
Bagas dan Anin sudah sampai di rumah Salma. Bagas membuka pintu rumah. Lalu dia menggendong Anin yang masih tidur. Tak tega Bagas membangunkannya.
Dia menidurkan Anin di sofa karena tidak tahu kamar Anin yang mana. Bagas merebahkan tubuhnya di sofa. Dilihatnya wajah Anin.
"Cantik, gak pernah kurang dari awal kita bertemu" Bagas tersenyum. Tapi senyumnya hilang saat mengingat Akbar hendak mencium kening Anin.
"Jangan pernah kamu berikan satu bagian tubuhmu untuk disentuh oleh lelaki lain kecuali aku Nin. Aku sungguh tak akan bisa menahan diriku yang terbakar cemburu"
Anin mengerjapkan matanya. Bagas yang tadi melihat wajah Anin dengan cepat berpura-pura main ponsel. Bagas melirik Anin.
"Udah bangun? Masih sakit gak kepalanya?" Tanya Bagas.
"Masih sedikit. Bisa tolong ambilkan obat penghilang nyeri gak?" pinta Anin.
"Dimana?"
Anin menunjuk ruang praktik Salma. Bagas menoleh dan beranjak dari sofa.
"Tolong ambilkan paracetamol, 1 saja"
Bagas menuju ruang praktik Salma dan mencari obat yang dimaksud. Dia juga mengambil minum untuk Anin dan kembali ke ruang tamu.
"Nih" Bagas menyodorkan obat dan air kepada Anin. Anin menerima nya dan langsung meminum nya.
"Udah istirahat sana. Yang tadi gak usah terlalu dipikirkan dulu. Lebih baik kamu jauhin Akbar deh"
Anin menoleh ke Bagas. Dia melihat ekspresi Bagas. Bukan ekspresi cemburu, hanya datar.
"Kenapa? Orang bang Akbar nya baik kok. Cemburu ya?? Ya kan??" goda Anin kepada Bagas
"Bukan masalah cemburu Nin, ini seriusan. Akbar bukan seperti yang kamu fikirkan. Mas gak pengen kamu kenapa-napa. Lebih baik jauhin dia dari sekarang" terang Bagas.
"Gak mau lah! harus ada alasan yang kuat kalau kamu nyuruh aku jauhin bang Akbar. Bilang aja cemburu, cemburu buta!"
"Ya! Ya mas memang cemburu! Maka jauhi lah Akbar!" Bagas meninggalkan Anin dan membanting pintu rumah cukup keras.
Anin masih diam. "Hmm, kalau kamu cemburu dan masih cinta kenapa dulu minta putus mas? Apa yang sedang kamu lakukan dengan hati kita? Kamu menyiksa hatimu sendiri, dan aku pun tersiksa. Kalau kamu tidak cemburu kenapa aku harus menjauhi bang Akbar? Hadeeehhh, bikin puyeng aja sih!"
.
Bagas menitipkan Anin kepada pak jenggot karena dia akan menemui kawan nya. Dia menemui mayor Indra dan Sani kembali ke kota.
Mereka berada di dalam mobil mayor Indra.
"Anin lo tinggal sendiri?" Sani membuka percakapan setelah Bagas masuk ke dalam mobil mayor Indra.
"Ada pengawal, ini serius satu provinsi diberi undangan semua? Ada uang transport dong ya?" tanya Bagas yang melihat di samping tempat duduknya ada satu kardus besar berisi undangan.
__ADS_1
"Yang ikhlas dong bantuin temen. Kemarin udah gue bantuin juga!"
"Iya deh iya!"
"Ndan, gimana pengintaian?"
"Pengintaian apa nih?" Sani memotong pertanyaan Bagas.
"Akbar Jayadi" jawab Indra singkat.
"Ya Allah yank, masih penasaran kamu sama dia?? Udah jelas kan dia memang usaha batu bara"
"Abang masih ragu yank, masih banyak kejanggalan. Menurutmu gimana Gas? Perusahaan yang tidak melakukan aktifitas apapun untuk pengolahan batu bara, tidak ada pula bahan baku dalam pengolahannya, melainkan hanya ada tumpukan kotak penyimpan ikan? Yang didalam nya juga tidak ada ikannya?"
"Kotak ikan?" Bagas mengulang pernyataan Indra.
"Ya, aku kira isinya ikan"
"Dimana lokasi nya Ndan, aku semakin penasaran dengan orang itu"
"Di desa perbatasan"
"Kenapa aku kemarin tidak menemukan apapun di desa itu?"
"Tuh denger sendiri dari Bagas kan? Nihil yank! Sudah lama aku mengincarnya, tapi licin sekali dia"
"Aku masih tidak tahu. Sampai aku sendiri yang terjun untuk memastikannya. Aku punya ide, agak gila sih. Tapi aku jamin pasti berhasil"
"Apa Ndan?" tanya Bagas penasaran.
"Bagaimana kalau kita minta tolong Anin untuk mengungkapkan jati diri orang itu?"
Bagas berpikir lama. "Tidak kah terlalu berbahaya melibatkan orang awam?"
"Orang awam itu dilindungi oleh mantan tunangan nya, jadi kenapa harus takut. Ayolah, kita hanya butuh peran Anin untuk melihat apakah memang dia pengusaha batu bara atau tidak. Cukup sampai situ saja. Selebihnya urusan kita"
"Hhhmmmm, kalian ini. Sudahlah, jangan bawa-bawa pekerjaan saat ini" Sani memotong lagi percakapan mereka.
"Dukung abang dong yank, kamu gak kasihan sama abang dipusingkan karena masalah ini?"
"Oke, aku akan bicara dulu dengan Anin. Aku harap sih dia mau. Nanti aku kabari lagi lah. Aku pun dipusingkan dengan misi ini. Tawanan yang aku tangkap dulu bisa lolos karena dibantu orang atas"
"Apa kasusnya?" tanya Indra
"Penyelundupan dan perdagangan senjata. Apakah dari Malay langsung bisa masuk ke Indo tanpa harus melewati pos perbatasan?"
"Bisa!" jawab Indra dan Sani bersama-sama.
__ADS_1
"Lewat mana??" tanya Bagas antusias.
"Perairan pawah, disana ada hutan yang memang digunakan bagi orang ilegal untuk keluar masuk"
"Apakah dekat pos perbatasan?"
"Dekat lah, tapi memang daerah itu tidak dijaga oleh tentara kita" terang Indra
"Kenapa tidak dijaga?"
"Mana aku tahu monyet, tanyakan sama atasan sana. Huah, ngantuk yank. Balik yuk"
"Ayok. Setelah ini mau kemana lagi Gas?" tanya Sani
"Pulang, kasihan Anin sendirian"
"Cieee, perhatian banget sih" ledek Sani.
"Ooohh jelas, makin ngerasa bersalah deh gue San kalo sampai dia kenapa-napa"
"Udah, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Fokus aja" Indra memberikan semangat pada Bagas.
"Iya, terima kasih sarannya" Bagas keluar dari mobil Indra. Mobil Indra melaju meninggalkan Bagas sendiri.
.
Rumah Salma.
Anin tidak bisa tidur. Dia gusar. Mondar mandir sendirian di dalam kamarnya.
"Kemana sih dia? Pulang apa gak? Apa aku telpon aja ya? Ah, gengsi dong. Sudahlah, tidur saja. Toh bukan siapa-siapa lagi"
Anin mencoba memejamkan mata. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Saat hendak terlelap Anin mendengar seseorang sedang mencoba membuka paksa pintu. Dia mulai ketakutan. Anin memberanikan diri untuk melihat siapa yang datang.
Anin berjalan mengendap-endap ke arah dapur dan mencari benda yang bisa melindungi dirinya. Benda yang paling dekat adalah wajan teflon. Segera dia meraihnya dan berjalan ke arah pintu utama.
Suara pintu yang sedang coba dibuka semakin dekat. Detak jantung Anin semakin tak karuan. Dia mengambil ancang-ancang untuk memukul orang yang mencoba membuka pintu itu.
"1 2 3" Anin menghitung dan membuka kuncian pintu. Pintu terbuka dan braaakkk braakk braakkk. Tiga pukulan menggunakan teflon mendarat di kepala, punggung dan lengan orang tersebut.
"Siapa kamu?? Pencuri ya?? Tolong?! Tolong?!" Anin berteriak meminta tolong.
Pak jenggot dengan sigap masuk ke dalam rumah. Saat pak jenggot hendak menghajar orang tersebut.
.
.
__ADS_1
.