
Halo? Assalamualaikum mbak Anin ya? ucap suara di ujung telpon
"Wa waalaikum salam, ini siapa ya?" tanya Anin yang sedikit lega karena yang mebelpo.mn seorang wanita.
Ini bu bidan Sari, saya sedang pelatihan di Bandung mbak. Saat ini ada orang yang akan melahirkan. Bolehkah saya minta tolong sama mbak Anin?
"Tapi kan, saya gak punya SIPB kerja di tempat ibu. Nanti kalo ada apa apa bagaimana bu?" jawab Anin
Saya sudah menghubungi partner saya mbak, tapi di tempatnya juga masih ada lahiran. Nanti yang tanggung jawab saya dan teman saya mbak Anin. Saya hanya minta tolong periksa keadaan orang yang akan melahirkan itu dan berikan informasinya ke saya. Bisa?
"Mmmm, bisa bu. Saya sedang di luar tapi saya usahakan secepat kilat ke rumah ibu. Kalo begitu saya tutup telponnya ya bu"
Alhamdulillah, terima kasih mbak Anin, semua peralatan sudah ada di troli. Alat itu semua sudah steril jadi bisa langsung dipakai. Tolong cepat ya mbak, karena pasien saya hamil anak kedua. Tau sendirinkan bagaimana kondisi jalan lahirnya jika sudah dobel?
"Iya bu, saya sudah jalan" Anin menarik tangan Tari dan melambaikan tangan pada Angga menuju rumah bu bidan Sari.
Tolong nanti kabari saya ya mbak, Assalamualaikum
"Waalaikum salam" ucap Anin dan Tari bersamaan.
Tari segera melajukan mobilnya secepat kilat membelah hingar bingar kota. Jalanan agak lenggang memudahkan Tari dengan leluasa menambah kecepatan mobilnya.
.
Anin dan Tari sudah sampai di rumah bidan Sari. Mereka disambut dan dipersilahkan masuk oleh suami bidan Sari. Anin dengan cepat mencuci tangannya memakai sarung tangan steril dan mulai melakukan periksa dalam jalan lahir.
"Tarik nafas ya bu saat nanti saya colok. Coba rileks aja" Anin memasukkan kedua jarinya dalam jalan lahir itu dan menerawang sebentar
"Ibu, tadi kerasa ada cairan yang keluar selain lendir darah tidak bu?" tanya Anin kepada pasien itu
"Iya bu, tadi keluar ketuban kayaknya" kata pasien itu.
"Ri, tolong telponkan bu Sari dong. Bilangkan tensi normal, pembukaan lengkap ketuban pecah posisi terendah kepala ubun ubun kecil"
__ADS_1
"Siap" Tari meraih hp Anin dan menelpon bidan Sari.
Dengan cekatan Anin memasang infus, mengambil peralatan untuk melahirkan.
"Nin, lo yakin mau nolong sendirian. Lo kan gak punya ijin disini. Nanti kalo ada apa apa gimana?" Tari bertanya bodoh pada Anin
"Lo tega liat orang yang udah mau melahirkan gak lo tolong?"
Tari menggeleng. Akhirnya dia pun ikut bersiap untuk membantu Anin.
"Tarik nafas dalam dalam bu, buang dorong seperti orang mau buang air besar. Iya pintar, terus, tarik nafas lagi. Ayo bu, dikit lagi... lagiii...
oeeekkk oekkkk
Bayi lahir selamat. Anin dengan cepat membersihkan dan menyelimuti bayi itu. Memotong tali pusatnya. Tari menyuntikkan oksitosin kepada pasien. Anin meletakkan bayi itu di dada sang ibu.
"Selamat ya Bu, anak perempuan. sekarang tinggal ari ari nya ya, ibu dorong sedikit saat ada aba aba dari saya"
Anin melihat tanda pelepasan plasenta
Tari memeriksa plasenta itu. Anin mengecek ada tidaknya robekan
"Nin, ada sedikit yang tertinggal!" Tari terlihat panik
Dengan cepat Anin mencari bagian yang tertinggal. Benar saja. rahim pasien tidak berkontraksi. Perdarahan banyak seperti keran yang dibuka. Anin merogoh jalan lahir itu dicarinya bagian itu.
"Dapat!" Dengan segera perdarahan berhenti. Tampak ekspresi lega dari wajah Tari dan Anin.
"Ri, lo yang jahit ya. Gue gak tega kalo jahit. Oke?"
"Iya, biar gue yang jahit" Tari dengan lihainya menjahit bagian yang robek. Tak butuh waktu lama Tari selesai menjahit.
"Maaf ya mbak Anin, saya telat ya. Udah selesai semua ya?" ucap orang yang baru datang tak lain teman bidan Sari.
__ADS_1
"Eh, gak papa bu. Maaf Anin lancang nolong sendiri"
"Tidak tidak, saya yang harusnya minta maaf. Saya makasih banget lho mbak. Di tempat saya juga ada lahiran. Ini saya suruh mahasiswa yang lagi praktik nungguin. Kalo gitu saya langsung pamit pulang aja ya"
"Gak mau dicek dulu bu?" Tari bertanya
"Gak usah, wong kalian udah mahir begitu kok. Tolong diawasi ya. Kalo ada apa apa telpon saya. Tadi saya miscall tapi tidak diangkat. Itu nomor saya"
"Baik bu" Jawab Anin dan Tari bersamaan.
.
.
.
Rembulan berganti matahari. Anin sudah mempersiapkan kepulangan pasien. Tari memandikan bayi mungil itu.
"Pak, bu. Nanti 3 hari lagi kontrol nya di bidan Ari saja ya. Soalnya belum tahu bidan Sari nya kapan pulang dari Bandung" Kata Anin kepada suami pasien.
"Baik mbak"
"Ri, lo anter pake mobil lo aja deh. Biar cepet. Gue bikin laporan dulu"
"Siap! Mari bu pak saya antar" Tari berjalan mendahului pasien itu.
.
Anin menyelesaikan laporannya. Dia hendak pulang. Dia berpamitan pada suami bidan Sari. Anin memutuskan berjalan kaki. Hawa sejuk dihirupnya dalam. Tiba tiba ada yang memukul tengkuk Anin membuatnya pingsan.
.
.
__ADS_1
.