
Anin diantar oleh Tari pulang ke rumahnya. Dia menuju gudang. Mencari baramg yang ditujunya.
"Ri, pegangin kursinya ya. Gue mau maik"
"Hati hati"
"Iya bawel ah" Anin menaiki kursi tersebut dan menggapai boneka yang telah lama dia simpan.
"Dapat!" Anin turun dari kursinya.
"Boneka usang buat siapa sih Nin?" Tari yang memang tidak tahu bertanya pada Anin.
"Buat calon anak gue ntar!" Anin berlalu meninggalkan Tari.
"Gila lo, masih lama keles!" Tari tak percaya dengan alasan Anin.
"Ya kan dibersihin dulu, udah deh, gak usah keppo!"
"Tu kan, gue curiga nih, pasti ada hubungannya dengan penguntit kemarin!"
"Gak, gak ada! Ini kan pemberian almarhum ayah gue Ri, makanya mau gue bersihin gue simpen di kamar biar selalu inget sama orang tua gue. Gitu lho"
Tari hanya mengangguk dan tak memperdebatkannya lagi.
"Eh, malam ini kita tidur disini kan? Gak enak gue sama calon mertua lo"
Anin menoleh "gak enak kenapa?"
"Ya berasa sungkan lah Nin, secara gue kalo makan kadang bebas mau di depan tv kaki gue angkat. Itu dirumah camer lo gue ngerasa gak bebas. Huaaa. Please tidur dirumah lo aja yaaaa?" Tari mengatupkan kedua telapak tangannya memohon kepada Anin
"Iya, nanti gue bilang sama ayah dulu deh" ucap Anin yang menepuk nepuk bonekanya supaya debu nya hilang.
klotak
Ada sesuatu yang jatuh dari boneka itu. Flasdisk yang berukuran mini. Tari yang melihat benda itu hendak meraihnya tapi dicegah oleh Anin.
__ADS_1
"Kenapa? Ada apa? jangan bikin gue jadi orang bodoh dong Nin. Lo gak mau cerita lagi ke gue?" cerocos Tari
"Bukan gak mau Ri, tapi gimana ya?" Anin menarik kuping Tari dan membisikkan sesuatu. Tari hendak teriak tapi ditutup mulutnya oleh tangannya sendiri.
"Mmm, lo nanti malam mau gak ikut gue ketemu Angga, kan gue kangen sama dia. Temenin ya?" Tari mencoba mengalihkan pembicaraan
"Boleh kangen juga beberapa minggu ini kita gak pernah nongki di kafe lagi. Siap siap yok!" Anin segera menyembunyikan flashdisk itu bersama dengan kalungnya.
.
.
.
"Rumah lo beneran disadap? Bahaya dong. Siapa sih sebenernya yang coba jahatin lo!" Tari Anin dan Angga sudah di dalam ruangan Angga.
"Gue gak tau disadap atau gak, karena tadi malam gue nonton film yang ada sadap menyadap nya gitu. Kata ayah dia itu penjahat kelas kakap lah intinya. Dulu sahabatan sama ayah dan almarhum ayah gue"
"Terus langkah lo selanjutnya apa Nin?" Angga bertanya kepada Anin
"Gini aja Nin, barang yang asli tetap lo bawa. Yang copian kita yang simpen. Setidaknya mereka tidak akan curiga ke kami. Pasti yang jadi incaran adalah kamu dan ayah Bagas" Angga mencoba memberikan usulan
"Nah, gitu lebih masuk akal Nin. Biar kalo mereka berhasil ngilangin bukti dari lo ataupun Ayah mereka setidaknya berhenti ganggu lo. Bener gak A'?"
"Iya gue setuju sama Neng"
Anin berpikir dan mengangguk
"Oke, laksanakan!"
Angga dengan cekatan mengcopi file dari 2 penyimpan data itu. Tari juga melakukan hal yang sama. Setelah selesai Anin memasukkan barangnya kembali dan menyimpannya dalam tas.
"Oke, sekarang pikirin kita mau latihan beladiri dimana?" Anin mengingatkan akan pesan Salma.
"Kalian mau latihan beladiri? Gue aja yang latih, gimana?" Angga menawarkan bantuan
__ADS_1
Anin dan Tari saling pandang.
"Emang Aa' bisa?"
"Neng gak tau kalo Aa' ini udah dapat sabuk hitam?"
"Beneran Bang? Gratis dong!" ucap Anin
"Bener lah, apa gue perlu naik haji dulu 7 kali biar kalian percaya? Emang dasar ya, kalo ada gratisan aja cepet!"
"Hahahah, Anin kan yatim piatu, kasihanilah anak malang ini"
"Malang darimana? Tabungan lo sama tabungan gue saldonya banyakan elo Anin" Tari tak terima dengan pernyataan Anin
"Wkwkwk, iya deh iya. Jadi mulai kapan berlatih?"
"Besok!"
"Besok? Cepet amat A'. Minggu depan aja deh. Neng masih capek"
"Gak bisa Neng, kita gak tau mereka bakalan nyerang kapan"
"Bener kata Bang Angga. oke besok" ucap Anin setuju.
Drrtttggg drrtttggg
Anin melihat layar di ponselnya. Hanya nomor tanpa nama kontak. Anin sedikit was was.
"Kenapa Nin?" Tari melihat layar di ponsel Anin. Tari menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeakernya.
Halo
.
.
__ADS_1
.