
BAGAS POV
Hatiku sesak. Gusar. Gundah. Gadis yang amat kucintai sedang menjadi sandera. Mereka ingin barter dengan tahanan yang berhasil ditangkap oleh ku dan tim ku.
Komandan mengumpulkan kami. Beliau masuk ke barak kami. Kami memberikan hormat padanya.
"Target kalian adalah menyelamatkan seorang gadis bernama Anindya Wijaya, usia 25 tahun. Dia menjadi sandera karena ingin barter dengan tahanan kita. Selamatkan gadis itu. Bawa padaku pelakunya. Waktu kalian hanya 3 hari dari sekarang. Bersiaplah karena prsawat akan mengantarkan kalian di Semarang" ucapnya.
Aku tak percaya dengan yang dikatakan oleh Komandan ku. Ku kira mereka hanya omong kosong untuk melindungi orabg terkasih kami. Tapi inilah nyatanya. Hatiku bahagia, karena ada harapan untuk menyelamatkan gadis ku.
Raka menghampiri ku. Menepuk bahu ku. Aku tersenyum kepadanya. Aku dan tim ku bergegas ke bandara. Pesawat khusus itu hanya mengangkut kami. Tak butuh waktu lama, hanya 1 jam kami sudah mendarat di Semarang. Aku menghubungi ayahku. Beliau memberikan koordinat lokasi Anin.
"Oke, sasaran utama kita adalah selamatkan sandera. Seperti biasa, kita akan langsung tanpa pengintaian karena kita dibantu oleh kelompok bodyguard disana. Amankan pelaku. Minimalisir penggunaan peluru" ucapku kepada tim ku.
Aku berjalan paling akhir. Para tim ku menghajar habis penjaga yang ada di gudang tua itu. Dengan cepat kami sudah masuk ke dalam. Ternyata di dalam sudah ada kawanan bodyguard itu. Ku lihat gadis ku, dia duduk dengan tangan terikat dan kaki pun terikat.
Dor.
Suara peluru menggema di udara. Pelaku itu sedang menggertak kami untuk tidak main-main dengan nya. Dengan cepat aku mengambil peluang itu.
Srek grep. Kutodongkan pistol ku padanya. Raka membantu ku melepaskan Anin dari ikatannya. Aku lengah, saat itu kulihat air mata gadis ku menetes. Dengan cekatan pelaku itu menarik tangan Anin dan menodongkan pistol di kepalanya. Aku mengubah posisi ku. Pelaku itu berjalan mundur ke arah pintu sebelah utara.
Bugh
Pelaku itu dipukul dengan kayu oleh sahabat gadisku.
Ha? Gampang sekali pingsannya? Gak jadi drama james bond dong gue? aku membatin dalam hati.
Berani sekali gadis itu. Dia segera membawa gadisku lari dari gudang itu.
AUTHOR POV
"Ri, Ri, biar gue yang bawa mobilnya" ucap salah satu tentara itu.
Anin dan Tari bingung.
__ADS_1
"Ayo cepat masuk, mau tertangkap lagi?" ucapnya lagi membuat lamunan Anin dan Tari buyar. Dengan segera mereka masuk mobil. Orang tersebut menggunakan masker jadi Anin dan Tari tidak mengenalinya.
Orang itu menarik maskernya turun hingga leher.
"Huft, ku kira ini akan sulit. Lo berani banget sih Ri? Tahu begitu kami gak usah datang nyelametin Anin" ucap pria itu.
"Bang Raka!" pekik mereka berdua.
"Hey girls, kaget ya? Hahaha?"
"Kalo abang disini berarti tadi ada Mas Bagas dong!" ucap Anin
"Ada gak ya? Nanti kita lihat saja. Sekarang pulang dulu ke rumah Ayah Ardhi" jelas Raka.
Anin dan Tari hanya mengangguk.
"Nin, maafin gue ya? Gue maksa ke pantai, coba tadi lo dengerin omongan si Tristan, pasti gak bakalan kayak gini" ucap Tari penuh penyesalan.
"Lo gak salah, gue gak papa kok Ri. Gue seneng lo berani nyelametin gue kayak tadi"
"Makasih ya Bang, udah datang nolong Anin. Anin kira emang Mas Bagas gak bakalan selametin Anin. Karena pelaku tadi bilangnya dia gak mau barter hanya karena Anin disekap"
"Tapi emang bener Nin, Bagas emang bilang sama Komandan kalau jangan melakukan barter apapun. Komandan hanya menyuruh kami bersiap dan gak tahunya untuk menyelamatkan kamu"
"Aaahhh, so sweet banget sih komandan nya..." ucap Tari
.
Ayah dan Ibu menanti dengan harap cemas. Ayah gusar kesana kemari. Mobil yang ditumpangi Anin baru saja sampai. Ibu yang mendengar deru mobil langsung membuka pintu. Anin yang baru saja turun langsung dipeluknya. Ibu menangis. Anin mengusap punggung Ibu.
"Anin gak papa kok Bu, Ibu tenang ya" ucap Anin menenangkan Ibu.
Ibu tak menjawab melainkan membawa Anin masuk ke dalam rumah. Ayah lega dan bahagia melihat Anin masih utuh tak terluka. Tari dan Raka mengekor di belakangnya.
"Kau tidak papa kan Nin?" tanya Ayah
__ADS_1
Anin mengangguk. Ibu memberikan minum kepada Anin, Tari, dan Raka. Tak lama ada sebuah mobil lagi yang masuk.
"Assalamualaikum" ucap Bagas
Anin melihat Bagas cukup lama. Bagas tersenyum padanya, mendekati Anin dan memeluknya.
"Maafin mas ya, membuatmu dalam bahaya" katanya sambil masih memeluk Anin.
"Lepasin dulu, sesak nafas aku nya mas" Bagas melepaskan pelukannya.
Tristan yang baru sampai ikut duduk di sebelah Bagas.
"Yah, ayah yang benar saja. Masa menyuruh Tristan untuk menjaga Anin. Cari orang lain aja. Bocah teledor kayak begini" ucap Bagas memprotes Ayah.
"Enak aja teledor! Ini gara-gara Tari! Udah aku bilang dirumah aja dulu. Nanti kalau ada waktu aku antar ke pantai. Ini malah pada ngeyel ke pantai! Salah siapa?! Aku?!" Tristan tak terima dibilang bocah teledor oleh Bagas membela dirinya.
Tari yang mendengar kata pedas Tristan hatinya sakit.
"Nin, gue balim ke apartemen dulu ya. Gue gak pengen ganggu kalian. Bu, Yah, Mas, Bang, Tari pamit. Assalamualaikum"
Semua orang yang ada di situ melirik ke Tristan. "Apa?! Gue lagi?! Ya Allah, serba salah gue!"
"Kejar gak??" hardik Bagas
"Gak! Gak mau gue. Emang dia yang salah kok!"
"Tristan!?" ucap Ayah
"Iya deh iya, gue kejar dia! Salah terus!" Tristan dengan langkah berat mengejar Tari dengan mobilnya.
.
.
.
__ADS_1