
Edi tertunduk dan menangis mendengar perkataan Anin.
"Maaf"
Hanya itu yang terucap dari mulut Edi. Anin membuang muka kasar.
"Yah, tolong bawa om Umang keluar dari sini. Anin ingin sendiri" ucap Anin meminta pada ayah Ardhi.
"Tolong maafkan om"
Anin diam tak menjawab. Ayah membawa Edi keluar dari kamar Anin dan menyerahkannya kepada polisi kembali.
Ayah hendak ke kantin dan bertemu dengan ibu.
"Ayah mau kemana?" tanya ibu dengan tentengan makanan di tangannya.
"Mau nyari kopi"
"Anin sama siapa?"
"Dia lagi ingin sendiri. Temenin ayah yuk bu"
"Lhah, ini gimana?" tanya ibu ke ayah sambil mengangkat tangannya yang penuh dengan rantangan.
"Bawa ke kantin aja lah"
Sesampainya di kantin ayah memesan kopi hitam tanpa gula kesukaannya dan memesankan teh hangat untuk ibu.
Ayah duduk disamping ibu dan berbincang.
"Ini Bagas maunya gimana sih bu? Mau sampai kapan dia merasa bersalah seperti itu?"
"Hmm, ibu juga bingung yah. Dia kan mewarisi sifat keras kepala nya ayah!" ucap ibu sambil melotot kepada ayah.
"Kok jadi ayah yang kena siiiiihh??"
"Ya kan itu sifat dari ayah, mana ada daru ibu keras kepala!"
"Tapi yang selalu menyalahkan diri sendiri itu sifat dari siapa?! Ibu tau!"
"Ini kenapa malah jadi ribut sih yah, haduuuhhh. Ampun deh ibu sama Bagas. Terus gimana ini yah? Capek ibu bujuk nya"
"Tau ah, ayah pusing kalau mikirin Bagas. Tinggal seminggu lagi juga hari pernikahan Salma. Makin pusing kalau dia tetep kekeh gak mau pulang"
"Haishhh, mbuh lah. Ngomong sama ayah malah tambah pusing ibu"
Keduanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
.
Sudah 6 hari Anin di rumah sakit. Dan hari ini adalah hari kepulangannya. Dia sedang diganti balut oleh perawat.
"Mbak Anin, ini lukanya sudah kering. Tapi masih ada jahitan yang belum bisa diambil. Nanti 3 hari lagi kontrol lagi ya" ucap perawat itu.
"Kalau saya kontrol nya di puskesmas saya aja gimana sus?"
"Gak papa mbak, dipastikan tetep kering dan steril ya mbak"
"Iya sus"
"Saya permisi dulu" perawat itu meninggalkan Anin dan membawa peralatannya kembali.
"Terima kasih" Anin selesai mengancingkan bajunya dan turun dari ranjangnya.
Ibu dan ayah masuk.
__ADS_1
"Halo anak ibu, udah selesai ganti balut nya?" tanya ibu kepada Anin yang sedang membereskan pakaiannya.
"Sudah bu, tapi masih ada yang belum diambil. Yah, om Umang sudah keluar dari rumah sakit?"
Ibu dan Ayah heran dan mengerutkan keningnya.
"Hari ini, bareng sama kamu nak. Kenapa?" tanya ayah heran, tumben Anin menanyakan om Umang alias Edi.
"Bisa tolong antar Anin ke kamarnya? Ada yang ingin Anin sampaikan"
Ayah mengangguk.
"Anin ganti baju dulu" Anin meraih baju yang disiapkannya dan berlalu ke dalam kamar mandi.
"Kira-kira Anin mau ngapain ya yah?"
"Mana ayah tahu bu, ayah bukan seorang detektif yang bisa nebak-nebak jawaban"
"Hish, ayah ini!"
"Ayo yah" Anin sudah berganti baju.
"Tinggal dulu ya bu" ucap Ayah.
"Iya"
.
Kamar Edi
"Hai Ed, sudah lebih baik?" tanya Ayah yang masuk tanpa permisi dan tersenyum melihat sahabatnya itu.
"Hai Ar, sudah lebih baik. Anin?" tanya Edi terheran.
"Waalaikun salam" Jawab Edi sepeninggalan Ayah.
Anin duduk di tepi ranjang Edi dan tersenyum kepadanya.
"Kamu sudah memaafkan om?" tanya Edi saat melihat senyum Anin.
"Sudah, Anin kesini mau minta maaf atas sikap Anin tempo hari yang kurang ajar sama om. Anin harap om mau memaafkannya. Anin kesini juga ingin meminta sesuatu terhadap om" Anin tidak melanjutkan kata-katanya dan diam.
"Apa yang kamu minta?"
"Anin... Anin... Aniiinn. Huftt susah sekali sih. Bismillahirrahmanirrahim. Anin ingin om.... menjadi ayah untuk Anin. Bisa?" Anin beradu pandang dengan Edi.
Edi menitikkan air matanya. Dia tak mampu membendungnya. "Apa om tidak salah dengar?"
Anin menggeleng. "Anin sayang sama om, seperti Anin menyayangi ayah Andi. Om tulus sama Anin. Hanya karena cemburu om menjadi seperti itu. Anin ingin om menjadi ayah untuk Anin. Bisa kah om?"
Edi tak mampu menjawab. Dia hanya bisa menganggukkan kepala nya dan menitikkan air mata.
Anin memeluk Edi. "Terima kasih, terima kasih om mau menganggap Anin sebagai anak. Terima kasih Ayah Umang. Anin akan menjadi anak yang baik dan nurut sama Ayah. Terima kasih" Anin menangis dalam pelukan Edi.
Edi mengecup puncak kepala Anin. Anin melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya dan Edi.
"Terima kasih juga mau menganggap om sebagai ayah kamu. Maaf om memisahkan kalian"
Anin mengangguk.
"Ayah akan segera mempertanggung jawabkan segala nya. Tolong tetap kabari ayah. Ayah sayang sama kamu. Semoga kebahagiaan berlimpah kepadamu putri kecilku, Anindya Wijaya"
Ayah Ardhi yang melihat dari jendela ikut menitikkan air mata.
"Syukurlah kalian saling memaafkan. Semoga kedepannya kau menjadi orang yang lebih baik Ed" gumam Ayah Ardhi sambil terus menatap Anin dan Edi.
__ADS_1
.
Bagas masih di rumah Raka.
"Hari ini Anin sudah boleh pulang. Lo gak mau kasih kejutan ke dia?" tanya Raka kepada Bagas yang masih sibuk bermain ponsel.
"Gak, gue belum siap ketemu dia lagi"
"Hah, sak karepmu lah Nyet, kesel aku ngandani awakmu!" Raka meninggalkan Bagas (dalam bahasa Indonesia nya, terserah kamu lah nyet, aku capek memberitahu kamu!)
Bagas memejamkan matanya. "Maafin mas, mas memang pengecut"
.
Dalam perjalanan pulang Anin hanya diam saja. Sampai dia melihat rumah Raka dan melihat seseorang yang mirip dengan Bagas sedang menutup pintu rumah Raka.
"Mas Bagas?"
Ayah dan Ibu sampai menoleh ke belakang. Takutnya memang Bagas berkeliaran.
"Siapa Nin?"
"Tadi kayaknya Anin lihat mas Bagas deh bu, dirumahnya bang Raka" Anin masih melihat rumah itu.
"Mana mungkin, halu kamu nduk. Mas mu masih dalam misi"
"Pulangnya kapan sih bu? Apa gak khawatir sama Anin?"
"Ya namanya juga tugas negara Nin, mana bisa nolak?" bantah ayah meyakinkan Anin.
"Hmm, bener kata dilan ya. Jangan rindu, rindu itu berat"
"Hahahaha, kenapa jadi melow gitu sih" ibu tertawa untuk mengalihkan perhatian Anin.
.
Rumah Salma.
"Aaaahhhh, kangeennn" ucap Salma menghambur ke pelukan Anin.
"Sal, sakit lukanya" Anin melepas paksa pelukan Salma.
"Eh maaf, ayo masuk. Bang tolong bantu ibu dan ayah ya" Salma menarik tangan Anin masuk ke dalam rumah.
"Gue ganti baju dulu deh, lengket banget ini"
Salma mengangguk. Anin mengganti bajunya. Semua orang sedang berbincang serius sampai tidak mengetahui keberadaan Anin.
"Bilang sama Bagas jangan keluyuran sekarang ini. Tadi Anin hampir aja tahu" ucap ayah pada Raka.
Mas Bagas? Jadi bener itu tadi dia? Jadi aku dibohongi semuanya? Ada apa lagi sih ini? gumam Anin dalam hati dan masib mendengarkan pembicaraan mereka.
"Iya yah, Raka capek ngebujuk nya. Merasa bersalah sih boleh, tapi ini malah jadinya lebay" jawab Raka.
"Jadi Anin dibohongi? Jadi mas Bagas bukan dalam misi tapi dia terpuruk karena merasa bersalah? Iya?" Anin sudah naik pitam dan tak kuasa untuk menahan emosinya.
Tanpa menunggu jawaban dari semuanya Anin berlari keluar rumah.
.
.
.
Kamu ketahuaaaannnn. Mas Bagasss siap-siap kena tampolan Tari lagi kalau sampai mutusin Anin lagi. Hahahah
__ADS_1