
Anin meraih hp nya memencet nomor yang hendak dihubunginya.
tuuut tuuuuut....
Halo, assalamualaikum nak?
"Waalaikum salam, paman apa kabar?"
Paman baik nak, bagaimana dengan mu? Kemarin kamu wisuda kan? maaf paman tidak bisa datang
"Tidak apa apa paman, mendengar paman sehat Anin sudah senang. Paman, bisakah sabtu besok paman datang ke rumah? Ada yang hendak melamar Anin"
Anin berbicara dengan tersipu malu membuat Bagas gemas melihat tingkahnya. Bagas mencubit pipi kiri Anin, membuat Anin mengaduh
Benarkah? Siapa yang hendak melamarmu nak? Apakah orangnya baik? Bagaimana dengan orang tuanya? Bagaimana dengan agamanya?
"Hehehe, paman bisa berkenalan sendiri dengan nya nanti. Paman berhak menolak jika dirasa memang buruk untuk Anin"
Bagas mendengar perkataan Anin memelototkan matanya kepada Anin.
Baiklah, paman akan datang. Persiapkanlah untuk jamuannya nak, biayanya akan paman kirimkan
"Tidak usah paman, tabungan Anin masih cukup. Paman hanya perlu menjadi wali Anin. Itu sudah lebih dari cukup, Paman"
Baiklah jika kamu memaksa. Paman senang akhirnya kamu mulai menemukan kebahagiaan dalam hidup mu nak, maafkan paman yang tidak pernah bisa memberi itu untuk mu
"Paman tidak perlu merasa bersalah, Anin yang minta maaf kepada paman dan bibi karena selama ini menjadi beban untuk kalian"
Jangan bicara seperti itu nak, baiklah paman akan datang. Pukul berapa?
"Selesai maghrib paman"
Baiklah, persiapkan dirimu dengan baik nak, minta petunjuk sama Allah. Paman masih ada pekerjaan, paman tutup dulu nak. Assalamualaikum
"Terima kasih paman, waalaikum salam"
__ADS_1
Anin memutus sambungan telponnya dan meletakkan hp nya di meja.
"Apa kata paman?"
"Iya paman akan datang besok hari sabtu"
"Emang kamu tega nolak mas mu yang gantengnya kebangetan ini?"
"Hahaha, kan semua tergantung wali Anin. Kalo setuju ya diterima kalo gak setuju ya mau gimana lagi?"
"Beneran?" Bagas mulai takut jika dirinya ditolak lagi.
Anin hanya senyam senyum melihat kegelisahan Bagas.
"Gak tau lagi lah Yank kalo kali ini ditolak lagi" Bagas menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Kok jadi pesimis gitu? Belum juga terlaksana. Kalo ditolak ya berarti harus berjuang bersama"
Kata kata Anin membuat Bagas tersenyum.
"Sama sama. Pulang gih, udah sore. Istirahat. Banyak berdoa biar acaranya lancar"
"Ngusir? Ya sudah mas pulang dulu ya Yank. Kiss dong yank"
"Ih, malu tau mas, ini di teras hari masih terang"
"Yaaaaahhh, sedih deh" Bagas memasang muka sedih.
"Iiih, apaan coba, kayak anak kecil aja"
"Baik baik dirumah ya"
"Iya, eh Mas tanggal 11 Anin tes SKB"
"Dimana?"
__ADS_1
"Kalimantan"
"Jauh nya, terus mau dianter?"
"Gak usah gak papa mas. Anin disana ada temen yang siap bantuin Anin kok"
"Nanti lihat jadwal mas dulu ya. Kalo bisa ambil ijin mas anter"
Anin mengangguk. Lalu dia mencium punggung tangan Bagas. Bagas melajukan mobilnya kembali ke rumah.
.
.
.
Me : Assalamualaikum bu PNS, lama banget sih gak ada kabar
Salma : Waalaikum salam wanita tangguh, lo tau sendiri gue susah sinyal Nin
Me : Eh Sal, tanggal 11 gue ujian SKB. Lo bisa jemput gue di bandara gak? Kan gue buta daerah sono
Salma : 🙄 bisa gak ya?
Me : Sama temen sendiri jugaaa, ya ya ya
Salma : iya iya, tapi janji ya. Nginep tempat gue seminggu. Ajak Tari juga sih Nin, biar kita kumpul lagi
Me : siap bu bos, nanti gue omongin ke Tari
.
.
.
__ADS_1
Slow update ya, author lagi banyak kerjaan