
Anin membersihkan wajahnya dari make up. Tari sudah bablas lebih dulu dalam alam mimpinya. Bahkan sekarang sudah ngorok.
klunting klunting klunting
Hp Anin berbunyi tiada henti. Dia malas untuk membalasnya. Tapi berisik sekali. Dengan berat hati Anin meraih hp nya dan membaca satu persatu pesan yang masuk. Tadi hanya dari Salma. dan sekarang bertambah dari Raka juga.
"Ya Allah, dua orang ini apa gak ada kerjaan sih. Gak ngantuk apa mereka"
Anin hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Sekarang video call dari Salma, mau tidak mau harus diangkatnya.
"Aniiiiiiiiiiinnnnnnnnnn, sumpah ya. Jahat banget sih lo! Gak ngasih tau gue kalo lo yang bakal jadi ipar gue! Jahat!" Repetan Salma membuat Anin tertawa
"Hahahaha, maaf maaf. Mana gue tau kalo Mas Bagas kakak lo. Secara dia juga gak pernah cerita kalo lo adiknya"
"Besok kalo lo sampai sini awas aja ya! Tau gitu gue balik tadiiiiii. Ihhhhh sumpahhh sebel gue sama lo!"
"Hahahaha, jangan sebel dong calon adek ipar. Wkwkwkwk"
__ADS_1
"Puas banget lo ketawa nya. Awas aja ya! Gimana ceritanya ketemu sama kakak gue?"
"Cerita gak yaaaaa? Hahahaha. Gak deh. Biar malem ini lo gak bisa tidur nyenyak! Wkwkwkwkwkw"
"Annnniiiiiiiiinnnnn, jahat banget sih lo! Cerita dong! Hp kakak udah dimatiin nih, bisa gak tidur sampe lo nyampe Kalimantan nih. Jangan bikin orang keppo dong!"
"Hahahah, udah dulu ya adek ipar. Kakak ngantuk mau bobok. Hahahaha. Bye" Anin mematikan video call nya. Tak lupa sekarang Anin mematikan hp nya.
"Met malem dunia. Makasih Ya Allah engkau memberi kebahagiaan kepada ku yang sangat amat. Jadikanlah Mas Bagas benar jodohku. Aamiin" Anin mulai mengatupkan kedua matanya. Rasa kantuk menyerang. Tak butuh waktu lama Anin sudah masuk dalam dunia mimpinya.
Anin sangat bahagia. Dilihatnya sebuah kursi taman dengan seorang lelaki. Tubuhnya tinggi. Kulitnya hitam. Pria itu tersenyum pada Anin.
"Ayah? Ini bener Ayah kan? Ini Anin Yah, anak Ayah" suara Anin bergetar. Menangis karena bahagia.
Lelaki itu hanya tersenyum memandang Anin.
"Ayah, Anin kangen banget sama Ayah" Sekarang Anin memeluk lelaki itu. Hangat. Itulah yang dirasakan Anin.
__ADS_1
"Anin, kamu sudah tumbuh dewasa. Ayah senang kamu menjadi orang yang mandiri dan pantang menyerah" Lelaki itu mulai percakapan.
"Ayah senang akhirnya kamu mendapat kebahagiaan. Kamu menemukan orang yang tepat Nak, dia orang yang akan menjaga kamu dan keluargamu kelak. Tugas Ayah mengawasi kamu sekarang sudah selesai. Ayah sudah bisa menitipkan kamu bersamanya. Saling menjaga lah kalian. Hingga kita bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama. Ayah pamit Nak. Tetaplah menjadi gadis kecil ayah" Lelaki itu beranjak dari duduknya. Dia mulai melangkahkan kakinya.
"Ayah, Ayah, Ayah mau kemana? Anin ikut Yah, jangan tinggalkan Anin sendiri lagi. Anin masih rindu dengan Ayah. Ayah.... Ayah....." Tiba tiba lelaki tadi sudah menghilang entah kemana. Anin mengedarkan pandangannya, berlari kecil mengitari taman itu, tapi tak didapatinya lelaki tadi.
"Ayah..... Ayah....." Anin memanggil dengan suara sendu. Kini air matanya keluar sangat deras. Seperti anak kecil yang diambil mainannya.
"Nin, Nin, lo mimpi apaan sih Nin?" Tari yang mendengar Anin memangis segera membuka matanya.
"Ri, kenapa?"
"Lo yang kenapa, lo ngigau nyebut apaan lah tadi. Mimpi apaan sih lo?"
Anin terduduk. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung tempat tidurnya, melihat jam dan mengusap mukanya.
"Gue sholat dulu deh Ri" Anin beranjak dan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Gue ikut" Tari mengekor Anin di belakangnya.