Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 163


__ADS_3

Anin dan Bagas telah sampai di rumah tahanan. Mereka lapor kepada petugas yang berjaga dan saat itu masih jam besuk. Mereka dipersilahkan masuk di ruang jenguk. Edi dikawal oleh penjaga dipertemukan dengan Anin dan Bagas.


"Assalamualaikum ayah!" ucap Anin sambil memeluk Edi.


Edi tersenyum haru saat dirinya dipeluk dan dipanggil ayah oleh Anin. Ada kehangatan yang ia rasakan dari Anin.


"Waalaikum salam, gimana kabar kalian?" tanya Edi.


Anin melepaskan pelukannya dan duduk. Bagas mencium punggung tangan Edi.


"Alhamdulillah kami baik yah, hari ini kami baru saja selesai mengurus nikah batalyon kami" terang Bagas menghasilkan senyum di bibir Edi.


"Alhamdulillah, ayah ikut seneng"


"Yah, sidang ayah sudah dimulai?" tanya Anin.


"Sudah, Bakri mendapat hukuman seumur hidup. Ayah sedang menunggu keputusan hakim"


"Sabar ya yah" ucap Anin memberikan semangat kepada Edi.


"Iya, ayah harus menerima konsekuensi dari hasil perbuatan ayah selama ini"


"Yah, kami besok rabu akan melaksanakan akad. Kami kesini selain menjenguk ayah kami juga ingin meminta doa restu dari ayah. Tolong, ijinkan Bagas menjaga Anin. Membahagiakannya, merawatnya, dan menghabiskan waktu bersamanya. Kami butuh restu dari ayah" ucap Bagas.


Edi meraih tangan Bagas dan disatukan dengan tangan Anin. "Ayah merestui kalian. Ayah bahagia. Ayah mohon kepada Bagas, tolong jaga Anin kecil ayah, dia keluarga ayah satu-satunya saat ini. Yang mau mengakui keberadaan ayah. Ayah juga minta maaf atas kesalahan ayah kepada orang tua kalian. Jangan lupakan ayah disini. Semoga kalian bahagia nak" ucap Edi sambil mencium kening Anin dan Bagas.


"Terima kasih yah, kami akan berkunjung kesini saat ada waktu. Tetaplah berjuang dan berkumpul lah dengan kami yah. Anin juga ingin seperti teman Anin yang lainnya, yang selalu berbagi apapun dengan ayah mereka" ucap Anin menahan air mata nya.


"Ya sudah yah, kami pamit dulu, karena belum menghadap ke pejabat kesatuan" terang Bagas.


Anin memeluk Edi cukup lama. "Anin sayang sama ayah"


"Ayah juga sayang sama kamu. Ingat, jadi istri yang nurut sama suami ya. Bagas, ayah titip putri ayah sama kamu"


"Iya yah, Bagas akan menjaganya. Kami pamit ya yah, assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Edi dibawa kembali ke sel tahanan. Bagas dan Anin meninggalkan rumah tahanan itu dan bergegas ke rumah om Herman.

__ADS_1


Tak lama Bagas dan Anin sampai di rumah om Herman. Mereka disambut hangat oleh tante Indira. Mereka menghadap layaknya bawahan menghadap atasan. Om herman memberikan wejangan kepada mereka.


"Saya hanya berpesan kepada kalian, semoga pernikahan kalian langgeng sampai bersama-sama menuju surga-Nya. Bagas kamu sebagai kepala rumah tangga harus bisa membimbing istri kamu menjadi lebih baik lagi. Anin sebagai istri harus patuh terhadap suami. Jika ada masalah segera diselesaikan dengan kepala dan hati yang dingin. Jangan menuruti emosi. Saling mengalah satu sama lain" ucap om Herman.


"Ijin, Siap Ndan" balas Bagas.


"Nanti kalau ada pertemuan bulanan diusahakan datang ya Nin" imbuh tante Indira.


"Ijin, siap bu DanYon" sahut Anin


"Ih kalian nih, formal banget sih" balas tante Indira


"Ya kan harus begitu mah" ucap om Herman.


"Ya udah, cepetan di tanda tangan pah. Biar gak formal lagi"


"Iya"


Om Herman menandatangani formulir pengajuan nikah Bagas dan Anin. Menandakan mereka telah selesai nikah batalyon.


"Dengan ini, kalian resmi menikah batalyon. Oh ya Nin, karena kamu kemarin belum foto nanti foto pakai baju persit ya" ucap om Herman.


"Iya om, nanti Anin lengkapi yang kurang. Makasih juga sudah membantu mas Bagas dan Anin nikah batalyon, sehingga tidak dipersulit" jawab Anin.


"Om, tante, Bagas dan Anin minta doa restu nya. Semoga besok acara ijab nya lancar. Doakan rumah tangga kami bisa langgeng seperti kalian" Bagas meminta restu kepada om Herman dan tante Indira.


"Kami merestui kalian. Sejak kalian bertunangan dulu. Om tahu dari ayah kamu. Sejak itu kami merestui kalian. Berbahagia lah Nin, Gas, tante titip Anin ya. Bimbinh dia menjadi istri yang sholeha" pesan tante Indira.


"Insyaallah tante" jawab Bagas.


Ayah dan ibu tersenyum melihat Anin dan Bagas akhirnya bersatu kembali. Takdir memang pernah memisahkan mereka. Tapi takdir pula yang mempertemukan mereka kembali.


"Ya sudah sekarang makan dulu yuk" ajak tante Indira.


Semua menuju ruang makan dan segera menyantap makanan yang telah disediakan.


Setelah selesai Ayah dan om Herman serta Bagas berbincang-bincang. Anij dan Ibu memilih beristirahat.


"Kami tadi menemui ayah Umang Yah, om" ucap Bagas memulai percakapan.

__ADS_1


"Hmm, lalu bagaimana perkembangan kasusnya Her?" tanya ayah kepada om Herman.


"Mas Bakri dicopot dari jabatannya menjadi menteri mas. Dia dijatuhi hukuman seumur hidup. Ini sangat memalukan bagi dunia kita. Masyarakat sangat mengenalnya mengawali karir dari seorang TNI. Dia begitu ramah terhadap orang-orang. Sampai mereka tidak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Bukti milik mas Andi benar-benar membuatnya tidak berkutik. Laporan keuangan itu memang sudah diselidiki KPK tapi entah mengapa lenyap begitu saja.


Sedang mas Edi, masih menunggu keputusan hakim. Aku berharap hukuman yang diterima nya tak seberat mas Bakri. Karena dia hanya kaki tangan dari mas Bakri. Aku juga lega saat Anin memintanya menjadi ayah angkat untuk nya. Cinta mas Edi terhadap almarhumah mbak Nindya begitu besar hingga membutakannya. Mengambil jalan yang salah hingga sekacau ini" tutur om Herman panjang lebar.


"Aku juga berharap Edi bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi Her, dia benar-benar kesepian di masa tua nya. Bahkan Eri, adik kandung nya sendiri belum mampu memaafkannya. Eri yang membantu ku memecahkan teka-teki ini. Bahwa bukan Edi pelaku bisnis sebenarnya. Ada orang yang selalu disebut tuan oleh kakak nya itu" balas Ayah.


"Semoga Allah meringankan hukuman bagi ayah Umang ya Yah, om. Bagas gak tega lihat Anin begitu. Dia mencoba tegar dihadapan ayah Umang" timpal Bagas.


"Ya begitu lah kehidupan nak. Makanya kita harus kuat iman. Jadikan agama sebagai landasan kita ketika akan melakukan sesuatu. Insyaallah kita akan selalu dalam lindungan-Nya" tutur ayah memberi nasihat kepada putranya.


"Iya yah, oh ya yah, besok tolong suruh orang membersihkan rumah Anin"


"Sudah ada orang yang membersihkan rumah Anin. Pamannya menyuruh orang untuk menempati rumah itu. Dan ketika sang pemilik rumah pulang dia akan pulang ke rumahnya. Pikirkan besok ijab mu. Ayo sini latihan dulu"


"Siap! Saya terima nikah dan kawinnya Anindya Wijaya dengan...." ucapan Bagas terpotong


"Salah, ulangi lagi" koreksi om Herman.


"Salahnya dimana om?"


"Lhaaahh nama ayah nya Anin belum kamu sebut kok"


"Oh iya ding, lupa. Hahahaha. Bismillahirrahmanirrahim, saya terima nikah dan kawinnya Anindya Wijaya binti almarhum Andi Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sebesar 50 gram dibayar tuuuunaaaaiii"


"Sah!" ucap ayah dan om Herman bersamaan. Bagas tersenyum membayangkan besok hari rabu.


.


.


.


Like


Vote


Komen (kencengin yes)

__ADS_1


Tip


Siapa yang besok libuuuuurrrr, cung!" Aku, aku. Author libur gaes. Horeeee, akhirnya tenaga kesehatan diberi libur juga, biasanya ngepam. hahahah. Alhamdulillah


__ADS_2