Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 118


__ADS_3

Pesawat khusus sudah mendarat di bandara. Bagas dan tim nya bergegas masuk.


"Misi lagi, uang jajan tambah, misi lagi, uang jajan tambah" kata Hendi sambil berjoged.


"Ini bocah memang aneh, tadi kau masih enggan meninggalkan kasurmu dan sekarang senang sekali bisa dapat misi lagi" balas Agus.


"Persiapkan hatimu nyet, karena kamu akan mendapatkan kejutan disana" ucap Raka sedikit bergumam membuat Bagas tidak mendengar karena bunyi bising pesawat.


Perjalanan udara ditempuh hanya dalam waktu 1 jam. Bagas hanya diam merenungkan ucapan komandan. Anin adalah incaran dan ancaman bagi Edi, itu sebabnya dia selalu dalam bahaya.


Bodoh! umpat Bagas dalam hati.


Raka melihat sahabatnya hanya diam saja, menepuk bahu nya.


"Lo kenapa nyet?" tanya Raka.


"Hmmm, gak papa. Cuma bingung aja minta data yang dimaksud komandan ke Anin. Pasti sulit untuk mengajaknya bicara. Dia biasanya kalau gak mau bicara dirayu pakai apa mbel biar luluh?" ucap Bagas berbohong.


"Mmm, apa ya? Dia itu tipenya kayak lo kalau lagi marah. Gak bakalan mumpan kalau pakai omongan rayuan. Pikirlah sendiri, selamat berjuang kawan! Musuhmu yang sebenarnya bukan Edi. Edi bisa kita taklukan dengan senjata. Tapi kalau Anin? Hahaha. Gue gak mau ikut campur. Jadi minta bukti itu sendiri dengan cara lo sendiri" ucap Raka tidak mau berkompromi dengan Bagas.


"Mbel, sebenarnya lo sama Anin nih ada hubungan apaan sih? Sampai-sampai lo lebih belain dia daripada gue!"


"Adik dan kakak! Gue bela yang benar bukan bela pengecut kayak lo. Gak usah cemburu, toh lo sama Anin udah berakhir kan? Wajar saja jika nanti gue atau yang lain mendekatinya"


"Sialan lo! Bantuin dong mbel, buktinya harus sampai di tangan komandan sebelum kita penyamaran nih" Bagas memohon kepada Raka


"Kita mulai penyamaran kapan kapt?" tanya Hendra.


"Seminggu setelah kita sampai. Mbel, bantuin pokoknya! Ini perintah kapten!" ucap Bagas


"Mending lo hukum gue daripada bantuin lo nyet! Minta sendiri ke Anin! Lo tahu dia dimana?" tanya Raka.


Bagas menggeleng.


"Hadehhh, semangat mencari bukti sendiri, pokoknya jangan ada yang bantuin kapten dapetin bukti dari Anin. Kapten kita hutang maaf sama perempuan pujaan hatinya!" ucap Raka kepada semua rekannya.

__ADS_1


Bagas pasrah tak tahu lagi harus minta tolong dengan siapa. Kamu dimana Nin? Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.


Mereka sudah turun di Bandara dan melapor ke batalyon. Mereka langsung dikirim ke kota tujuan mereka. Bagas dan kawan-kawannya difasilitasi mobil sendiri. Mereka menuju kota yang dituju.


.


Puskesmas x


Anin dan Salma mendapatkan tugas untuk menjaga pustu di desa x, perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Anin dan Salma tengah sibuk memasukkan keperluan mereka. Setelah dirasa siap, mereka masih harus menunggu pak Rusdi, sopir puskesmas.


"Sal, gue beli jajan dulu ya. Lo mau apa? Gue belikan sekalian"


"Mmm, permen sama coklat deh Nin. Gue nunggu pak Rusdi ya. Lo ditoko biasanya kan?"


"Iya, yaudah gue kesana dulu"


Kompleks puskesmas Anin itu terdiri dari beberapa gedung penting mulai dari ujung jalan adalah puskesmas x, ada SMA x, ada SMP x, ada SD x dan KODIM. Anin membeli camilan di toko dekat dengan SD. Jarak yang lumayan jika harus berjalan kaki. Dengan langkah santai Anin berjalan. Dan sudah sampai warung saja.


"Bu, beli jajan ya" ucap Anin sambil memilih jajanan. Ada seorang nenek yang juga membeli keperluan sehari-hari disana.


"Beli beras sama telur, tapi uangnya kurang, jadi hanya beli telur saja nak" jawab nenek itu. Anin mengenal nenek itu karena rumahnya dekat dengan area puskesmas. Dia adalah penjual gorengan dan hidup hanya berdua dengan sang suami. Anaknya telah lama meninggal karena kecelakaan


"Bu, tambah beras 2 kilo ya, buat nenek. Nanti saya yang bayar" kata Anin.


"Jangan nak, nenek masih ada beras sisa sedikit kok masih cukup untuk hari ini"


"Gak papa nek, Anin ikhlas, kan nenek yang sering bilang ke Anin, kalau rejeki harus diterima. Tidak boleh ditolak" sanggah Anin


"Makasih ya nak, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan untuk mu. Nanti kalau ada uang nenek buatkan pisang goreng kesukaan mu" balas nenek itu.


"Iya, terima kasih" Anin sibuk memilih camilan, dan sang nenek sudah menerima beras itu.


"Nenek duluan ya. Sekali lagi terima kasih nak" ucap nenek itu berpamitan kepada Anin. Anin masih melihat nenek itu, saat hendak menyeberang ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang karena jalanan agak sepi. Nenek itu masih menyeberang dan belum sampai ke tepi jalan. Anin yang melihat situasi itu langsung berlari dan mengejar nenek itu.


Ciiiitttt, bruukkk.

__ADS_1


Suara rem mob diinjak dengan kerasnya, Anin dan sang nenek ambruk ke tepi jalan saat Anin berhasil meraih tangan si nenek.


"Aduh! Hampir saja nyet! Lo kenapa sih ha? Gak fokus banget nyetirnya!" Raka mengumpat kepada Bagas dan segera turun dari mobil untuk membantu korban. Bagas dan yang lain pun juga ikut turun dan membantu si korban. Mobil puskesmas yang baru saja tiba juga ikut membantu si korban.


"Addduuuuhhh sakiiiiittt" ucap Anin meringis kesakitan karena bahu nya terbentur trotoar. Sedangkan si nenek terluka di bagian tangan . Beras dan telur berhamburan. "Nenek, nenek baik-baik saja?" imbuh Anin melihat siku nenek sedikit mengeluarkan darah.


"Nenek tidak apa-apa. Kamu sendiri bagaimana?"


"Anin gak papa kok nek" Anin hendak berdiri dan menolong nenek, tapi sudah didahului oleh Raka dan teman-temannya. Salma yang melihat itu juga langsung mendatangi Anin.


"Lo gak papa Nin? Busyet baju lo kotor semua"


"Gak papa, mending lo obatin nenek dulu deh, gue mau bersihin baju dulu" ucap Anin sambil berdiri. Saat sudah berdiri ada seorang pria yang berdiri di hadapannya. Mengenal? Sangat! Bagas Ardhitama yang ada dihadapan matanya. Seketika tubuh Anin bergetar. Hatinya sakit kembali melihat sosok itu. Air mata nya sudah berkumpul di pelupuk matanya. Bagas hanya bisa berdiri mematung sama hal nya dengan Anin.


Sebelum air mata nya tumpah, dia balik badan. Ingin lari tapi kakinya sungguh sulit untuk bergerak. Ingin minta tolong dengan Salma, tapi tenggorokannya tercekat tak mampu berusara.


"Nin, kamu gak papa? Ada yang terluka?" ucap Bagas.


"Jadi kamu yang bawa mobilnya?" balas Anin.


"Aku minta maaf"


"Jangan meminta maaf padaku, temui lah nenek itu dan pertanggung jawabkan kesalahan mu" ucap Anin dan pergi meninggalkan Bagas masuk ke area SD dan membersihkan diri disana.


Raka dan Salma melihat dari kejauhan.


"Its show time kapt!" ucap Raka.


"Abang jangan pikirkan mereka. Pikirkan bagaimana cara kita mengatakannya kepada kakak, jangan sampai telinganya mendengar dari orang lain bang"


"Iya, abang tahu"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2