa Anin.


"Dia curang Nin, dia menipuku, menyuruh anak buahnya untuk berpura-pura pingsan agar aku tak bisa melamarmu! Dasar bajingan!" ucap dokter Bimo kasar hendak meninju Bagas


"Eits, tenang bro. Lo denger jawaban dari Anin kan? Dia nerima gue. Jadi daripada lo buang tenaga mending pergi sebelum malu"


"Gue gak terima!"


Seketika harga diri dokter Bimo runtuh. Hatinya sakit dan hancur. Dia segera berlalu dari panggung. Meninggalkan resepsi yabg belum usai.


Riuh tepukan kembali menggema. Bagas memberikan bunga mawar dan menyematkan cincin di jari manis Anin. Semua terharu menyaksikan lamaran Bagas. Ayah dan ibu yang ada di panggung memberikan acungan jempol bagi Bagas dan Anin. Mereka segera turun dari panggung. Alvin cs mengambil alih acara kembali.


"Waw, sungguh lamaran yang romantis ya Nin. Akhirnya Nin, lo laku juga. Gue kira lo gak laku. Hahahaha" ejek Alvin sepeninggalan Anin.


"Oke kita lanjutkan kembali dengan tembang Melamarmu ya, karena tadi mas Bagas hanya menyanyikan sepotong, maka saya akan menyanyikan semuanya. Saweran jangan lupa ya, hahay"


Musik dimulai dan Alvin segera bernyanyi. Sinta yang kebetulan bisa ikut melihat kehancuran dokter Bimo. Dia mengikuti dokter Bimo keluar dan mengejar dokter Bimo.


Bimo masuk ke dalam mobil hendak meninggalkan hotel. Sinta masuk begitu saja membuat Bimo heran.


"Ngapain, gue lagi pengen sendiri" ucap Bimo kasar.


"Nebeng pulang" jawab Sinta


"Gak denger gue bilang gue lagi pengen sendiri?"


"Tapi aku pengen nemenin kamu. Bisa tolong lajukan mobilnya?"


Bimo mengatur emosinya dan melajukan mobilnya meninggalkan hotel.


"Kamu kenapa nekat sekali ingin melamar Anin? Jelas sudah aku katakan dulu waktu banjir, dia itu tunangannya Anin. Apa masih kurang percaya?" ucap Sinta memecah keheningan. Bimo menepikan mobilnya.


"Turun! Aku bilang turun!" ucap Bimo kasar.

__ADS_1


"Waaah, lelaki macam apa yang menurunkan wanita di pinggir jalan?"


"Gak peduli, turun!"


"Gak mau! Aku maunya disini sama kamu!"


"Jangan salahkan aku kalau aku bisa berbuat hina kepada mu!"


"Kamu gak bakalan berani, kamu mau seragam mu dilepas?"


"Apa mau mu?" tanya Bimo datar.


"Lupakan Anin, dan buka hatimu untuk yang lain" jawab Sinta.


"Yang lain atau kamu?" tanya Bimo membuat Sinta menoleh padanya.


"Kamu mengetahui aku punya rasa sama kamu?" jawab Sinta lagi.


"Hanya orang bodoh yang tidak tahu. Aku ingin menguji mu" balas Bimo.


"Apa?" Sinta bingung dengan pernyataan Bimo.


Bimo mengubah sandaran kursi yang ditempati Sinta sedikit turun. Bimo memberanikan diri untuk beralih posisi di atas tubuh Sinta. Bimo mencium bibir Sinta. Sinta kaget. Takut. Tapi dia juga memiliki hasrat.


Sinta membalas ciuman itu. Ciuman yabg tadinya lembut sekarang menjadi ciuman yang panas. Mereka saling ******* bibir satu sama lain. Menautkan lidah hingga hampir kehabisan oksigen.


Nafsu Bimo semakin memuncak, dia menurunkan ciumannya ke arah tengkuk leher Sinta. Membuat Sinta melenguh karena nikmat.


"Aaahh, aaahhh dokter cukup. Nikah....i dulu... akuu.... aaahh"


Bimo tak menjawab Sinta. Dirinya semakin menurunkan ciumannya. Sampai pada gundukan sintal milik Sinta. Dia membuka kancing baju Sinta. Sinta menolak tapi ditepis oleh Bimo.


Sinta semakin berhasrat. Dia kembali melenguh karena nikmat. Bimo meninggalkan kissmark pada gundukan itu.


"Aaaahhh, dokteeeeerrr, cukuuuuppp. Akuuuu...." ucapan Sinta terpotong.


Bimo mengakhiri aktivitasnya itu. Dia keluar dari mobil meninggalkan Sinta. Sinta segera merapikan penampilannya.


.


.


.


Like


Komen


Vote


Tip


Waaahhh, dokter Bimo bahayaaaaa, untung gak kelepasan ya. 😂😂😅😅

__ADS_1


__ADS_2