Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 162


__ADS_3

Hari senin itu menjadi hari paling sibuk untuk mereka. Bagas dan rombongan harus kejar-kejar an dengan waktu untuk sampai bandara tepat waktu.


Ayah dan ibu yang sudah siap masih menunggu mereka.


"Lama banget sih, ayah telpon lagi gih. Bisa ketinggalan pesawat nanti kitaaa" pinta ibu kepada Ayah.


Ayah menelpon Bagas. "Cepetan, waktunya udah mepet nih. Ayah dan ibu sudah di lobby"


"Mereka lagi ngapain?"


"Kopernya ngambek gak mau turun bu"


"Ih ayah niii, yang bener dong jawabnya. Koper kalau punya kaki juga turun sendiri gak usah nunggu mereka"


"Hahaha, sabar lah bu."


Sementara itu Bagas dan Anin sudah siap. Raka masih membantu Salma berjalan. Anin bingung ada apa dengan sahabatnya itu.


"Sal, lo kenapa?" tanya Anin bingung.


"Ck, lo jangan kayak orang bego deh Nin" jawab Salma dengan wajah lesu.


Bagas dan Raka tertawa cekikikan. Anin semakin bingung dengan mereka.


"Emang apa yang salah sama pertanyaan gue sih?" tanya Anin sembari menghentikan langkahnya.


Raka dan Salma sudah berjalan terlebih dahulu. Bagas mendekati telinga Anin.


"Nanti kamu juga bakalan kayak gitu yank, tunggu aja" ucap Bagas sambil berbisik dan melangkah meninggalkan Anin yang masih mematung.


"Apaan sih maksudnya? Makin bingung deh gue sama mereka"


"Yank, ayooo, kamu mau kita batal nikah batalyon?" ucap Bagas menoleh ke belakang masih melihat Anin mematung di tempatnya.


Anin melangkah mensejajarkan dirinya dengan Bagas.


"Mas, tadi maksudnya apa sih? Gak ngerti aku nya"


"Kamu udah sarapan belum sih yank? Atau kemarin kepala kamu kejedot atau apa gitu? Kok otaknya hari ini lemot banget"


"Ish, apaan sih, tadi maksudnya apa mas?"


"Keppo, udah diem. Noh wajah ibu udah muram. Jangan berisik kalau gak mau kena semprot"


Anin langsung kicep melihat wajah ibu. Mereka menuju mobil dan melaju ke bandara.


"Kami pulang dulu ya nak, besok rabu nyusul ke Semarang. Akad nya jam 9 pagi" kata ibu sambil mencium pipi Salma.

__ADS_1


"Insyaallah bu, Salma ke Jogja dulu besok. rabu langsung pulang kampung"


"Ayo masuk, keburu pesawatnya terbang gagal nikah lagi Bagas" protes Bagas kepada ibu.


"Dasar ya! Yang bikin lelet tadi siapa? Ibu sampai ubanan nunggu kalian"


"Salma tuh bu, jalan kaya keong" sahut Anin.


"Udah-udah, malah berantem ayo" ucap Ayah.


"Hati-hati semuanya" ucap Raka dan Salma sambil melambaikan tangan.


Pesawat sudah lepas landas meninggalkan Kalimantan menuju pulau Jawa. Anin dan Bagas duduk bersebelahan.


"Yank, kamu inget gak kita pernah sebelahan begini setelah putus?"


"Inget, itu waktu tersulit buat aku. Aku sampai gak buka kacamata biar gak ketahuan sama kamu mata aku bengkak tahu mas"


"Saat itu mas sampai mikir, masa iya sih kutukan kamu itu berlaku?"


"Hahahah, makanya jangan macem-macem"


"Gak lagi, eh ini mas lupa" Bagas merogoh kocek nya dan mengeluarkan jam yang dulu pernah dikembalikan Anin.


"Masih kamu simpen?" tanya Anin


"Hahaha, tau gitu dulu gak aku balikin. Tak jual aja"


"Dipakai ya, setiap kamu lihat jam ini kamu akan mengingat mas"


"Mossssooooookkk"


"Iya ih, gak percaya? Buktikan"


"Mas, nanti nikah batalyonnya ngapain aja? Terus yang kemarin ngurus berkasnya siapa mas?"


"Diuruskan semua sama om Herman, hehehe, nanti pemeriksaan penelitian khusus dulu ya, semacam tes wawasan kebangsaan, terus Rikes alias medical checkup, pembinaan mental, terakhir menghadap pejabat kesatuan. Karena mas kapten maka kita menghadapnya hanya ke komandan batalyon. Om herman sama tante indira. Nanti kamu panggil tante Bu Suherman. Jangan tante Indira. Dikira mas gak ngasih tahu kamu. Pangkat sama NRP mas jangan lupa"


"Ashiaaapp"


"Udah siap bener jadi persit"


"Harus dong, emang kamu mau batal nikah lagi?"


"Hush ngomongnya, jangan dong. Makin lama lagi nanti mas solo karirnya"


"Hahahaha"

__ADS_1


.


Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno Hatta. Mereka pun turun dan menuju makam ayah dan bunda Anin. Mereka dijemput oleh supir om Herman.


Anin menuju makam ayah nya. Ayah memimpin doa untuk ayah dan bunda Anin. Ibu dan Anin menaburkan bunga diatas pusaran itu. Ayah sudah berkaca-kaca saat melihat pusaran itu.


"Assalamualaika Andi Wijaya, assalamualaika Nindya. Maaf kami baru sempat mengunjungi kalian. Ndi, lihatlah anak-anak kita. Mereka sudah tumbuh dewasa. Sama seperti janji kita dulu, kita akan menikahkan mereka saat dewasa. Mereka memang berjodoh Ndi. Besok rabu mereka akan menikah, datanglah di tengah-tengah kami meski raga kita telah berbeda. Kami mohon doa restu kalian untuk anak-anak kita. Kami akan merawatnya seperti anak kami sendiri. Kami menyayangi Anin kecil kita" Ayah tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ayah menepuk bahu Bagas dan berlalu meninggalkan Anin dan Bagas. Ibu mengikuti ayah kembali ke dalam mobil.


Berbeda dengan ayah Ardhi, Anin lebih tegar menyapa kedua orang tuanya itu.


"Ayah, Bunda. Anin datang kesini lagi. Bersama mas Bagas. Orang yang akan menjadi imam untuk Anin. Oh ya Yah, Bun, om Umang sekarang menjadi ayah Anin lho. Bunda sama Ayah seneng kan? Kalian tak perlu khawatir lagi terhadap Anin. Sudah ada lelaki hebat disamping Anin. Doakan kami ya Yah, Bun" Anin tersenyum dan menciun kedua batu nisan itu.


"Ayah, bunda, Bagas datang lagi. Kali ini bukan untuk meminta maaf seperti yang lalu. Tapi untuk meminta restu. Ijinkan saya menjadi imam untuk Anin. Menjadi pendamping Anin hingga menuju surga-Nya. Terima kasih Ayah, Bunda, kalian telah melahirkan seorang wanita yang tangguh. Bagas berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakannya" ucap Bagas sembari menyeka air matanya.


Anin mengusap punggung Bagas dan tersenyum. "Pulang yuk, kan harus ke batalyon. Yah, Bun, Anin pulang dulu ya. Nanti Anin kesini lagi"


Mereka beranjak dan meninggalkan makam itu. Hanya doa yang selalu tercurah untuk yang telah tiada. Anin dan Bagas berganti baju saat berhenti di pom bensin


Bagas dan Anin turun di Batalyon dan segera melakukan nikah batalyon. Cukup memakan waktu bagi mereka. Hingga ashar usai mereka baru selesai dengan rangkaian tes itu.


"Mau langsung tempat om Herman apa makan dulu yank"


"Langsung aja mas, udah gerah banget ini"


"Mas pinjem motor anak-anak dulu deh"


"Haish, pake ojek online aja sih"


"Yawes lah, pesen gih"


Bagas dan Anin menunggu taksi online mereka. Agak lama, tapi akhirnya datang juga. Mobil melaju meninggalkan batalyon. Anin baru ingat kalau dia belum mengunjungi ayah umang di rumah tahanan. Akhirnya dia meminta supir taksi itu diantar kesana dengan ditambahi biaya ongkos.


.


.


.


Like


Vote


Komen (kencengin dong)


Tip


Author istirahat bentar yaaa. Gempor rasanya kaki authoorr gaess

__ADS_1


__ADS_2