Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 142


__ADS_3

Anin membersihkan dirinya dengan mandi. Mimpinya itu seperti nyata. Ingatan nya kembali ke masa lalu.


"Om Umang, om yang selalu menemani ku saat kecil. Yang selalu memanjakanku. Selalu menuruti keinginan ku. Kenapa om? Kenapa om melakukan ini? Kenapa om tega mencelakai ayah dan bunda?" Anin berbicara sendiri tanpa mendapatkan jawaban.


Salma merasa sedikit khawatir dengan keadaan Anin. Salma berniat mengabari kakak nya. Anin kembali dari kamar mandi dan bersiap.


"Sal, jangan telpon mas Bagas. Gue gak papa. Nanti kalau gue udah siap gue ceritain ke lo" Anin bersiap dan merias dirinya.


Salma menyimpan kembali ponselnya dan bersiap membuka pelayanan. Anin duduk disamping Salma.


"Sal, gue bakalan ceritain ini. Tolong lo rekam. Perasaan gue agak gak enak soal ini" Anin meminta Salma merekam ucapan nya.


"Oke" Salma mengeluarkan kembali ponselnya dan mulai merekam.


"Waktu itu gue sekitar umur 13 tahun. Malam itu bunda mengemas pakaian ku. Biasa lah, jika ayah mendapatkan tugas maka aku dan bunda akan menginap di tempat tante Indira. Aku masih sibuk bermain dengan boneka ku di balik mobil. Tiba-tiba om Umang datang. Om Umang berbicara dengan bunda. Aku mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka.


Om Umang meminta kepada bunda agar ikut bersamanya. Dia bilang dia bisa lebih membahagiakan bunda karena dia lebih kaya. Bunda menolak nya, karena bunda hanya simpati terhadap om Umang. Om umang masih saja membujuk bunda. Dia masih bilang jika dia lebih kaya dan punya bisnis yang akan menjamin kehidupan kami kedepannya. Bunda bertanya bisnis apa yang sedang dijalankan om Umang.


Dengan gamblang om Umang bilang ke bunda kalau dirinya memiliki bisnis penyelundupan senjata. Bunda marah. Bunda murka. Aku dibawa ke dalam mobil oleh bunda. Karena ayah tak kunjung keluar maka bunda masuk ke dalam rumah dan memanggil ayah. Saat aku sendirian di dalam mobil, om Umang membuka pintu depan mobil dan memotong kabel rem mobil ayah. Aku mencegah om Umang, tapi om Umang menghempaskan tubuh ku hingga kepala ku terbentuk pintu mobil dan semua menjadi gelap.


Aku tersadar ketika mobil ayah menabrak pohon besar. Aku masih ingat sekali darah yang mengucur dari kepala ayah dan bunda. Om Umang datang untuk menolongku. Aku bilang dan berteriak om Umang jahat berkali-kali. Hingga aku pingsan kembali dan tersadar sudah berada di rumah sakit. Itulah kesaksian ku terhadap kejahatan masa lalu om Umang"


Anin menutup muka nya. Dia menangis mengingat kejahatan orang yang disayanginya. Dia menganggap om Umang adalah ayah kedua baginya. Hatinya sakit saat mengingat nama itu.


Salma mengakhiri rekamannya dan memeluk Anin.


"Ikhlaskan, biar hati kamu lebih tenang" ujar Salma sambil memeluk Anin.


.


Rombongan motor yang membawa senjata selundupan itu mengetahui jika mereka sedang diikuti. Mereka mempercepat laju motornya. Mereka berpencar sehingga memecah kesatuan tentara itu.


"Ikuti terus Akbar Jayadi, jangan sampai lolos" perintah Bagas kepada Raka.


Raka terus mengikuti kemana laju motor Akbar. Terjadi aksi kejar-kejaran di area persawahan. Raka berhasil mengimbangi laju motor Akbar. Saat akan menangkap Akbar terdengar suara tembakan.


Dor. Satu peluru berhasil mengenai ban motor bagian belakang yang dikendarai oleh Raka dan Bagas. Mengakibatkan mereka hilang kendali dan langsung jatuh. Bagas dan Raka pingsan.


Akbar berhasil meloloskan diri dari kejaran Bagas dan Raka dari bantuan seseorang.

__ADS_1


.


Salma dan Anin diantar oleh Agus serta Hendra untuk menuju jalan depan karena mereka sudah dijemput oleh supir puskesmas.


"Kak, nanti langsung masuk rumah. Dan jangan keluar jika tidak perlu. Kami mendapat kabar kapten dan bang Raka mengalami kecelakaan. Kami akan mencari tahu kondisinya. Doakan saja yang terbaik untuk mereka. Jangan khawatir" pesan Agus kepada Anin dan Salma.


"Bisakah kalian memberitahu keadaan mereka kepada kami jika sudah mengetahui kondisinya?" tanya Salma.


"Bisa, silahkan tulis nomor hp kakak di ponsel saya" ucap Hendra.


Salma lalu menuliskan nomor ponsel miliknya. Agus dan Hendra meninggalkan mereka yang sudah masuk di mobil puskesmas.


Mobil melaju meninggalkan desa. Ada rasa khawatir di hati mereka. Mereka hanya saling lempar senyum.


"Tenang Sal, pasti mereka baik-baik saja kok"


Salma tersenyum. "Yang kelihatan khawatir banget ya lo itu. Tenangin diri lo, mereka bakalan baik-baik saja. Mereka pria tangguh andalan kita"


"Hhmmm, ketahuan banget ya kalau gue khawatir?"


"Semua orang juga bakalan khawatir saat tahu orang yang penting bagi mereka kenapa-napa" jelas Salma.


"Doakan yang terbaik buat mereka aja deh" Anin dan Salma dalam keheningan doa nya meminta orang terkasih mereka dilindungi oleh Allah SWT.


.


Bagas dan Raka ditemukan oleh anak buah mayor Indra. Ban motor yang mereka tumpangi mengalami pecah ban karena ditembak oleh peluru.


Sani memastikan keadaan mereka baik-baik saja.


"Yank, gimana keadaan mereka?" tanya Indra saat melihat Sani keluar.


"Mereka baik-baik saja. Hanya goresan dan jahitan di bagian tubuh mereka" Sani menjelaskan kepada Indra.


"Gak ada luka dalam kan?"


"Gak ada yank, kami sudah melakukan rontgen menyeluruh untuk bagian tubuh mereka"


"Aku akan memberitahu komandan Suherman tentang keadaan mereka. Kamu punya nomor pacar mereka?"

__ADS_1


Sani menggeleng. Sani ingin meminta nomor ke Ana tapi di urungkannya.


.


Mobil puskesmas masih melaju di jalanan. Pak Rusdi memutar lagu untuk mengurangi kegalauan di hati mereka. Tiba-tiba saja mobil puskesmas itu diklakson oleh beberapa motor di belakangnya.


MereKa berpikir bahwa itu hanya motor warga yang hendak menyalip mobil puskesmas. Karena jalanan sempit pak Rusdi tak menghiraukan mereka.


Sampai akhirnya Salma menyadari ada yang aneh.


"Nin, pak, sepertinya kita sedang diikuti" ungkap Salma.


Anin menoleh ke belakang. Jujur saat ini dia takut.


"Sal, sepertinya mereka mengincar gue"


"Atau kita berdua?" jawab Salma.


"Oke tenang. Pak Rusdi tetep fokus menyetir. Saya titip ponsel saya. Nanti akan ada 2 orang tentara yang akan mencari kami. Tolong berikan ini padanya" Salma menyerahkan ponselnya kepada pak Rusdi.


"Mereka siapa sih Sal, Nin?"


"Gak tahu pak, fokus menyetir saja. Jangan hiraukan mereka" jawab Anin.


"Nin, aktifkan GPS lo, dan kirim pesan ke siapapun kalau kita sedang dalam bahaya" Salma memberi perintah kepada Anin untuk meminta pertolongan.


"Siapapun yang denger invoice gue, tolong! Kita dikejer rombongan motor!" Anin mengirim invoice ke semua kontak yang ada di ponselnya.


Belum ada yang membaca pesannya. Salah satu motor menyalip mobil puskesmas dan menghadang mereka.


"Gimana ini Sal, Nin?" pak Rusdi mulai ketakutan


"Turun!" teriak para pengendara motor itu sambil menggedor kaca mobil.


Mereka terpaksa turun dengan ketakutan di dada.


.


.

__ADS_1


.


Pagi-pagi udah tegang aja nih. Hahaha. Maaf ya... Semangat buat yang masih kerja. Like komen dan vote ya kawan 😘😘😘😘


__ADS_2