
Bagas masih tidak terima jika Tristan yang mengawasi Anin.
"Kenapa bukan yang lain sih? Kenapa harus Tristan? Itu bocah ayah tahu sendiri kan? Ceroboh! Lihat, Anin sampai diculik" Bagas masih beradu argumen dengan Ayahnya.
"Setidaknya kalau dengan Tristan, Anin bisa dijaga kemana-mana Tristan bisa nganterin. Lihat lah, dia yang berhasil menemukan lokasi Anin karena chip nya aktif"
"Astaghfirullah, iya yah, itu barang buktinya diambil pelakunya mungkin"
"Biarkan saja. Ayah sudah punya banyak. Tinggal cari saksi"
"Bukti apa? Ada apa sih?"
"Kamu daripada banyak tanya anterin Anin pulang. Suruh Tristan bawa Tari ke rumahnya. Kalau Anin disini bisa bahaya kamu!" ucap ibu memutus perdebatan ayah dan anak itu.
"Ibu nih, biarin disini kenapa sih?"
"Ora iso Gas, kowe ki bocah e selengekan. Wingi wae Anin mbok cium ning dapur nganti ora ngerti nek ono Ibu. Iyo opo iyo?" (Gak bisa Gas, kamu itu anaknya selengekan. Kemarin aja Anin kamu cium di dapur sampai gak tahu kalau ada ibu. Iya apa iya?)
"Yawes-yawes. Ayo yank, tak anter pulang" Bagas meraih kunci mobil ayahnya.
"Gue ikut! Mau benerin hp" Raka mengekor di belakang Bagas dan Anin. Anin segera berpamitan dengan kedua calon mertua nya.
.
"Lo mau benerin hp dimana Mbel?"
"Konter yang deket sini aja. Gue tahu kali lo mau berduaan. Nah tu di depan nanti berhenti"
"iiihhh apaan sih Bang, kalau berduaan nanti yang ketiga setan!"
"Nah, gue dong Nin setannya!"
"Hahaha, situ yang ngerasa. Anin lupa kasih kabar. 10 hari yang lalu Angga meninggal dunia karena serangan jantung"
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un" ucap Raka dan Bagas bersamaan.
"Semoga khusnul khotimah" ucap Raka lagi
"Aamiin. Gue turunin sini. Nanti lo pulang sendiri aja" Bagas menepikan mobilnya. Raka segera keluar. Mobil melaju menuju rumah Anin. Bagas memutar jalan. Dia memilih jalan yang lebih jauh.
__ADS_1
"Lhoh mas kok ambil jalan ini sih. Nanti muternya kejauhan"
"Biarin. Mas kangen sama kamu. Maaf ya membuat mu dalam bahaya"
"Sebenernya itu bukan salah kamu mas, nanti kamu tanya sendiri sama Ayah ya"
Bagas mengubah mode mobilnya dalam mode otomatis.
"Mau ngapain?"
Bagas tak menjawab pertanyaan Anin. Dia meraih tengkuk Anin dan mengecup kening Anin. Turun ke wajah. Dan melum*t bibir Anin. Rindu. Itu yang mereka rasakan. Beberapa menit mereka saling bercium*n.
"Udah mas, fokus nyetir dulu"
"Haduhhhh, mana bisa fokus kalo kayak begini yank. Pengen lagiiii"
"Udah ih, kebiasaan nanti"
"Pengen cepet nikah aja deh, biar puas sama kamu"
"Apaan sih"
"Udah ah mas, jangan godain aku melulu. Kamu kembali kapan mas?"
"Besok yank"
"Cepet banget sih. Bulan depan tetep pulang kan?"
"Emang kenapa? Kalau gak pulang minta cium nya dirapel? Boleh boleh"
"Itu sih maunya kamu mas!"
"Hahahah, eh Yank, Raka pernah cerita ke kamu gak soal pacarnya. Aneh banget itu anak. Kemarin tu telpon dengan perempuan. Suaranya kenal banget tapi mas gak tahu siapa itu"
Anin terlihat gelagapan. "Gak, aku gak tahu. Kan aku jarang kontakan sama Bang Raka"
"Ooowww, aku kira dia curhat gitu ke kamu"
"Aku telpon Tari dulu deh biar ke rumah"
__ADS_1
"Gak pengen berduaan dulu sama Mas?" Bagas menaik turunkan alisnya.
"Apa sih mas, kamu itu ya. Nakal deh, godain aku melulu"
"Hahaha, godain calon bini sendiri salah? Bilang sama Tari suruh sama Tristan. Mas mau ngomong sama dia"
Anin mengangguk dan melaksanakan perintah Bagas.
.
Apartemen
"Sepi. Kamu kenapa tega sih A' ninggalin aku. harusnya lusa hari pertunangan kita. Huhuhu hiks" Tari masih teringat akan Angga.
Drrtttggg Drrttrggg
Dia menoleh ke hp nya. Segera mengangkat telponnya.
"Halo Nin, ada apa? Gue di apartemen. Gak papa kok. Mmm, ya udah nanti gue kesana. Lo bilang sama Tristan sendiri deh. Gue takut kalo dia marah lagi. Hhmm, iya. Waalaikum salam"
Tari menutup telponnya. Dia segera bersiap. Dia hendak cuci muka tapi bel berbunyi.
Teng tong.
Dengan segera Tari membuka kan pintu. Tristan sudah berada di depan pintu apartemen nya.
"Aku disuruh nganterin kamu ke rumah Anin" Ucap Tristan sambil membuang muka. Dia masih teringat bibir nya mencium kening Tari. Itulah yang membuatnya salah tingkah.
Tari hanya mengangguk. "Masuk dulu, aku mau siap-siap dulu"
"Kamu habis nangis lagi ya?"
"Bisa gak, gak usah kepo? Tinggal duduk tunggu!"
Kenapa sekarang galakan dia sih? Gue gak bisa balas lagi. Ini gue kenapa sih? batin Tristan di dalam hati.
.
.
__ADS_1
.