Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 114


__ADS_3

Anin transit terlebih dahulu di Jakarta. Karena waktu transit hanya 2 jam Anin dengan segera menuju makam ayah dan bunda nya. Anin segera mencari taksi dan menuju makam pahlawan. Di sepanjang perjalanan Anin hanya diam melihat keluar jendela. Perjalanan agak macet, biasa lah Jakarta. Anin teringat akan mimpi nya. Mimpi dimana dia bertemu dengan sang ayah, yang mengatakan bahwa dia bertemu laki-laki yang akan menjaga nya.


"Menjaga apanya, bikin sakit hati iya" gumam Anin lirih.


Dibelakang taksi Anin, Bagas menggunakan ojek online mengikutinya.


"Jangan sampai ketinggalan ya mas" ucap Bagas kepada pengemudi ojek itu.


Anin sudab sampai makam pahlawan. Dia menanyakan kepada penjaga makam lokasi makam ayah nya. Dengan senang hati Anin diantar oleh petugas itu.


"Ini mbak, saya permisi dulu" ucap penjaga itu.


"Terima kasih ya pak" balas Anin


"Sama-sama mbak"


Di balik pohon ada seseorang yang masih setia memperhatikan Anin. Siapa lagi jika bukan Bagas?.


"Yah, Bunda, maafin Anin baru bisa kesini. Anin mau ngasih kabar buat Ayah sama Bunda. Ada 2 kabar, yang kabar baik nya adalah Anin diterima PNS di Kalimantan. Jauh ya? Tapi Anin seneng karena memang Anin ingin di pedalaman. Kabar yang kedua adalah Anin diputuskan oleh tunangan Anin. Ayah ingat? Ayah pernah datang ke mimpi Anin dan ayah bilang bahwa laki-laki itu adalah orang yang akan melindungi Anin?


Itu semua salah yah, hanya ayah sama bunda yang tulus sayang sama Anin. Bahkan setelah Anin memberi seluruh ruang hati Anin untuk nya, dia memperlakukan Anin seenaknya. Andai waktu bisa diputar, Anin ingin bersama kalian. Kenapa dulu hanya Anin yang selamat? Kenapa Anin tidak boleh ikut kalian? Kalian tahu, Anin tidak ada tempat bersandar. Hiks" pertahanan Anin mulai runtuh kembali. Dengan cepat Anin mengusap air mata nya.


"Oke, jangan nangis Nin, lo kuat! Ayah, bunda Anin tidak bisa sering-sering kamari. Doakan anakmu ini semoga selalu kuat dalam menjalani hidup. Assalamualaikum yah, bun. Anin pamit" Anin meninggalkan makam ayah nya dan kembali ke bandara.


Bagas masih terpaku di tempatnya setelah kepergian Anin. Bagas mendekati makam ayah dan bunda Anin. Dia berlutut dan menabur bunga seperti yang dilakukan Anin.


"Ayah, bunda ini saya Bagas. Maaf membuat anak ayah dan bunda kecewa. Bagas hanya ingin yang terbaik untuk Anin. Sekali lagi tolong maafkan Bagas" ucap Bagas sembari berdiri dan meninggalkan makam tersebut. Dia menuju kamp nya.


.


Tari sudah bersiap dengan kopernya di depan pintu apartemen. Dia menunggu Tristan. Dengan sedikit berlari Tristan menghampiri Tari.


"Maaf telat, pengunjungnya rame banget" ucap Tristan

__ADS_1


"Gak papa, ayo berangkat" ucap Tari. Tristan membawakan koper milik Tari. Mereka sudah berada di dalam mobil Tari. Tristan melajukan mobil itu menuju bandara.


"Rame jualannya?"


"Rame"


"Kok mau sih nurutin omongan papah?"


"Segala sesuatu itu harus diperjuangkan. Ini cara aku memperjuangkan kamu. Semoga saja hasilnya baik"


"Makasih mau berjuang untuk ku, tapi kalau tak terbalas bagaimana?"


"Abang terima, itu artinya kita tidak berjodoh. Kalau abang tahu keuntungan nya abang juga harus menerima kerugiannya. Tapi abang akan selalu minta sama Allah..."


"Minta apa?"


"Minta biar jodoh abang itu kamu, hehehe"


"Anin nanti dijemput sama siapa disana?"


"Bukan perhatian, biasanya kan dia kemana-mana sama kamu, kasihan aja dia sendirian. Abang seneng kalau kamu cemburu"


"Siapa yang cemburu ih?!"


"Kamu, udah lah Ri, mau ngelak kayak apapun, mata kamu tu memang bilangnya kamu cemburu"


"Gak! Udah ih. Terus jualannya gimana? Maksud aku ada peluang untuk buka cabang gak?"


"Ada, abang juga udah nabung untuk beli food truck lagi. Abang pun udah mulai nyicil mengembalikan modal yang abang pinjam. Doain abang ya, biar bisa sukses. Biar bisa buat papah kamu bangga"


"Iya, Tari doain semoga abang bisa membuktikan ke papah.." ucap Tari terputus.


"Membuktikan apa?" pancing Tristan.

__ADS_1


"Ya itu.... membuktikan kalau abang memang pantas jadi suami Tari" ucap Tari dengan cepat. Dia menutup muka nya dengan tangannya karena malu. Tristan tertawa melihat tingkah Tari.


.


Kalimantan.


Salma dan Raka menunggu kedatangan Anin. Mereka mengedarkan pandangan nya kesana kemari. Anin melambaikan tangan kepada mereka berdua.


"Hai-hai pasangan, cie yang baru ketemuan. Maaf ya gue ganggu. Hehehe"


"Ih apaan sih, ayo masuk mobil. Kita cari hotel dekat BKD ya Nin, kan pasti lo besok harus di BKD dulu sebelum serah terima di puskesmas. Gue gak bisa nemenin ya, kan besok gue kerja" ucap Salma sambil menggandeng Anin. Raka membawa kan koper Anin dan mereka menuju mobil Raka.


Setelah di dalam mobil Raka melajukan mobil nya meninggalkan bandara mencari hotel untuk Anin.


"Nin, lo beneran putus sama Bagas?" ucap Raka memecah keheningan. Salma memberi kode kepada Raka untuk tidak bertanya lebih jauh.


"Iya bang, udah lah bang. Gak usab dibahas lagi. Gue mau fokus sama kerjaan dulu. Gue lagi bangun pertahanan di hati gue. Semoga gue kuat ya. Tadi gue se pesawat sama dia"


"Ha?" ucap Salma dan Raka bersamaan karena kaget.


"Kebayang kan gimana rasanya? Baru tadi malam diputusin lalu pagi nya bertemu sebagai orang asing kembali? Jadi gue gak mau bahas ini lagi. Oh ya Sal, disana ada gak sih rumah yang disewain?"


"Buat apa? Tinggal sama gue! Gak terima penolakan!"


"Gak lah, takutnya dia berkunjung ke rumah lo, gue gak punya kontrakan bisa nangis tiap malam gue"


"Biarin dia yang nginep di rumah bang Raka. Udah deh, tinggal sama gue aja. Ya ya?" Salma mengerlingkan matanya sambil memohon kepada Anin.


"Hadeeehhh, iya deh iya"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2