
Siang itu Salma dan Raka berjalan ke arah sawah melewati pintu belakang rumah mereka. Raka mengedarkan matanya mencari kerbau tapi tidak ketemu.
"Gak ada yank kebo nya. Piye?" ucap Raka kepanasan.
"Hmmm, ya sudah lah. Pulang saja" ucap Salma kecewa.
Raka sebenarnya sedih melihat Salma kecewa. Tapi dia juga tidak tahu harus bagaimana. Salma berjalan agak cepat meninggalkan Raka dibelakang.
"Yank, pelan-pelan jalannya" ucap Raka sedikit tertinggal dengan langkah Salma.
Salma diam tak menjawab dan langsung masuk dan membanting pintu kamar. Ibu dan Ayah sampai terjengkit kaget. Raka mengetuk pintu kamar mereka tapi tak direspon Salma. Bahkan dikunci.
"Yank, maafin abang. Nanti abang cari lagi ya kebonya" ucap Raka di depan pintu.
Ayah memanggil Raka.
"Raka, coba duduk sini. Ayah mau bicara" ucap Ayah. Raka berjalan lesu ke arah ibu dan ayah.
"Ada apa?" tanya Ayah.
"Adek pengen naik kebo yang lagi bajak sawah yah, Raka cari gak ada kebo yang bajak sawah. Karena bukan waktunya bajak. Padi udah mulai tumbuh"
Ibu berpikir bagaimana tetap bisa menuruti anaknya. "Aha, ibu punya ide. Gimana kalau kita nyewa kebo terus kita cari lahan berlumpur yang bisa dipakai kebo itu buat bajak. Gimana?"
Ayah dan Raka saling toleh.
"Nyewa kebo siapa bu, disini nih jarang ada kebo" ucap Raka.
"Cari dong Raka, cari di penjagalan. Pasti ada" jawab ibu.
"Ya memang ada bu, tapi kan udah sembelihan" timpal Ayah.
"Maksud ibu tanya ke orang penjagalannya yah, kalau mau lihat kebo hidup dimana gitu. Buruan sana Ka, kamu mau anakmu ngiler?" ucap Ibu.
Raka dengan cepat meraih kunci mobil dan berpamitan dengan ayah dan ibu. Dia menuju penjagalan.
.
Bagas dan Anin menunggu giliran untuk USG. Mereka melakukan USG di rumah sakit swasta dekat kota. Karena hari sabtu, Anin pulang cepat dari puskesmas.
"Bu Anindya Wijaya" panggil perawat itu.
Anin dan Bagas masuk ke ruangan dokter Luna. Dokter tersenyum kepada pasangan itu dan mereka membalas senyum.
"Assalamualaikum bu Anin, oh pak Bagas pulang ya. Assalamualaikum pak" sapa ramah dokter Lusi.
__ADS_1
"Waalaikum salam dokter" balas Anin dan Bagas kompak.
"Gimana bu Anin, ada keluhan atau tidak?"
"Alhamdulillah gak ada dok. Kami ingin USG, papahnya pengen lihat wajah dedeknya" terang Anin. Bagas hanya senyam senyum.
"Mari ke bed. Saya periksa dulu"
Anij naik ke bed dibantu dengan perawat Anin membuka gamis di bagian perutnya. Doktee Lusi mengoleskan gel dan mulai memainkan stick USG nya. Bagas memperhatikan dengan seksama.
"Alhamdulillah, dedeknya sehat ya bu. Ini letak plasenta nya ada di atas. Nah, ini wajah adek ya pak Bagas. Silahkan di sapa dulu. Detak jantungnya ini ya" terang dokter Lusi menerangkan semuanya.
Anin sudah selesai diperiksa. Bagas sudah melihat calon buah hati nya. Senang bahagia. Dokter Lusi menuliskan resep vitamin untuk Anin.
"Ini resepnya ditebus ya bu. Diminum teratur. Nanti 3 bulan lagi kita USG lagi untuk melihat perkembangan dedeknya. Ada yang ingin ditanyakan?" tutur dokter Lusi.
"Gak ada dok, terima kasih ya dok. Kami permisi dulu" ucap Anin.
"Sama-sama bu Anin pak Bagas. Sehat-sehat terus ya bumil. Nanti buku KIA nya jangan lupa dibaca. Bu bidan pasti lebih tahu daripada saya" ucap dokter Lusi.
"Hahaha, iya dok. Mari dokter. Assalamualaikum" pamit Anin kepada dokter Lusi.
"Waalaikum salam"
.
Bagas dan Anin yang ada di rumah Salma bertanya keberadaan sang pemilik rumah.
"Adek lagi ngambek karena pengen naik kebo yang lagi ngebajak sawah. Tapi gak bisa nemu kebonya" terang ibu kepada Bagas dan Anin
"Ha?" ucap Bagas dan Anin kompak.
"Iya, makanya sekarang Raka lagi usaha nyari kebo nya" tutur ayah.
"Ada-ada saja si adek" Bagas geleng kepala mendengar penuturan Ayah dan Ibu.
"Jangan gitu mas, kamu kira enak apa kalau ngidam gak keturutan? Jengkel di hati, kecewa, pengen nangis. Ada semua deh, kamu mah enak terima beres. Emang kamu pernah tahu pak jenggot yang tak mintain bantuan saat aku pengen sesuatu?" ucap Anin tak terima dengan perkataan Bagas.
"Ya maaf sayang, mas kan gak tahu"
"Makanya jangan dianggap remeh dong"
"Iya-iya. Sekarang kamu ngidam apa? Mas turutin deh"
"Lagi gak pengen apa-apa"
__ADS_1
Bagas menyesal karena telah meremehkan keinginan orang ngidam. Baru tahu dia jika selama ini pak jenggot yang memenuhi keinginan Anin.
Raka sudab sampai di depan rumah. Kerbau diturunkan dari mobil pick up itu dan digiring menuju lahan kosong yang berlumpur tak jauh dari rumah Salma.
Raka masuk ke dalam dan menjemput Salma.
"Yank, abang udah dapat kebo yang mau bajak sawahnya nih. Keluar yuk. Kita naik sama-sama" ucap Raka di depan pintu kamarnya.
"Gak mau! udah gak pengen!" teriak Salma dari dalam kamar.
Anin menghampiri Raka. "Biar gue yang coba ngomong bang. Sal, dek. Ini Anin. Kelurar yuk. Gue juga pengen naik kebo nya nih. Yuk sama-sama"
"Gak mau!" jawab Salma.
"Buka dulu dong dek, gak sopan ih bicara sama ipar caranya begini" ucap Anin. Akhirnya Salma mau buka pintu.
Anin masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan Salma.
"Sal, yuk naik kebo. Jangan marah. Lo tahu lo itu wanita paling beruntung. Karena Bang Raka nurutin ngidam lo. Kalau gue? Mas Bagas gak pernah tahu gue ngidam apaan. Gue gak pengen dia kepikiran sama gue saat tugas. Hargai suami lo. Yuk naik kebo nya. Nanti gantian oke?" tutur Anin memberikan penjelasan ke Salma
Salma mengangguk. "Dimana kebo nya?"
"Gak tahu, yuk tanya bang Raka"
Anin dan Salma akhirnya keluar dari kamar. "Dimana kebo nya bang?" tanya Anin keoada Raka.
"Dilapangan sana. Maaf ya sayang, hanya ini yang bisa abang lakukan. Sawah bukan musim balik tanah, tapi sudah musim tanam" ucap Raka kepada Salma.
"Harusnya adek yang minta maaf sama abang. Makasih udah mau nurutin kemauan adek. Yuk naik kebo nya" ucap Salma dengan senyuman.
"Ayo" jawab Raka tersenyum sumringah. Anin mengikuti kemana arah Raka.
.
.
.
Like
Komen
Vote
Tip
__ADS_1