Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 113


__ADS_3

"Ada apa?"


Tari memeluk sahabatnya itu. "Maafin gue, gue percaya sama lo. Mata lo yang bengkak, cincin yang gak ada di jari manis lo udah cukup buat bukti ke gue. Maafin gue karena egois dan gak ada di samping lo saat lo butuh gue. Maafin gue"


Anin membalas pelukan itu. "Makasih lo udah percaya sama gue. Besok lagi, gunakan hati saat pikiran lo lagi kacau. Oke? Gue berangkat dulu. Gue bisa ketinggalan pesawat kalau begini terus"


"Lo mau kemana?"


"Gue mau ke Kalimantan, tapi sengaja transit dulu ke Jakarta. Mau ke makam dulu. Udah ya gue pamit. Nanti kita ketemu lagi di Kalimantan" Anin tersenyum kepada Tari dan melenggang pergi serta melambaikan tangannya.


Tari kembali ke apartemen nya. Dilihatnya Tristan masih duduk di sofa itu.


"Udah ya ngambek nya? Udah percaya kan sama Anin? Abang gak pernah ada apa-apa sama dia" ucap Tristan meyakinkan Tari.


"Mas Bagas kenapa bisa minta putus sama Anin?"


"Gak tahu, katanya sih dia cuma jadikan Anin bahan permainannya. Dia ingin balas ke Nisa atau gimana, pokoknya karena Nisa sudah bersama orang lain maka itu dia sudah tidak butuh Anin"


"Sumpah, pengen aku tabok itu orang! Bisa-bisanya dia mainin Anin begitu! Huh!"


"Sudah, biarin aja si bajingan itu nyesel nantinya. Kamu balik ke Kalimantan kapan?"


"Hari ini, nanti jam 13.00 aku berangkat. Mungkin balik kesini lagi pas acara 40 hari nya Angga. Sekalian nanti pindahin barang-barang juga"


"Terus kita gimana?" tanya Tristan.


"Ya gak gimana-gimana, emang ada apa?" ucapan Tari membuat Tristan kecewa. Dia memilih diam.


"Tunggu aku, semoga perasaanmu terbalaskan. Dan semoga memang kamu jodohku. Jangan buat hati aku kecewa selama 2 bulan kedepan. Aku pun akan menjaga hati ku untuk mu" tambah Tari, Tristan tersenyum dengan ucapan Tari.


"Iya, nanti kalau mau berangkat kabari aku. Aku antar ke bandara"

__ADS_1


Tari mengangguk.


.


Bagas bangun agak siang dari biasanya. Dia sengaja tidak keluar kamar karena malas dengan pertanyaan yang akan menderanya. Dia mandi dengan begitu lama. Setelah mandi dia segera mambereskan barang-barangnya. Dia berencana untuk kembali ke kamp nya lebih cepat. Ibu yang baru saja kembali dari rumah Anin duduk lesu di ruang tamu ditemani ayah.


"Ayah buatkan teh mau?" ucap Ayah. Ibu menggeleng. Ibu bersandar pada sofa. Bagas keluar dari kamar nya dan menenteng ranselnya.


"Gas, duduk dulu. Ibu mau bicara" kata Ibu penuh tatapan kecewa kepada Bagas. Bagas pun menuruti keinginan ibu nya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu sadar atas tindakan kamu?"


"Sadar, Bagas sadar atas tindakan Bagas" ucapnya datar.


"Kamu yakin tidak akan menyesal?" ayah menimpali Bagas lagi dengan pertanyaan.


"Ya, Bagas yakin" ucapnya masih datar.


"Ayah, ibu, Bagas pamit kembali ke kamp" Bagas mencium tangan orang tuanya. Berharap orang tuanya mendoakannya tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut orang tuanya.


Flash back On


"Halo Raka, ibu ingin tanya, apa selama di kamp, Bagas kenal atau dekat dengan perempuan lain?"


Gak bu, kami sibuk misi, mana mungkin sempat berkenalan dengan wanita.


"Kamu tahu alasan Bagas putus dengan Anin? Mungkin dia cerita ke kamu"


Putus? Bagas beneran putus dengan Anin bu?


"Iya"

__ADS_1


Raka tidak tahu pastinya, tapi selama minggu ini Bagas selalu dihantui mimpi yang sama. Mimpi dimana Anin menyelamatkan nya. Apakah mungkin jawaban istikharoh dia itu bu?


"Ibu juga tidak tahu, ya sudah kalau begitu. Ibu titip Salma sama kamu ya. Tolong jangan buat dia sakit hati. Cukup Bagas yang buat ibu kecewa"


Insyaallah bu, coba nanti Raka ngomong ke Bagas bu


Flash back Off


.


Bandara Semarang


Anin sudah di dalam pesawat. Ini pertama kali nya dia pergi tanpa didampingi siapapun. Dia duduk di samping jendela dan melihat ke arah luar. Seseorang duduk di samping nya. Dia melihat orang yang duduk di sampingnya teesebut. Seorang laki-laki. Gagah, memakai jaket coklat dan sedang memperhatikan kotak yang dibawa nya.


Bagas. Ya, penumpang yang duduk di samping Anin adalah Bagas. Anin melihatnya di balik kacamata hitam nya. Bagas yang sedari tadi sibuk dengan dunia nya menoleh ke arah perempuan yang melihatnya. Kaget. Pasti nya. Mereka saling diam tak menyapa. Anin kembali melihat jendela.


"Kamu mau kemana?" tanya Bagas mencoba memecah keheningan. Anin hanya diam dan terus menatap jendela.


Kenapa bisa sebelahan sama dia sih? Atau jangan-jangan ucapan dia terkabul? batin Bagas di dalam hati. Dia mengingat kembali kata-kata Anin yang menyatakan bahwa jika omongan Bagas bohong maka dunia nya akan selalu dikelilingi oleh nya.


"Kenapa cincin dan jam nya dikembalikan?" tanya Bagas lagi. Anin hanya diam. Lalu Anin memakai head phone nya dan memakai sabuk pengamannya. Berharap Bagas akan diam dan tak mengganggu nya.


Pesawat sudah meninggalkan bandara Semarang menuju bandara Jakarta. Para pramugari mengecek penumpang nya satu per satu dan menawarkan minuman. Dengan sangat percaya diri Anin meminta minuman beralkohol. Bagas sampai melotot dibuatnya. Anin hendak meminum nya tapi dengan cepat diambil oleh Bagas dan dihabiskan nya. Anin tak habis pikir dengan sikap Bagas. Akhirnya Anin kembali menatap keluar jendela. Bagas memberikan air mineral nya untuk Anin.


Anin memejamkan matanya dan tertidur. Bagas melihat wajah Anin. Wajah yang selalu dia rindukan.


Maaf membuat mu hancur. Tapi aku lebih hancur ketika melihat mu terluka


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2