Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 72


__ADS_3

Halo sobat? Mau ku bantu? Seru orang yang lainnya.


Orang tersebut menoleh. Dilihatnya orang tersebut dengan seksama.


"Lepaskan perempuan itu! Tidak ada harga dirinya sekali kau! Perempuan itu tak suka denganmu! Cepat lepaskan!" Seru orang itu.


"Wah, kau lagi kau lagi. Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku! Pergilah sebelum benar benar kuhajar!"


"Ayo! Hari ini aku belum pemanasan. Sekalian pemanasan saja denganmu. Lepaskan dulu tangannya. Biar lebih leluasa kita"


Mau tidak mau, orang itu melepaskan tangan Anin. Anin dan Tari lari menjauh dari orang tersebut.


"Lari lah sekencang mungkin! Jika bertemu jalan besar katakan kau teman bidan Salma!" teriak orang itu. Ya. Orang itu adalah pak Jenggot. Huft. Untung datang tepat waktu.


"Ayo maju, kau mau menyerang terlebih dahulu atau aku?"


"Banyak bac*t lo ,hiaaaa" orang itu menendang perut pak jenggot dan mengenai, Pak jenggot meringis kesakitan.


"Boleh juga lo!" Pak jenggot membalas nya. Dia meninju perut orang itu. Dua orang itu saling menghajar, saling menendang, saat orang itu kehabisan tenaga pak jenggot dengan cepat memiting tangannya ke belakang. Alhasil pak jenggot yang menang. Hidup pak jenggooottt. Hahaha


"Katakan, apa mau mu! mengapa kau menguntit mereka ha?"


"Aku tidak akan memberi tau mu! Dasar pengganggu!"

__ADS_1


"Baiklah jika kau memaksa aku lebih kasar lagi. Kau tidak rindu dengan istrimu yang sedang hamil?"


Sontak kedua mata orang yang menguntit Anin membelalak.


"Kau ingin dia disakiti perlahan atau langsung dihabisi? Mintalah akan kuturuti!" ancam pak jenggot


"Tolong jangan sakiti calon anak dan istriku, mereka tidak tau apa apa. Lepaskan mereka. Bunuh saja aku daripada aku harus tersiksa dengan bos ku. Kumohon bebaskan mereka. Kumohon jangan sakiti mereka. Tolong lepaskan mereka" pinta orang itu


"Akan kulepaskan kau dan istrimu itu! Tapi beritahu aku. apa motifmu??"


"Aku tidak bisa memberitahukanmu! Sama saja aku akan dibunuh nantinya!"


"Kau tenang saja. Larilah ke Myanmar. Disana aku sudah mempersiapkan semua nya untuk mu. Meskipun sederhana. Identitasmu akan diganti disana. Istrimu akan ikut bersamamu. Kalian akan bertemu di bandara X. Tapi beritahu aku semuanya! Tanpa ada yang terlewat! Kau setuju?" tutur pak jenggot


Pak jenggot melepaskan pitingan tangannya dan membawa orang tersebut kembali ke dalam mobilnya. Orang tersebut menjelaskan semua nya secara rinci. Setelah selesai memberitahu semuanya, Pak jenggot menyuruhnya langsung ke bandara.


"Disana sudah ada orang yang menunggumu. Dia memakai seragam pilot. Dia akan menunggumu di tempat pembelian tiket ujung sebelah kiri. Semoga kau selamat!" ucap pak jenggot memberikan salam perpisahan.


"Terima kasih!" Orang tersebut langsung kembali menuju mobilnya.


.


"Hadooohhh, Nin. Istirahat bentar, hah hah hah" Nafas Tari ngos ngos an karena berlari terus menerus.

__ADS_1


"Nanggung Ri, disana ada orang. Ayo kita minta tolong" Anin menarik tangan Tari dan mau tak mau Tari harus berlari lagi.


"Capek gue Nin, sumpah lo masih kuat aja sih, hah hah hah"


"Lo lupa apa, gue kan emang jagonya lari. Yang penting gak lari dari kenyataan hidup, hah hah hah"


"Sialan ni anak, saat begini masih bercanda. Haduh kenaoa gak nyampe nyampe sih, kaki gue rasanya mau copot Nin, hah hah hah"


Mereka lari dengan nafas tersengal sengal. Akhirnya mereka menemukan warung kecil yang agak ramai pembeli. Para ibu ibu itu berbelanja sayuran yang baru datang dari pasar.


(kalo di Kalimantan seperti itu ya gaes, mau pagi siang sore kebutuhan sehari hari selalu ready karena pasarnya juga ada yang baru buka sore hari)


Anin dan Tari berhenti di warung itu. Mereka mengatur nafasnya. Para ibu ibu itu bingung.


"Kak, ada apa? Kenape lari lari? Ada masalah kah?" ucap salah seorang ibu menggunakan logatnya.


"Eh, ini bu, teman saya tadi penyakit ayan nya kumat. Saya mencari rumah bidan Salma dimana ya bu?" Anin asal bicara membuat Tari melotot


Dasar edy*n ini anak. Penyakit ayan katanya. Awas lo Nin. Batin Tari


"Oh, ini kak kakak ambil jalan pintas aja biar cepat. Kakak jalan terus nemu gang kecil masuk situ kak. Nanti ketemu jalan besar macam ni kakak ikuti saja. Rumahnya warna biru kak. Nanti tanya orang saja lah lagi" sahut ibu tadi


"Oh, makasih bu. Kami permisi dulu. Saya takut nanti kumat lagi" Anin menarik tangan Tari dengan segera.

__ADS_1


__ADS_2