Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 161


__ADS_3

Bimo keluar dari mobil dan meninggalkan Sinta. Dia mencari air untuk mengguyur kepalanya yang panas.


Sedangkan Sinta merapikan bajunya. "Kamu membuatku takut Bimo"


Sinta menunggu Bimo di dalam mobil. Lama sekali Bimo meninggalkan Sinta. Hingga akhirnya Sinta mencarinya. Dia melihat Bimo sedang berdiri dan menendang kerikil-kerikil kecil.


"Ayo pulang" ucap Sinta lembut.


Bimo hanya menoleh dan tak menggubris ucapan Sinta.


Sinta merasa dirinya diacuhkan oleh Bimo, akhirnya dia kembali ke mobil Bimo dan mengambil tasnya.


Sinta meninggalkan Bimo dan kembali menggunakan taksi. Bimo kembali ke mobil dan tak mendapati Sinta disana.


"Kemana dia? Ya Allah, apa yang sudah ku lakukan padanya? Aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosi. Bagaimana jika tadi aku tak bisa mengontrol nafsu ku. Astaghfirullah" ucap Bimo menyesali perbuatannya.


Dia mencari kontak Sinta dan menghubunginya.


"Halo assalamualaikum" sapa Bimo


Waalaikum salam


"Kamu dimana? Kenapa mobilnya kosong?" tanya Bimo.


Aku pulang


"Kenapa tak menungguku?"


Kau sedang sulit diajak bicara


"Aku... aku.... aku ingin meminta maaf karena sikap ku tadi. Aku tak bermaksud....


Sudah lah dokter, aku tak ingin membahasnya


"Kau dimana? Ayo ku antar pulang"


Tak perlu, aku bisa pulang sendiri. Tenangkanlah dirimu dahulu. Dan berpikirlah dengan jernih. Jika salah satu cinta melukai hati mu maka cinta yang lain akan menyembuhkannya. Jangan menjadi orang yang picik, hanya karena ditolak lantas membuatmu hancur hingga merendahkan harga dirimu sendiri


"Kamu marah atas sikapku kepadamu"


Untuk apa marah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Udah dulu ya dok, assalamualaikum.


"Waalaikum salam"


Bimo menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata sebentar.


"Maaf Sinta" Kata itu keluar tapi tak mampu di dengar oleh orang yang harus menerimanya. Akhirnya Bimo melajukan mobilnya kembali ke rumah.


.


Anin merasa sangat bahagia dilamar Bagas seperti tadi. Dia menempel terus pada Bagas. Hingga jadi bahan lelucon untuk teman-temannya. Hingga resepsi sudah selesai dia masih menempel pada Bagas.


"Nempel terooooss kayak perangkooo" ejek Tari kepada Anin.


"Biarin! Sirik aja lo!" sahut Anin.


Salma dan Raka menghampiri mereka.


"Cieee, sukses ya kak. Gak sia-sia dong kemarin uring-uringan" ucap Salma


"Sukses dong, siapa duluuu" sahut Bagas


"Sombong amat!" sahut semuanya.


"Oohh, jadi kamu uring-uringan, gak doyan makan itu karena ini mas?"


Bagas mengangguk.

__ADS_1


"Ya Allahhh, terharu banget akuuuu. Makasih ya sayangg" ucap Anin


"Sama-sama. Mas juga seneng kok"


"Cieeeee" ucap semua kompak


"Udah sana yang pengantin baru, indehoi sana. Gak usah ngurusin mereka" potong Tristan.


"Kita pamit ke kamar dulu ya, pegel kaki nya dari tadi berdiri terus" ucap Raka.


"Sono sono, yang udah kagak nahaaaannn" jawab Tari


"Hahahaha" mereka semua tertawa.


Raka dan Salma meninggalkan mereka dan masuk ke kamar pengantin. Mereka membersihkan diri masing-masing dan setelah itu berbaring si ranjang yang sama.


Raka menghampiri Salma yang sudah menjadi istrinya itu. Mengecup keningnya, mencium tangan nya. Lalu duduk berdampingan di ranjang yang sama.


"Dek, terima kasih sudah mau menjadi pendamping hidup abang. Mari kita bangun rumah tangga bersama-sama, saling melengkapi bukan untuk saling unjuk diri, tegur abang jika memang abang salah dan sebaliknya"


"Sama-sama, akhirnya kita bisa bersatu setelah kemarin, abang tahu sendiri lah kakak gimana. Insyaallah adek akan jadi istri yang sholeha, tegur adek jika memang adek salah ya bang" jawab Salma.


"Abang boleh minta hak abang sekarang?" tanya Raka kembali.


Salma mengangguk mantap.


Raka menghujani wajah istrinya dengan ciuman. Ciuman yang hangat dan manis. Raka sekarang menguasai tubuh Salma. Dia mulai bernafsu. Kembali menghujani Salma dengan ciuman dan kembali rakus atas bibir Salma.


Raka mulai menurunkan ciumannya ke curuk leher Salma. Semakin turun ke gundukan sintal milik Salma. Bermain-main disana membuat Salma semakin berhasrat. Semakin lama semakin panas. Raka mulai mendorong inti nya untuk bersatu dengan milik Salma. Melakukan penyatuan tubuh yang sudah lazim nya pasangan halal lakukan.


"Deeekkk, agak sakit ya" ucap Raka di sela ciumannya kepada Salma.


"Aaah....., i....ya...." Salma menjawab di tengah lenguhannya.


Raka mulai mendorong dan menghentakkan miliknya membuat Salma mengerang kesakitan. Salma mencakar punggung Raka.


"Tunggu honey, sebentar lagi" Raka berhasil melakukan penyatuan, darah suci mengalir dari bawah sana.


Erangan kesakitan berubah menjadi lenguhan kenikmatan. Sampai akhirnya mereka sama-sama melakukan pelepasan.


"Abang... adek gak ta....haaannn"


"Sebentar lagi honey, kita.... keluarkan sama-sama" balas Raka


"Aaaaaaaaahhhhhh" erangan panjang dari mereka berdua akhirnya lolos juga.


Raka menarik miliknya dan berbaring di samping Salma. Menutupi tubuh polos mereka.


Raka mengecup puncak kepala Salma dan membawanya ke dalam pelukan.


"Terima kasih honey" ucap Raka.


"Sama-sama sayang" balas Salma.


Mereka akhirnya tidur sambil berpelukan.


.


Tari dan Tristan sudah pulang. Tinggal Anin dan Bagas yang sedang menikmati makanan mereka.


"Makasih ya mas ku sayaaaanng, udah berkorban menghilangkan urat malu nya demi akuuu" ucap Anin di sela-sela makannya.


"Sama-sama, mas akan mencoba melakukan apapun yang kamu minta yank. Terima kasih juga telah mau menerima dan memilih mas menjadi calon imam mu"


"Besok jadi kan ke Jakarta? Kita mau ngapain sih mas?"


"Jadi lah, nikah batalyon dulu yank. Nanti pulang ke Semarang ngurus berkas nikah agama. 1 hari bisa kok, udah disiapkan semua sama ayah"

__ADS_1


Anin menautkan alis. "Bukannya ayah dan ibu disini sejak penembakan itu? Kapan mereka ngurusnya?"


"Kamu kenal om Eri Sumantri? Adiknya ayah Edi Beliau yang menguruskan semua nya"


"Om Eri? Aku hanya kenal om Umang"


"Nanti kita ketemu. Akadnya hari Rabu, resepsi nya sebulan setelah ini ya, mas urus cuti lagi"


"Iya, aku nganut aja lah. Makasih udah mau memilihku mas"


"Sama-sama sayang"


Mereka saling melempar senyum.


"Mas, kamu tadi apain dokter Bimo?" tanya Anin penasaran.


"Gak tahu, anak-anak yang mas suruh ngerjain dia. Enak aja mau melamar kamu. Ya sudah tak kerjain balik aja"


"Hahaha, jahat kamu ih. Pantesan dia gak terima seperti itu. Tapi ada untungnya sih, aku bisa ngungkapin yang sebenarnya aku rasa ke dia. Biar dia juga gak ganggu terus"


Mereka mengakhiri makannya.


"Mau jalan-jalan?" tanya Bagas.


"Kemana?"


"Bukit"


"Ogah"


"Kok ogah?"


"Nanti kita berantem lagi kalau dari sana"


"Ya gak lah, kemarin kan memang mas masih bingung mengutarakan rasa hati mas. Sekarang udah plong yank. Ayolaaahh"


"Ih maksa banget sih. Gak ya gak"


"Ayolah sayang"


"Ke tempat lain aja lah"


"Kemana?"


"Mall"


"Mau beli apa?"


"Hanya jalan mas ku sayang"


"Oke lah cus kemon ganti baju"


Mereka kembali ke kamar masong-masing dan segera berganti pakaian. Dan segera jalan-jalan ke mall


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Happy new year semuaaaa. Maaf author up nya nanti malam lagi ya. Hari ini author harus memindahkan beberapa barang. Oke kakak?


__ADS_2