Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 90


__ADS_3

Hari terakhir pengintaian pun tiba. 2 minggu kawanan itu belum mendapatkan target incaran mereka. Mereka berpikir apakah sudah di tangkap terlebih dahulu oleh pihak laut? Tapi mengapa tak ada kabar? Itulah pertanyaan yang sering menghantui mereka.


"Hari ini adalah hari terakhir, harus dapat targetnya!" ucap Bagas.


"Kau yakin? Bagaimana kalau memang tidak muncul?" sergah Raka mematahkan harapan Bagas.


"Masih ada waktu 20 jam lagi, dan kita masih ada peluang untuk mengetahui pelakunya"


"Aku setuju dengan ucapan Kapten" dukung yang lainnya.


Mereka mulai diam dan mengintai kembali. Benar ucapan Bagas. Malam itu ada kapal yang datang. Kapal kali ini lebih besar dari yang kemarin. Kotak ikan mulai diturunkan dari kapal tersebut.


Oh ayolah, keluarlah! Aku malu jika misi kali ini gagal. Tunjukkan dirimu!


Seorang paruh baya agak gemuk keluar dari kapal itu. Orang itu merapikan pakaiannya. Dia melenggang penuh percaya diri.


Orang itu? Om Edi? Apa ini? Apakah dia otak dibalik ini semua? Oke kita akan tahu nanti.


"Semua tim siaga. Siapkan senapan bius kalian. Isi senapan kalian hanya 3 bius, jadi gunakan dengan baik dan tepat sasaran! Lakukan!" ucap Bagas dengan lirih tapi terkesan tegas.


cuuus. Tembakan senapan tepat sasaran. Panda 1 dan 2 serta Paus melumpuhkan orang-orang itu. Edi yang mengetahui mereka dijebak hendak melarikan diri berbalik ke arah kapal. Tapi langkahnya dicegah oleh Raka. Dia menembak kaki Edi yang membuatnya mengerang kesakitan dan mencoba berdiri dengan tertatih.


Dengan segera Bagas menembakkan bius nya dan membuat Edi pingsang. Ada satu orang yang berhasil lolos. Raka mengamankan Edi dan yang lainnya, sedangkan Bagas disusul Paus mengejar orang yang berhasil lolos tadi.


"Bos diserang! Cepat kirim bantuan!" ucap pria itu.

__ADS_1


Tak lama ada 3 orang datang membantu. Terjadi baku tembak dan baku hantam. 2 orang menyerang Bagas, karena tidak mengetahui kedatangan orang lainnya Bagas sempat terkena pisau di lengannya. Darah mengucur deras. Bagas agak kewalahan diserang oleh 3 orang sekaligus.


Raka melihat Bagas yang terluka dan kewalahan membantunya. Dengan segera dia menembak mati orang itu. Satu orang berhasil melarikan diri. Raka hendak mengejar orang itu tetapi ditahan oleh Bagas.


"Biarkan saja, dia tak akan bertahan dengan luka tembak di dada. Periksa rumah itu. Bawa semua bukti. Pasukan Satgas akan membantu kita" Bagas meringis menahan perih di lengannya.


"Kau tak apa? Lukamu cukup parah" Raka memastikan keadaan Bagas.


Bagas mengangguk. "Lakukan lah dengan cepat!"


Raka meninggalkan Bagas yang meringis kesakitan. Dia masuk ke dalam rumah itu.


"Wow, apa ini? Rumah? Sungguh rumah? Bukankah ini hanya kamuflase?" ucap Raka sambil memperhatikan keadaan rumah itu. Tak ada barang bukti yang didapat dari rumah itu.


"Cih, lawan ku perempuan? Panggilkan saja kawanan mu, aku tak mau melawan mu!"


"Sombong! Kau terlalu meremehkan kemampuanku!"


Mulai lah baku hantam antara keduanya. Saling pukul, saling tendang. Raka sedikit kewalahan dengan serangan yang diberikan Mia. Raka meringis kesakitan. Kesempatan bagi Mia untuk kabur. Mia meninggalkan Raka dan kabur lewat pintu rahasia. Bagas yang mengetahui Raka kalah hendak membantunya. Tapi terlambat. Dia kehilangan Mia.


"Ah sial! Kenapa bisa lepas sih!" ucap Bagas kesal.


"Maaf, dia menendang ******** ku. Sakit sekali ini!"


"Ha? Jangan-jangan hancur punya mu Mbel!"

__ADS_1


"Sembarangan! Saat seperti ini masih saja bercanda. Kau tak bisa mencari pintu rahasia nya? Pintu itu ada di lantai. Carilah tombolnya" pinta Raka


Bagas mencari cari tombol yang ada. Ada sebuah saklar yang menempel di dinding. Entah mengapa Bagas penasaran dengan saklar itu. Dia memencetnya dan terbuka. Ada sebuah pintu yang membelah lantai rumah itu. Raka dan Bagas bergegas menuruni pintu itu.


"Woooowww, amazing!" pekik Bagas senang.


"Gudangnya disini ternyata. Lihat lah, ada rel kereta disini. Ini pasti menembus ke sebuah lorong dan berakhir di suatu tempat" tambahnya.


Raka melihat sekeliling. Ada suara dari atas.


"Kapt, apakah kau tak apa?" ucap Paus.


Raka dan Bagas yang hendak menyelidiki di bawah mengurungkan niatnya dan kembali ke atas. Di atas ternyata sudah ada komandan nya. Mereka memberi hormat. Pasukan Satgas membantu Bagas dan tim nya membawa tawanan dan barang bukti.


"Kalian memang bisa diandalkan! Cuti akan segera tiba! Persiapkan diri kalian untuk berkumpul dengan orang yang kalian sayang!"


"Wohooo, Siap terima kasih Ndan!" Bagas dan tim nya memberi hormat pada komandannya.


.


.


.


Hai readers, makasih masih setia mengikuti cerita Anin dan Bagas. Kalian mau nya Tari sama Tristan? Hahaha, kalo Tari sendiri aja gimana? Mana suaranya?? komen komen komen

__ADS_1


__ADS_2