
Aszan subuh berkumandang, menyadarkan Bagas kalau dirinya harus segera bangun. Bagas menempelkan tangannya di dahi Anin yang masih terlelap.
"Alhamdulillah sudah turun panasnya" Bagas mencium kening Anin dan bergegas pulang. Saat melewati ruang tamu Bagas melihat Tari yang tidur di sofa sambil mendengkur keras dan ngiler.
"Woi bangun, gue mau balik. Gue titip Anin" Bagas menggoyang goyangkan kaki Tari.
"Hmm" Hanya itu jawaban Tari. Tari menggeliat ke arah kanan dan
bruk
"Aduuuuhh, sakit...." Tari mengaduh sakit karena terjerembab ke lantai
"Hahaha, makanya. Udah subuh. Bangun gih. Gue balik dulu"
Tari mengucek matanya dan mengerjap. Dilihatnya Bagas sudah hendak mengeluarkan motornya.
"Hati hati ya mas, ntar pintunya tutup lagi"
"Oke" Bagas berhasil mengeluarkan motornya dan segera menutup pintu rumah Anin.
Bagas melajukan motornya meninggalkab rumah Anin.
.
.
.
Ayah yang sedang senam pagi menyapa Bagas.
"Gimana Anin?"
__ADS_1
"Assalamualaikum yah, sabar dong. Belum juga ucap salam cium tangan udah ditanya aja" Bagas berucap sambil mencium punggung tangan ayahnya.
"Waalaikum salam, cepetan cerita!"
"Iya yah, semalem Anin demam. Sekarang udah turun sih demamnya. Maaf semalam Bagas tidak memberi kabar. Bagas siap siap ya yah, takut telat"
"Oke" Ayah melanjutkan senamnya.
.
.
.
"Uhuh uhuk uhuk" Anin terbatuk karena terkena hujan kemarin.
"Haduh, sakit banget tenggorokan gue. Ri, Tari" teriak Anin memanggil Tari membuat tenggorokannya semakin sakit.
"Apa sih Nin, gue masih ngantuk"
"Iya iya. Mau sarapan apa? Lo minum anget dulu gih biar gak sakit tenggorokan lo"
"Nasi rames pake telor aja"
"Siap nyonyah!"
Tari hanya membasuh mukanya sebentar merapikan rambut dan bergegas membeli sarapan di gang depan.
Bagas baru saja sampai rumah Anin. Dilihatnya sang pujaan hati duduk di teras sendirian sambil menyeruput air putih hangat.
"Mas, kamu gak capek apa baru aja pulang sekarang udah harus berangkat kerja lagi"
__ADS_1
"Mas gak bisa ijin Yank, mas selama sebulan ini harus menyiapkan pasukan kompi mas untuk latihan operasi militer" Bagas turun dari motornya dan duduk di samping Anin
"Bawa rantangan tiap hari, gak enak Anin sama Ibu"
"Gak papa"
"Mas mau sarapan? Anin ambilin ya"
"Gak usah, mas udah sarapan tadi di rumah. Mas langsung berangkat ya. Takut telat"
"Oya mas, nanti Anin mau ke kafe x"
"Ngapain? lagi sakit juga, istirahat dirumah aja"
"Tapi Anin udah terlanjur janji sama seseorang"
"Seseorang? Siapa? cewek apa cowok?"
"Cowok"
"Hora Iso" Bagas berbicara dalam bahasa jawa yang artinya tidak bisa.
"Hahaha, aduh aduhh tenggorokan Anin sakit. Boleh ya mas, Anin gak bakalan macem macem. Yang mau Anin ketemuin itu kak Adit. Dia mau minta maaf sama Tari. Cuma itu"
"Bener ya, awas kalo nakal. Mamah nya Tari gimana?"
"Lagi sidang cerai. Tari juga sekarang udah tinggal di apartemen dia sendiri. Dia belum bisa maafin tante Nam"
"Ya sudah, nanti kabari Mas ya. Udah ya mas berangkat dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, hati hati sayang" Anin mencium punggung tangan Bagas.
__ADS_1
Bagas yang dipanggil dengan sebutan sayang bagai melayang di udara. Pipinya merona, hatinya bahagia.
Ah, gue beneran jatuh cinta sama ini cewek. Sayang....sayang....sayang. Aduh kenapa gak dari dulu aja sih kenalnya sama dia