
Jakarta
3 hari telah berlalu. Bagas sudah kembali ke kamp setelah dia menyelesaikan urusannya dengan Anin. Raka dan yang lainnya juga sudah kembali. Hari ini mereka masih dibebas tugaskan.
"Pake ini!" Ucap Raka melempar sarung tangan tinju. "Duel sama gue sekarang!"
Bagas dan yang lain terkejut melihat Raka sangat kasar terhadap kapten mereka. Mereka menuju sasana latihan tinju.
"Raka kenapa bisa semarah itu sama kapten?" ucap Agus
"Entahlah, kita lihat siapa yang menang. Mau bertaruh?" jawab Hendi
"Aku pegang kapt" ucap Hendra kembali.
"Aku sama" ucap Agus
"Oke, aku pegang bang Raka" jawab Hendi.
Raka dan Bagas mulai saling tinju dan hajar. Bagas yang masih kurang fokus dengan mudah dihajar oleh Raka. Dan penentuan ronde terakhir Raka mengeluarkan semua tenaga nya untuk menghajar Bagas.
Bagas sudah kehabisan tenaga nya. Dia kalah telak oleh Raka.
"Sudah gue bilang, jangan menyakiti hati Anin! Lo mau jadi pengecut ha? Dasar bajingan! Lo bakalan nyesel ambil keputusan ini!" ucap Raka penuh emosi dan meninggalkan Bagas yang terkapar lemah di sasana itu.
.
.
Semarang
Tari baru saja selesai mengikuti acara doa bersama untuk almarhum Angga. Dia sengaja ijin untuk mengikuti acara itu. Tristan mengetahui kepulangan Tari. Dia menghubungi Tari tapi tidak diangkat seperti biasa. Jadi dia memutuskan untuk menghampiri nya di apartemen.
"Susah banget sih kamu dihubungi nya, apa memang tidak ada harapan untuk ku bersama mu? Hah, nyiksa banget sih rasanya. Masih harus nunggu 1,5 bulan ke depan. Semoga jawaban dari doa aku memang benar kamu Ri" ucap Tristan yang sudah melajukan mobilnya.
Tristan memang pandai mengelola bisnis. Terbukti saat ini dia memiliki 2 buah food truck dan 4 karyawan yang membantunya. Menu baru selalu ditawarkan untuk menambah minat pembeli. Promosi lewat sosial media juga gencar dia lakukan.
Teng tong. Bel apartemen Tari berbunyi. Tari yang saat itu mengemas barangnya segera membuka nya.
"Assalamualaikum" ucap Tristan.
"Waalaikum salam, maaf tadi gak tahu ponsel ku dimana jadi gak aku angkat"
"Ooh, kamu lagi ngapain?"
"Mengemas barang. Mobil udah aku jual juga, apartemen juga nantinya pengen aku jual"
"Kok dijual semua sih Ri? Emang kamu gak ada niatan balik lagi kesini?"
"Ya kan aku sekarang sibuknya di Kalimantan bang"
"Terserah kamu lah, abang gak ditawarin masuk?"
"Kalau masuk bantuin berberes ya...." ucapan Tari belum selesai tapi terpotong oleh suara perempuan yang dikenali nya. Ana
__ADS_1
"Ngapain lagi sih ulet bulu datang kesini" ucap Tristan sudah mulai merasakan hawa tidak enak.
"Abang, hiks huhuhhhhuuuu" Ana menangis saat berjalan dan mendekati Tristan dan Tari.
"Drama deh, tuh dicariin penggemar setia nya. Tari masuk dulu ah, malas meladeni nya" Tari hendak masuk tapi dicegah oleh Tristan.
"Jangan tinggalin abang sendirian"
"Abang, Ana hamil.... hikssss huhuhuhu" ucap Ana sambil menangis.
Jedeeerrrrr, bagai petir di siang bolong yang menyambar hati dan telinga Tari. Badan nya tiba-tiba mendidih. Dia mengepalkan tangannya.
"Ngawur kamu An, hamil sama siapa kamu?" ucap Tristan.
"Sama kamu, ini anak kamu bang... Ana minta pertanggung jawaban atas perbuatan kamu"
Tari mencoba mengatur nafasnya. Tristan menganga tak percaya dibuat Ana.
"Jangan gila kamu! Mengenal mu saja aku enggan apalagi meniduri mu?! Sudah sana pulang! Gak usah memfitnah orang sembarangan!" ucap Tristan yang sudah dikuasai emosi.
"Enak saja mengusirku, kamu harus bertanggung jawab atas tindakan mu bang... huhuhu. Sabar nak kita lagi membujuk papah untuk mau bareng kita. Hiks"
Tari hanya diam dan mengepalkan tangan. Air mata nya siap tumpah kapan saja. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Tristan yang menghamili Ana.
"Kalian lanjutkan saja drama kalian, aku akan mengemasi barang. Semoga benih itu tumbuh menjadi benih yang baik dan tidak memiliki sifat sepertimu Ana" Tari berbalik dan membanting pintunya sangat keras.
Tristan semakin geram dengan kelakuan Ana. Jangan kan menyentuh, Tristan berkenalan dan berjabat tangan saja hanya satu kali dan itu dengan Ana.
"Kamu mau nya apa?! Kamu itu pembohong?! Bisa-bisanya kamu bilang begitu ke Tari saat aku benar-benar tidak menyentuhmu!"
"Dasar wanita licik, jahat!" ucap Tristan mengumpat Ana. Dia kembali mengetuk pintu apartemen Tari.
"Ri, abang mohon, bukalah pintu nya. Abang tidak melakukan apapun kepadanya" ucap Tristan. Dia mengingat kembali perkataan Anin yang mengatakan Tari bukan tipe orang yang akan percaya dengan kata-kata semata.
"Oke baiklah abang akan mencari buktinya. Tunggu abang" ucap Tristan. Tari menyahut dari dalam, "Tari beri waktu abang sampai besok. Kalau abang tidak bisa memberikan bukti itu Ana anggap itu benar adanya!"
"Tunggu abang, abang akan mencari bukti dan membawa nya kepadamu" Tristan segera menuju bar dimana dia bertemu dengan Ana dulu.
Tristan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat pengendara lain mengumpat padanya.
Tristan berbicara kepada manager bar tersebut untuk meminta rekaman cctv sekitar 1,5 bulan lalu.
"Buat apaan sih Tris? Cari nya lama lho" ucap manager itu mengingatkan.
"Gak papa lama, yang penting ketemu" jawab Tristan.
Tristan mulai mencari rekaman itu. Dia mengingat-ingat kembali tanggal pertemuannya dengan Ana.
"Waktu itu Tari ngajak ke pantai dan Anin diculik, ya bener. Berarti itu sekitar pertengahan bulan lalu"
Dia mulai mengecek lagi tanggal dan bulan yang tertera di rekaman video itu. Tumpukan yang begitu banyak membuatnya sedikitt kewalahan.
"Bantu hamba ya Allah, permudah hamba dalam mencari bukti ini"
__ADS_1
Tristan masih mencari dan akhirnya menemukan rekaman nya. Dia memutarnya dan benar rekaman itu ada. Tristan segera mengkopi rekaman itu. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Tidak mungkin Tristan menunjukkan kepada Tari. Dia berterima kasih kepada temannya dan kembali ke apartemennya.
Setelah di apartemen dia langsung merebahkan dirinya di kasur. Matanya mulai berat dan terlelap. Subuh berkumandang, dengan mata masih terpejam dia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat.
Teng tong. Tari segera membuka pintunya. Dia melihat Tristan yang masih menggunakan sarung datang ke apartemen nya. Mata Tristan masih tidak bisa membuka sempurna. Dia berjalan sempoyongan dan duduk di sofa dengan mata masih terpejam. Dia menyodorkan ponselnya kepada Tari.
"Ih, hp nya pake kode. Kenapa? Takut kalau aku periksa?" ucap Tari yang masih jutek dengan Tristan.
"Kodenya hari lahir kamu, periksa semua nya. Aku masih ngantuk"
Tari membuka kode ponsel Tristan, disana ada foto dirinya yang dijadikan wallpaper.
So sweet banget sih kamu bang, maaf aku suka cuekin kamu. hihihi
Tari melihat rekaman itu. Dan memang benar yang Tristan katakan. Dia hanya duduk dan berkenalan dengan Ana. Hanya sebentar lalu pergi.
"Abang, maafin aku karena gak percaya sama kamu" ucap Tari. Tristan masih memejamkan matanya.
"Udah percaya? Udah di razia belum hp abang? Abang gak pernah bohong sama kamu, abang udah cinta mati sama kamu. Jadi tolong besok lagi percaya sama abang"
"Iya sayang..." ucap Tari. Sontak membuat Tristan membelalakkan matanya.
"Tadi kamu bilang apa? ucap Tristan memastikan.
"Apa?"
"Yang tadi, yang barusan"
"kode ponsel"
"Habis itu"
"Udah ah, Tari mau siap-siap"
Tristan menarik pergelangan tangan Tari membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Tadi panggil apa?"
"Apa ih? panggil abang lah"
Tristan cemberut dan membuang mukanya. Tari tertawa melihat sikap Tristan.
"Iya Tari percaya, sayang". Tari mengucapkan panggilan barunya untuk Tristan dan mencium pipi Tristan. Angin segar bagi Tristan dengan cepat dia mendekap tubuh Tari.
"Coba panggil lagi" pinta Tristan.
"Sayang"
"Aahh, meleleh abang ini. Berarti perasaan abang terbalaskan dong"
"Iya, tolong jaga kepercayaan dan hati aku ya"
"Iya"
.
__ADS_1
.
.