
Hari ini tepat ulang tahun Anin. Dia memanjatkan doa untuk dirinya dan orang tuanya. Dia menunggu pujaan hati nya mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Dilirak lirik nya ponsel itu. Tak ada getar pesan atau telepon masuk.
"Masa iya lupa sih? Ah, sudahlah. Mungkin dia sedang dalam misi" Anin mencoba untuk berpositive thingking.
"Hmmm, oke. Mari kita mulai aktifitas hari iniii" katanya di depan cermin kamarnya. Senyum di bibirnya merekah bagai bunga yang mekar. Sumringah wajahnya menampakkan kebahagiaan. Anin membantu Tristan seperti biasa. Usaha Tristan semakin hari semakin banyak saja pembeli nya.
Tristan dan Anin kadang kewalahan untuk melayani pembeli. Tristan ingin menambah tenaga karyawab tapi Anin menyuruhnya untuk menunda dulu.
"Hai abang Tristaaan" sapa Anin yang penuh kebahagiaan.
"Hai juga Anin, senyam senyum kenapa nih? Bagas mau balik ya?"
"Hehehe, gak tau juga. Anin hari ini ulang tahun yang ke 26"
"Widiiihhh, kenapa gak bilang kemarin sih? kan abang bisa bikin kue kecil-kecil an"
"Jangan yang kecil dong, yang gede sekalian! Hahaha"
"Selamat ulang tahun ya Nin, semoga panjang umur, tambah sehat tambah cantik, semoga juga kebahagiaan berlimpah datang kepadamu. Aamiin"
"Aamiin makasih bang. Kita rayain yuk bertiga"
"Bertiga? siapa yang satu nya?"
"Tari. Seneng kan pasti? Hahah. Ketahuan tu mupeng alias muka pengen ketemu"
"Tari beneran balik nanti kesini?" Ucap Tristan sangat antusias.
"Iya, ini kan sabtu bang. Jadi dia ada waktu. Manfaatin bener-bener"
"Iya, mau kado apa? Abang belikan deh! Apapun! Tapi jangan yang mahal-mahal kan lagi merintis"
"Hahaha, gak usah. Cukup doa aja"
"Baiklah kalau kamu mau nya begitu. Mari kita bekerjaaa" ucap Tristan penuh semangat.
.
Jakarta.
Bagas dan tim nya kembali dari misi. Komandan langsung mengambil alih. Bagas dan tim nya memberi hormat dan dibalas oleh komandan.
__ADS_1
"Misi selesai, kalian akan diberikan waktu 3 hari untuk berkumpul dengan keluarga. Laksanakan"
"Siap! Laksanakan!" jawab Bagas dan anggotanya. Mereka segera berkemas kecuali Bagas. Dia terduduk lesu.
"Nyet, lo gak balik?" tanya Raka yang melihat sahabatnya dilema akhir-akhir ini.
"Bingung gue, aaakkkhhhh sumpah mimpi itu selalu mengganggu ku!"
"Jawaban istikharoh lo gimana? Mending pulang. Bukannya hari ini Anin ulang tahun?"
"Ulang tahun?"
"Lo gimana sih nyet, tunangan sendiri ulang tahun kok sampai gak tahu. Pulang, beri hadiah buat dia. Kasih kejutan. Mimpi hanya bunga tidur. Inget itu" Raka yang sudah siap menenteng ransel nya dan menepuk bahu sahabatnya.
"Gue duluan. Jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja dulu. Jika memang nanti takdirnya harus berpisah ya akan pisah. Tapi jika takdir nya bersatu mau dipisah seperti apapun akan tetap kembali bersatu. Gue balik dulu. Telepon gue kalo lo butuh teman cerita" Raka dan lainnya meninggalkan Bagas sendiri di dalam barak.
Bagas membersihkan dirinya terlebih dahulu. Selesai mandi, dia berkemas dan meninggalkan barak. Dia mulai meninggalkan batalyon dan mampir ke sebuah mall di Jakarta. Dia berkeliling untuk mencari hadiah untuk Anin. Dia menuju sebuah toko jam tangan. Dilihat nya jam berwarna hitam, terkesan elegan. Bagas menyuruh karyawan toko itu untuk segera mambungkusnya.
"Mau dikasih ucapan pak?" tanya karyawan toko itu.
"Gak usah mbak, jadi berapa semua nya?"
"Dua juta empat ratus sembilan puluh ribu rupiah"
"Ini barangnya pak, semoga pacarnya suka ya pak" ucap karyawan toko itu.
Bagas hanya tersenyum dan meninggalkan toko itu. Bagas melanjutkan perjalanan nya kembali menuju bandara.
Bagas mengetik pesan kepada Anin.
Yank, mas pulang. Nanti malam ketemuan di kafe x ya..
Aku yakin ini adalah yang terbaik. Bagas bergumam dalam hati.
.
Anin yang menerima pesan itu segera membuka ponsel dan membaca pesan yang diterima nya. Ada dua pesan. Satu dari Bagas dan satu lagi dari BKD Kalimantan. Dia sampai menganga membaca pesan itu.
"Abaaaannnggg, Anin seneng banget pokoknya hari ini, dapat pesan dari BKD katanya Anin besok senin harus sudah di Kalimantan untuk orientasi. Mas Bagas juga mau pulang. Ngajak ketemuan di kafe x. Nanti kita kumpulnya disana aja ya. Anin yang traktir!"
"Siap bos! Sambil menyelam minum air, apalagi dikasih sirup sama nata de coco enaaakkkk, hahaha"
__ADS_1
"Gak sabar ketemu Tari ya? Cie yang udah cinta mati sama Tari. Kalau begitu patungan! Kan sama-sama diuntungkan!"
"Enak aja! Yang ulang tahun kan kamu, aku kan cuma ikut nimbrung. Hahaha"
"Dasar pelitt!"
"Bukan pelit tapi perhitungan"
"Sama aja! Nanti tutup awal ya! Kan aku nya mau dandan"
"Iya-iya, berarti gak usah buat adonan lagi. Habiskan ini saja terus kita tutup pulang. Kamu berangkat ke kafe x gimana?"
"Iya ya, dia gak nawari dijemput apa gak ih bang"
"Ya udah, abang jemput aja kalo gitu. Jangan lupa kabari Tari!"
"Iya-iya bawel ih"
.
Malam pun menjelang, Anin dan Tristan sudah berada di kafe x. Tari masih dalam perjalanan karena pesawat yang ditumpanginya mengalami keterlambatan. Bagas sudah sampai dengan membawa kue tart kecil. Dia berjalan ke meja Anin dan Tristan.
"Barakallah fii umrik Anindya wijaya, maaf ya mas telat ngucapinnya" Ucap Bagas yang membawa kue itu. "Tiup lilin nya, berdoa dulu" tambahnya.
Anin memejamkan mata dan berdoa, setelah itu dia meniup lilinnya. Anin menitikkan air mata haru saat mendapatkan perlakuan istimewa dari Bagas.
"Gue ke toilet bentar ya. Kebelet dari tadi" Tristan pamit kepada pasangan itu. Anin masih senyum-senyum sendiri.
"Ini kado buat kamu, dipake ya. Nin mas mau ngomong serius sama kamu" Wajah Bagas berubah menjadi serius.
"Apa mas?"
"Mas pengen kita.... mas pengen....."
"Apa sih mas? Mas pengen kita apa?"
"Mas pengen kita.... putus" ucap Bagas dengan menahan sesak di rongga dadanya.
.
.
__ADS_1
.