
Sabtu.
Hari yang dinanti oleh Anin, Bagas, dan keluarga nya. Hari lamaran sekaligus hari jawaban atas istikharoh Bagas. Semoga jawaban yang baik baik yang ada nantinya.
Bagas yang hendak berangkat kerja menemui kedua orang tuanya yang sedari tadi menunggu di ruang tamu.
"Bismillah, Yah, Bu. Bagas ingin menyampaikan hasil istikharoh Bagas"
Wajah Ibu sudah sangat tegang. Tangannya dingin. Hatinya berdebar.
"Sampaikanlah Gas" Kata Ayah
"Tunggu, Ibu ambil tisu dulu"
"Buat apa Bu?" tanya Ayah
"Buat ngelap air mata Ibu" Ibu bergegas mengambil tisu yang ada di meja makan dan kembali duduk.
"Ayo Gas, sampaikan" kata Ayah lagi
"Ayah gak sabaran banget sih, biar Bagas yang ngomong dong Yah, gak usah di cepetin gitu" Ibu mengulur waktu.
"Iya iya"
"Jadi, Bagas.... Bagas.... Bagas akan ikut bergabung dengan pasukan itu"
"Alhamdulillah" kata Ayah
Ibu hanya tertunduk dan diam. Air mata lolos dari pelupuk mata ibu. Ibu segera mengambil tisu untuk menyeka air matanya. Bagas berlutut di kaki Ibunya.
__ADS_1
"Bagas mohon Bu, berikanlah restu untuk keputusan Bagas" Bagas berkata sambil bergetar.
"Ibu.... Ibu.... ibu gak tau Gas harus memberi restu padamu atau tidak. Kamu tau kan bagaimana Ayah dulu?" Ibu mengatakan dengan berlinang air mata.
"Bu, cobalah percaya sama anak kita. Dia akan menjaga dirinya dan melindungi keluarganya" Ayah membantu untuk membujuk Ibu.
Ibu menyeka air matanya. Kedua tangannya menangkup wajah Bagas.
"Berjanjilah bahwa kamu selalu selamat dalam pulang bertugas. Jika sampai telinga Ibu mendengar kamu gugur, Ibu tidak akan memaafkan kamu karena melanggar janji dengan Ibu" Air mata ibu kembali menetes.
Bagas segera memeluk Ibunya dengan erat. Ayah melihat itu tersenyum bahagia karena jika urusan membujuk ibu adalah hal yang tersulit.
"Terima kasih Bu, Ibu sudah merestui akan keputusan yang Allah beri"
"Anin bagaimana?" Ibu melepaskan pelukannya dan menatap kembali anaknya.
"Nanti akan Bagas sampaikan setelah acara lamaran selesai Bu. Bagas berangkat kerja dulu ya" Bagas mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan mengecup kening mereka satu per satu.
.
"Terima kasih Bu, Ibu sudah bisa menerima keputusan Bagas" Ayah mengusap punggung Ibu.
"Ibu kalah jika itu jawaban dari Yang Maha Kuasa Yah. Ya sudah lah. Itu artinya Ayah harus memberikan perlindungan yang lebih pada Anin. Apakah Raka juga ikut?"
"Ayah belum tau, coba nanti Ayah telpon. Kalau iya itu artinya kedua anak kita sedang menantang bahaya"
"Itu lah, itu yang Ibu takutkan"
"Ya mau gimana lagi Bu. Nanti Ayah juga akan menyuruh orang untuk memantau Salma. Ibu tenang ya. Persiapkanlah untuk nanti malam"
__ADS_1
Ibu terdiam. Pikirannya menerawang jauh disana.
Punya anak 2, yang satu jauh disana yang satu juga mau jadi umpan bahaya. Hah. Lindungilah anak anak hamba Ya Allah
Perasaan seorang Ibu akan anaknya sangat lah peka. Ibu mencoba menenangkan dirinya sendiri.
.
Anin dibantu oleh Tari membereskan rumahnya.
"Ri, sofanya dimajukan ke sana dong"
"Disini aja Nin, lebih pas gitu"
"Gak Ri, majuin kesini dikit"
"Haish, terserah lo lah"
Mereka menggeser lagi sofa agak maju.
"Tukang dekor mana lagi jam segini belum datang" Kata Anin
"Sabar dong, baru juga jam 8. Mereka lagi sarapan kali Nin"
"Hadehhhh, lamaaaaa. Biar cepet beres gitu lho"
"Lo ni gugup ya? Dari tadi rasanya uring uringan terus, perasaan"
"Diem deh Ri, mana sih?"
__ADS_1
Tari memilih diam dan bermain hp. Tak lama kemudian tukang dekor pun datang. Mereka secepat mungkin mengerjakan tugas mereka. Membutuhkan waktu hampir 3 jam untuk menyelesaikan dekorasi untuk tunangan Anin dan Bagas.
Anin melihat dekorasi tersebut dengan senyum mengembang di bibirnya. Beres.