
Anin turun dengan kesal karena sikap Bagas yang tidak peka akan keinginannya.
"Bisa ya jadi cowok gak peka begitu? Tanya temennya kek cara ngelamar yang romantis itu kayak gimana. Ngajak nikah kayak ngajak main anak kecil! Nyebelin banget sih! Niat serius apa gak sih! Au ah!" Anin mengomel sendiri meninggalkan Bagas yang masih berada di atas bukit.
"Yank, ayang beb. Denger penjelasan mas dong" Bagas sedikit berlari menuruni bukit mengejar Anin.
Anin masih diam tak bergeming dan terus melangkah menuruni bukit. Bagas yang berlari pada turunan bukit itu mengakibatkan dirinya hilang kendali.
"Wowowowowowowow, yank tolongin mas yank. Mas gak bisa ngerem yank! Yank! Yank! Wowowowow" Bagas tak bisa lagi mengendalikan kecepatan kakinya.
Bruk.
Bagas menabrak pagar pembatas yang dipasang oleh pihak hotel sebagai pemisah antara tanah milik hotel dan lahan bebas itu.
"Aduuuuhhh, sakiiittt" Bagas mengusap kepala dan hidungnya yang mencium pagar pembatas itu.
Anin masih memasang muka cemberut dan bersidekap berlalu meninggalkan Bagas.
"Yank, bantuin mas kek. Tega banget sih"
"Sukurin!" ucap Anin sambil menjulurkan lidahnya meninggalkan Bagas sendirian.
Anin kembali menuju kamar nya dengan membanting pintu keras-keras. Membuat Salma yang sedang sholat ashar kaget hingga terlonjak membuat sholatnya batal.
"Astaghfirullah Anin! Batal deh sholat gue! Udah tinggal salam lagi, kenapa sih lo?!! Darimana??"
Anin tidak menjawab pertanyaan Salma dan masuk ke kamar mandi. Dia kembali membanting pintu kamar mandi keras-keras.
"Astaghfirullah, ketemplokan setan apa sih itu anak?" Salma kembali mengulang sholatnya yang batal gara-gara Anin.
Anin mengguyur kepala nya yang sedang panas di bawah shower berharap hati dab pikirannya bisa tenang kembali.
"Mas Bagas sialaaaaannnnn! Dasar cowok gak peka!!! Bebel banget sih otak nya!! Heran gue kenapa bisa jatuh cinta sama orang kayak dia!! Ngelamar anak orang dianggap main-main cuma bilang nikah yuk! Gundulmu kuwi! Hiiiissshhhhhh"
Anin mandi dan membersihkan tubuhnya. Karena dirinya sedang halangan dia memilih tidur. Berharap segera pagi. Masih lama kali Nin, orang baru jam 5 sore kok 😂.
"Nin, makan yuk" Salma mengajak Anin untuk keluar kamar.
"Ogah ah, gue mau tidur aja. Lo kalo mau makan, makan sendiri aja Sal. Gue udah badmood banget. Mending gue tidur"
__ADS_1
"Lo berantem sama kakak?"
Anin diam. Dan Salma tahu jawabannya.
"Berantem masalah apa lagi sih? Kalian gak capek apa beranteeeemmm terus. Dari semenjak kalian ketemu lagi sampai sekarang. Apa lagi sih yang dilakuin kakak sampai lo semarah ini?"
"Gue jengkel sama mas Bagas. Dia kalau emang niat serius mbok ya ngelamar gue ke paman lagi. Atau setidaknya ngelamar gue di depan orang-orang kek. Bukan pengen romantis nya gue. Tapi gue pengen lihat keseriusan dia dalam meminta gue buat jadi istrinya"
"Emang kakak bilangnya gimana sih?"
"Dia bilang, nikah yuk! Kayak bercanda doang. Cengengas cengenges. Gue malah jadi ragu sama dia"
Salma tersenyum. "Nin, gak semua orang itu bisa mengungkapkan cinta atau rasa segampang itu. Ada orang yang blak-blakan seperti Tristan dan Tari. Ada yang langsung serius meminta kayak gue dan bang Raka. Ada yang cengengesan tapi beneran serius ngungkapinnya. Kayak kakak. Dia bukan tipe orang yang bisa nyatain perasaannya di depan orang banyak Nin.
Kakak itu sebenarnya pemalu. Dia itu ya begitu. Ngungkapinnya langsung ke orangnya tanpa ada yang lihat. Itu sisi keseriusan kakak Nin. Percaya deh sama gue. Kakak itu dari sorot mata nya mandang lo aja udah ketahuan. Cinta mati dia sama lo. Percaya deh sama gue. Gue ngomong begini bukan karena ngebelain kakak, tapi emang itu sifat asli kakak" jelas Salma panjang kali lebar ketemu luasnya sama dengan luas kamar hotel.
"Ya setidaknya bilang serius ke paman gue kek Sal. Tristan ngomong langsung sama bokap Tari. Bang Raka ngomong langsung ke Ayah. Kakak lo?"
"Hahahaha, iya deh. Nanti coba gue sampein. Yaudah sekarang makan dulu yuk. Gue laper nih. Bentar lagi juga camer gue datang. Yuk lah"
"Malas ah, perut gue lagi disminorea. Pesenin makan aja deh antar ke kamar"
"Iya-iya ih, bawel"
"Ya udah, istirahat aja gih. Nanti gue beliin obat sekalian deh. Gue keluar dulu ya"
"Iya Salmaaaaa!!"
Salma meninggalkan Anin di dalam kamar hotel. Anin mencoba memejamkan mata sepeninggalan Salma. Tapi tetap tak bisa. Dia mencerna kembali penjelasan Salma.
"Hufttt, tolong peka dikit lah mas. Minta restu sama paman kembali kek. Biar aku itu percaya kalau kamu benar-benar serius sama aku" ucapnya pada diri sendiri.
Salma sudah berada di restaurant hotel bersama yang lainnya. Bagas yang tidak melihat Anin bersama Salma sangat yakin kalau Anin marah besar terhadap dirinya.
"Anin mana Sal?" tanya Ayah yang tak melihat keberadaan Anin.
"Anin sakit perut yah, adek ajak kesini katanya pengen istirahat di kamar. Kak, pindah meja sama adek dan bang Raka yuk. Adek mau ngomong" ucap Salma menarik tangan kakak nya untuk pindah meja bersama Raka.
"Anin marah sama kakak dek?" tanya Bagas
__ADS_1
"Iya, kakak sih gak peka"
"Lo ribut lagi sama Anin nyet? Masalah apaan lagi?" tanya Raka kepo.
"Gue tadi ngajak dia ke bukit belakang hotel. Terus gue ngajak dia nikah. Dia marah. Katanya gue gak peka"
"Kakak, meskipun Anin anak yatim piatu, tapi dia masih punya paman. Dia juga pengen kali ditanya lewat wali nya. Biar bener-bener serius" jawab Salma.
"Lo sih nyet, dulu kan lo sempat putus sama dia. Pantes dia lo ajak nikah sahutannya sewot melulu. Dia pengen lo ijin ke wali nya nyettt. Peka dikit dooooonnggg. Lo disuruh ngotak-ngatik bom aja cepet. Memahami hati Anin aja sampai harus ribut melulu" protes Raka terhadap Bagas.
"Ya sudah nanti kakak minta dia ke wali nya kalau dia pengennya gitu. Sekarang dia nya mana?"
"Lagi disminorea, pesenin makan gih kak. Adek lagi nunggu pesenan obat datang. Bentar ya, obatnya udah datang" Salma melihat ponsel nya yang terdapat pemberitahuan bahwa pesanannya sudah datang dan ditunggu di lobby hotel.
Bagas memesankan makanan untuk Anin.
"Nyet, kenapa lo gak coba nglamar dia pas acara gue besok?" Raka mengemukakan ide nya.
"Maksudnya?"
"Ya elah, lo ngelamar dia besok dihadapan semua orang. Kan pasti ada pamannya juga tuh. Bisa jadi bukti kalau lo emang serius sama Anin. Gimana?"
"Caranya?"
Raka membisikkan rencananya kepada Bagas dan diangguki kepala oleh Bagas pertanda mengerti dengan rencana Raka.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Kira-kira apa ya rencana mas Bagas untuk melamar Anin? 🤔🤔