
"Udah sekarang kita bahas rencana besok sabtu" Bagas mengalihkan pembicaraan.
"Terserah kamu Gas, Ibu udah gak mood! Ibu mau tidur aja. Anin, maaf ya ibu tinggal dulu" Ibu meninggalkan semuanya yang ada di ruang tamu.
"Yang dipamitin Anin aja nih Bu, cowok ganteng dianggurin nih?" Kata Ayah mencoba merayu Ibu.
"Ayah malam ini tidur di sofa! Gak ada tapi tapi!"
"Ibu tega nih, Ayah nanti kedinginan lho Bu. Ibu cantik, Ibu sayang" Ayah masih merayu Ibu tapi tidak ditanggapi Ibu.
"Nasib nasib, gegara bela kamu nih Gas"
"Hahaha, kok Bagas lagi kena nya. Oke sekarang bahas besok sabtu aja"
"Nin, bilang sama paman kamu kami datang selepas maghrib. Kami hanya membawa keluarga kami yaitu Ayah, Ibu, dan tentu saja Bagas"
"Iya Yah"
"Oya, kamu tidak perlu repot untuk menyajikan makanan sayang, Ibu udah pesankan katering makanan dan nanti ada orang yang akan menata semuanya"
"Iya Yah"
"Baju kalian sudah disiapkan Ibu di ruang londry. Nanti pas pulang diambil ya, jangan lupa"
"Iya Yah"
"Ya sudah, Ayah tinggal dulu ya. Ayah mau istirahat" Ayah mulai berdiri dan hendak meninggalkan Anin dan Bagas.
"Ayah mau kemana?"
"Ke kamar Ayah lah"
"Ayah lupa, tadi pesen ibu gimana Yah?"
"Alamaaaaakkkk, gara gara kamu sih Gas. Kamu tidur di sofa. Ayah tidur kamar kamu"
"Enak aja Ayah, tidur di kamar tamu dong Yah"
"Lhaaah, masak pemilik rumah harus tidur di kamar tamu. Kamu yang pindah ke kamar tamu ya Gas"
"Terserah Ayah aja sih, hahahah. Selamat menjomblo malam ini komandan!"
"Ejek aja terus Gas" Ayah berlalu dan menuju kamar Bagas.
.
"Yank, tolong siapin makanan buat mas ya. Bikinin susu coklat anget. Mas mandi dulu"
__ADS_1
"Iya"
Bagas menuju kamar nya bersiap untuk bersih bersih diri. Sementara Anin melakukan yang dikatakan Bagas.
.
Ibu keluar dari kamar dan menghampiri Anin yang sedang ada di dapur.
"Nin"
"Eh, Ibu" Anin terkejut akan kehadiran Ibu.
"Kamu sudah selesai?" Ibu melihat Anin yang sedang mengaduk susu coklat pesanan Bagas.
"Sudah Bu, Ibu masih marah sama Ayah dan Mas Bagas?"
Ibu duduk di kursi meja makan disusul dengan Anin.
"Ibu bukan marah Nin, Ibu takut. Kamu tahu apa itu pasukan black stones?"
Anin menggeleng tanda tidak tahu.
"Pasukan itu adalah pasukan khusus yang dibentuk untuk menyelesaikan misi misi khusus. Mereka bekerja berdasarkan instruksi khusus dari komandan mereka. Tidak tahu berangkat kapan pulang kapan. Kita yang di rumah selalu was was. Mereka bisa pergi berbulan bulan. Dan kita tidak pernah mengetahui kabar mereka, hidup atau mati"
"Ayah Bagas dan Almarhum ayah mu dulu adalah mantan black stones" Ucap Ibu kembali.
"Tentu saja sayang, Ibu pernah diteror waktu mengandung adiknya Bagas. Kaca rumah dilempar dengan batu besar. Saat pagi ibu mendapat kiriman ayam yang disembelih entah berapa hari. Tapi baunya sangat busuk"
"Lalu apa yang Ibu lakukan?"
"Ada enaknya jadi anggota black stones karena kita sebagai orang terdekat mereka akan dilindungi. Lalu waktu itu, ibu langsung diamankan di rumah aman, begitulah mereka menyebut rumah itu"
"Ibu bukannya mau menakut nakuti kamu sayang, tapi Ibu ingin kamu tau yang sebenarnya. Karena Bagas tidak akan memberitahu mu karena itu sangat rahasia. Pikirkanlah jika dia meminta pendapatmu"
Anin mulai diam tak bergeming. Ibu mengelus elus punggung Anin.
"Ibu tinggal ke kamar dulu ya" Ibu kembali ke kamarnya.
.
"Yank, tolong siapin makanan ya"
Anin mengangguk dan menyiapkan makanan untuk Bagas.
"Kamu gak makan yank?"
"Gak laper mas, mas makan sendiri aja ya? Anin temenin aja"
__ADS_1
Anin duduk di sebelah Bagas. Bagas melahap makanannya.
"Mas, black stones itu apa sih?"
"Pasukan khusus"
"Kerjanya ngapain aja, kok sampe Ibu marah begitu"
"Gak ngapa ngapain, cuma latihan senjata, latihan bela diri"
"Bohong!"
Bagas menghentikan makannya ketika mendengar Anin menaikkan intonasi bicara nya.
"Ibu ngomong apa aja ke kamu?"
"Aku cuma pengen kamu jujur"
"Ibu udah cerita apa aja?"
Anin diam.
"Mas antar kamu pulang"
"Gak usah, Anin bisa pulang sendiri"
"Jangan marah, harusnya kamu bisa dukung mas"
"Gimana aku bisa dukung, kalo kamunya gak jujur"
"Mas gak bisa jelasin. Maafin mas"
"Gak perlu minta maaf, aku perlunya kejujuran. Kerjanya ngapain aja?"
"Bisa gak kita bahas ini nanti aja?"
"Terserah kamu, Anin pamit. Assalamualaikum"
"Nin, nin, Anindya Wijaya! Berhenti disitu! Mas ambil kunci motor dulu!"
Anin yang dibentak oleh Bagas tersentak kaget.
.
.
.
__ADS_1
Baikan maraham baikan lagi marahan lagi. Duh deeeekkkk gak cape apa? 🤣🤣. Sabar ya readers. Author lagi demen ngaduk ngaduk perasaan. Peace