
Hingga para tamu undangan sudah pulang semua barulah Anin dan rombongan pamit.
"Ri, kita balik dulu ya" ucap Salma pamit kepada Tari.
"Iya, makasih ya semuanyaaaa, bang Raka udah hapal belum ijab nya?"
"Ooo ya sudah pasti hapal dong Ri, saya terima nikah dan kawinnya Salma Ardhitama binti Ardhitama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 10 gram dibayar tuuuunaaaaiii" Raka mempraktekkan ijab yang akan diucapkannya besok.
"Saaaahhhhh" ucap semuanya dan tertawa.
"Udah sah dek, ayo kita indehoi. Daripada solo karir melulu" jawab Raka.
"Hahahaha, emang siapa yang solo karir Ka?" tanya Tristan.
Semua mata tertuju pada Bagas. Membuat muka nya merah padam menahan malu. Anin yang ada di sebelahnya hanya menahan tawanya dan mengelus-elus mukanya. Sontak semuanya tertawa.
"Makanyaaaa, cepetan nikaaahh, biar gak solo karir!" ejek Tari kepada Bagas.
"Iya-iya bawel kalian! Ayo balik! Gue pengen tidur kepala gue pusing!"
"Pusing karena solo karir terus Gas?" ucap Tristan mengejek Bagas lagi.
"Ishhhh" Bagas langsung balik badan meninggalkan mereka.
"Tuh kan, kalian siiiihhh, hari ini mood nya tu jelek bangeeettt, bawaannya sewot. Kalian malah godain melulu" bela Anin sepeninggalan Bagas.
"Cieeeee" ucap semua nya kompak.
"Ri, gue pamit ya. Sal, bang. Ayo" ajak Anin kepada Salma dan Raka.
Mereka cipika cipiki dan pulang ke hotel kembali.
Bagas menyandarkan mobilnya di kap depan mobil menunggu mereka keluar.
"Ngapain nunggu di luar nyet? Kan lo yang bawa kuncinya" tanya Raka heran.
"Mana ada, kan tadi berangkat lo yang nyetirin gembel"
"Cari di tas kamu coba dek" perintah Raka kepada Salma.
Salma mencari kunci mobil di tas nya tapi tidak ketemu. "Gak ada bang"
"Duh, lo gimana sih mbeeeell. Cari sana! Yank, pulang naik taksi aja, mas capeekk"
"Iya mas, jangan marah-marah sih. Sal gue bareng mas Bagas ya"
"Okkeeee" jawab Salma dan mengikuti Raka mencari kunci mobil.
Mereka menghentikan taksi yang lewat dan memberitahu alamat hotel mereka.
"Mas, kamu kenapa sih hari ini? Kok uring-uringaaaaann terus dari tadi. Aku gak suka lihat kamu begini" ucap Anin sambil memegang tangan Bagas.
__ADS_1
Bagas mengatur nafasnya dan meredam emosinya.
"Gak papa, mas cuma capek aja" jawabnya sambil tersenyum kepada Anin.
"Ya sudah nanti istirahat. Jangan banyak pikiran deh, aku lihat kamu tuh banyak pikiran deh. Kamu sebenernya ada masalah apa sih?"
"Gak ada, mas gak ada masalah apa-apa kok. Udah tenang aja, gak usah dibahas lagi. Besok dari Jakarta balik ke Semarang sebentar ya"
"Ngapain?"
"Emang kamu gak kangen sama Semarang? Gak kangen sama rumah kamu? Gak kangen sama kenangan kita?"
Anin menautkan alisnya. "Tumben banget sih, ya kangen lah. Kenangan yang paling aku inget itu waktu kamu mutusin aku di kafe x, dan itu hampir aja membuat persahabatan ku dan Tari putus juga gara-gara kamu"
"Kok bisa?" tanya Bagas heran.
"Bisa lah, aku nangis tersedu-sedu. Bang Tristan gak tega lihat aku nangis dia meluk aku dan Tari yang melihat itu jadi salah faham" terang Anin.
"He? Kamu dipeluk Tristan? Kurang ajar dia, udah lah mas dipukul dia main peluk kamu. Awas aja kalau ketemu" ucap Bagas geram.
"Hahaha, jangan cemburu dong. Orang dari segi manapun kamu yang salah. Coba waktu itu kamu gak minta putus ya gak bakal begitu ceritanya"
"Iya mas salah. Mas gak mau ngulangin kesalahan mas lagi"
"Preeeeettt, kemarin? Waktu kamu dalam misi mempelajari jurus ninja biar bisa datang dan pergi tanpa ketahuan? Apa itu? Gak inget? Pengen rasanya kemarin aku marah sama kamu. Tapi gak bisaaaa. Rasa rindu ku mengalahkan itu semuaaaa"
Bagas memeluk Anin dan mengecup keningnya. "Maaf ya, janji gak lagi-lagi begitu. Mas gagal mempelajari jurus ninja itu karena ketahuan sama kamu"
"Hahahaha, iya lah. Niat ngumpet ya ngumpet aja. Malah keluar ya ketahuan lah"
Mereka kembali mengenang dan menceritakan kenangan mereka. Tak terasa mereka sudah sampai di hotel. Bagas mengantarkan Anin sampai di depan kamar.
"Udah sana, balik ke kamar kamu. Tidur biar gak pusing lagi"
"Mau masuk sini boleh?" ucap Bagas menggoda Anin.
"Gak boleh! Kamu mau solo karir lagi?"
"Gak lah, ya udah. Mas ke kamar saja lah. Cup" Bagas mendaratkan ciumannya di kening Anin.
"Daaaahh" ucap Anin sembari menutup pintu kamarnya. Dia membersihkan diri dan segera tidur.
.
Raka dan Salma masih mencari kunci mobil.
"Kamu taruh dimana sih tadi bang?" tanya Salma.
"Abang lupa honey, sayanggg. Seinget abang ya dibawa Bagas"
"Haduuuuhhh, capek jongkok-jongkok melulu" keluh Salma.
__ADS_1
"Kamu istirahat aja disana deh. Biar abang yang nyari"
Salma duduk di kursi yang masih belum dibereskan oleh WO. Tari dan Tristan melihatnya.
"Kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Tristan.
"Kunci mobil gak ada. Tahu tuh ditaruh mana sama abang" jawab Salma sudah memasang muka cemberut.
Raka dengan senyum nyengir menghampiri Salma. Mereka heran dengan tingkah Raka.
"Hehehehe, balik yuk dek" ucap Raka sambil cengengesan.
"Udah ketemu?" tanya Tari.
"Udah, ternyata di saku jas abang"
Mereka melotot dan tepok jidat.
"Ri, bang, gue pamit ya"
"Iya, hati-hati"
Salma dan Raka menuju mobil dan pulang ke hotel mereka.
Bagas bukannya bisa tidur. Dia berguling kesana kemari memikirkan dirinya besok.
"Alamaaaaakkk, susah banget sih ngelamar cara romantis"
Dia mencari referensi lagu di gugel dan menemukannya.
"Oke, gue pakai lirik yang ini, terus nanti gue minta ijin ke pamannya. Dah gitu aja daaah, daripada gue pusing mikirin ini" ucap Bagas kepada dirinya sendiri.
"Test vokal dulu deh, ehmmm, jad... jadi. Kok jelek banget sih suara gue" Bagas mengambil minum dan menegaknya. Berharap suaranya bisa menjadi bagus. Bagas mencoba lagi dan hasilnya tak teelalu buruk. Lalu dia bangkit dan mempraktekkan dirinya sedang melamar Anin.
"Anindya Wijaya, will you merry me?" ucapnya sambil berlutut.
"Yes" ucap Bagas seakan Anin yang menjawab.
"Ah, senangnya kalau selancar itu. Huaaaa" Bagas kembali mengingat kenyataan bahwa dirinya bukan orang yang bisa mngutarakan perasaan di depan orang banyak.
.
.
.
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Tip.
Vote nya dikencengin dong gaesss, kan author pengen gitu jadi 10 besar. hehehe. Komennya juga dongggg