
Semarang
"Yah, akhir akhir ini ayah sibuk sekali. Ada apa sih yah?" Ibu mendekati Ayah yang sedang membuka berkas berkas lamanya.
"Hmmm, duduk lah bu, ayah ingin bercerita." Ayah menutup berkasnya.
Ibu mengikuti keinginan Ayah. Ibu duduk di depan Ayah.
"Ada apa sih? Jangan bikin ibu khawatir deh Yah"
"Tenanglah dulu, Ibu masih ingat dengan sahabat sekaligus musuh ayah? Edi Sumantri?" Ayah mencoba mengingatkan ibu terhadap orang itu
"Mmmm, bukankah itu yang ayah bilang dia menjadi buronan karena kasus pemalsuan ijin peredaran senjata?"
"Iya, dan sepertinya dia sudah kembali bu. Dia mengincar seseorang" ucap ayah membuat ibu takut.
"Benarkah? siapa incarannya saat ini?"
"Anin" jawab Ayah membuat ibu terkaget lagi.
"Kenapa Anin yah? Apakah ini ada kaitannya dengan Andi?"
__ADS_1
Ayah mengangguk
"Dia mengincar sesuatu yang dimiliki Anin. Kalo sampai dia mendapatkannya akan semakin sulit mengukung dia Bu. Sudah cukup dia hidup bebas sedangkan sahabatnya tega dia bunuh" Ayah mengepalkan tangannya
"Ayah, gak baik nuduh seperti itu. Andi dan istrinya kan meninggal karena kecelakaan? Dan polisi saat itu juga mengatakan bahwa rem nya blong. Jadi ayah tak boleh menuduhnya seperti itu"
"Ayah tak percaya bu. Lihat saja saat ini dia masih bebas berkeliaran bukan hal yang mustahil dulu dia menyuap orang untuk tutup mulut"
"Ayah tenang, sekarang tugas kita melindungi Anin. Jika ayah gegabah bisa bisa keselamatan Anin dan kita terancam. Ingat ya yah, jangan membuat Anin ketakutan!"
"Iya iya bu, lihat saja nanti Edi, kau tidak akan bisa bebas lagi"
"Aamiin. Ya sudah. Istirahat saja dulu yah. Jangan sampai ayah yang sakit!" Ibu mengingatkan Ayah akan kondisinya saat ini yang sudah tak muda lagi.
Ibu mengangguk.
.
Kalimantan
Salma mengantarkan Anin dan Tari ke bandara. Mereka tetap diawasi oleh pak jenggot.
__ADS_1
"Sal, makasih banyak ya" Anin mendadak haru dan memeluk Salma. Tari pun memeluk keduanya
"Iya, apaan sih. Jangan sedih dong. Nanti kalo lo lolos kan kita ketemu lagi"
"Iya, yaudah kita pamit ya Sal. Jaga diri lo disini"
"Iya Sal, hati hati disini. Lo kan sendirian. Jaga diri baik baik ya" Tari sudah menitikkan air mata.
"Ini kenapa malah drama drama an sih. Udah sana masuk. Nanti kalo kelamaan disini gue ikut mewek" ucap Salma
"Kita pamit ya, Assalamualaikum" Ucap Anin
"Waalaikum salam. Hati hati, jangan lupa titipan gue buat ayah dan ibu"
Anin dan Tari melambaikan tangan dan masuk ke dalam bandara. Salma membalas lambaian tangan mereka.
"Hah, semoga lo selalu dilindungi Allah Nin. Bahaya besar sedang mengincarmu" ucap Salma kepada dirinya sendiri.
Pak jenggot yang berdiri di belakang Salma membuat Salma terperanjat saat Salma berbalik.
"Astaghfirullah, bapak ngagetin saya aja sih. Gimana udah ada kabar kelanjutannya belum"
__ADS_1
"Sudah, ini menarik. Sepertinya orang yang bernama Edi itu sudah waktunya untuk merasakan dinginnya dinding penjara. Bukan sebuah kejahatan sepele. Tapi kejahatan besar, dan bisa saja nanti kemungkinannya pacar kalian akan terlibat dalam perburuan ini" Pak jenggot tersenyum menyeringai.
"Kejahatan besar? Perburuan? Apa yang sebenarnya terjadi pak. Jangan main teka teki sama saya, saya paling benci itu" Salma bingung dengan ucapan pak jenggot.