
Sudah hampir petang tapi Anin masih belum menampakkan ada tanda-tanda untuk sadar. Tristan sangat merasa bersalah, karena nya Anin sampai terluka seperti itu. Dia mencoba menghubungi Tari tapi nomornya tidak aktif.
"Ya Allah, selamatkan Anin. Ini semua karena ku" pinta Tristan.
"Tris, makan dulu. Tante belikan buat kamu. Nih dimakan. Jangan bengong aja"
"Tante, maafin Tristan karena gak bisa jaga Anin. Ini semua karena aku"
"Udah, makan dulu. Sebenarnya ada apa sih antara kamu dan Ana?"
"Tristan dijodohkan dengan Ana te, tapi 2 hari lalu Tristan membatalkan perjodohan itu sepihak. Pagi kemarin Ana datang ke apartemen dan ribut dengan Anin dan Tari. Tristan menyuruhnya untuk pergi, dia mengancam dan ternyata memang dilakukannya"
"Ya sudah, tante yakin kok Anin anaknya kuat. Kita berdoa saja semoga dia cepat sadar. Aamiin"
.
Myanmar
Bagas dan tim nya masih dalam pengintaian. Rumah kecil di perkampungan kumuh itu membuat Bagas dan tim nya agak sulit untuk bergerak. Mereka tidak bisa leluasa untuk melakukan serangan karena ada warga disana. Jadi mau tidak mau penggunaan senjata sangat diminimalisir.
"Mbel, bagaimana kalau kita ubah strategi?"
"Maksudmu?"
"Kita tidak bisa melakukannya disini. Ini terlalu beresiko. Pancing mereka untuk meninggalkan perkampungan ini. Banyak anak dan lansia disini"
"Caranya?"
"Berpikirlah mbel, gunakan otakmu! Sebar kabar bahwa mereka sedang dicari di kawasan ini. Bilang jika mereka buron. Jika kita tidak bisa memancing mereka untuk pergi dari sini, biarkan warga yang sementara pergi meninggalkan rumah mereka. Dengan begitu kita bekerja"
__ADS_1
"Aaa, kau sungguh cerdas! Akan ku lakukan. Tapi yang kemungkinan terjadi adalah warga yang pergi dari sini"
"Aku tidak peduli, lakukan lah. Hati ku entah mengapa rasanya tidak enak. Pikiran ku tidak bisa fokus"
"Apa karena Anin? Apa kau mimpi yang sama lagi?"
"Hmmm, iya aku mimpi itu lagi. Oh ayolah laksanakan tugasmu, saat ini bukan untuk bercerita"
Raka segera meninggalkan posisinya dan berganti baju. Dia menguasai sedikit bahasa Myanmar jadi bukan hal yang sulit untuk menyebar berita itu. Hanya butuh waktu 30 menit berita itu menyebar dengan sangat cepat.
"Kapt, orang-orang sudah mulai mengosongkan rumah mereka. Apa kita akan mulai?" ucap Hendra si Panda 2
"Tunggu lah sebentar, mereka juga pasti mendengar berita itu dan menyebar anak buah mereka"
"Lalu?"
"Mengapa masih bertanya, lumpuhkan yang kau temui. Aku dan gembel akan masuk ke dalam. Kau sudah kembali mbel?"
"Baiklah, aku sudah tidak sabar. Paus, lakukan tugasmu sekarang! Semua siap dalan posisi masing-masing. Ingat, minimalisir baku tembak" Bagas memberi perintah kepada anggotanya.
.
"Siapa kau?" (dalam bahasa Myanmar) ucap penjaga saat bertemu dengan Paus. Paus yang tidak bisa berbahasa Myanmar hanya diam dan melewati orang tersebut.
"Woy!! Ada penyusup!" tambahnya. Paus lari dan dikejar oleh orang tadi.
"Oke, bergerak!" Bagas masuk melewati penjagaan yang kosong disusul dengan Agus.
"Panda 1, fokus ke sandera. Aku akan melumpuhkan mereka" ucapnya dengan senjata yang sudah siaga. Bagas dan Agus masih berjaga jika ada yang menembak.
__ADS_1
Dor. Suara tembakan menggema di dalam ruangan itu. Bagas dan Agus bersembunyi.
"Masuklah lewat sisi kiri yang kosong, aku akan membereskan mereka!"
Dor.. Dor... suara tembakan kembali menggema.
"Kapt, ini jenis bom waktu, dan waktunya tinggal 1 menit. Bisakah kau lebih cepat membantu?" Panda 1 masih sibuk menjinak kan bom itu.
Panda 2 dan gembel mengambil alih tugas Bagas melumpuhkan orang-orang itu. Bagas dengan segera membantu Panda 1.
"Tinggal 40 detik lagi, oh ayolah, fokus Gas!" Bagas meneriaki dirinya sendiri. Dia diam selama 10 detik dan dengan cepat memotong kabel itu.
"Potong kabel yang warna biru!" perintah Bagas
"Bukan kah yang hijau?"
"Lihatlah di samping mu, dia masih aktif"
Dengan segera Panda 1 memotong kabel yang biru pada sandera. Bom yang masih aktif menunjukkan waktu tinggal 15 detik. Raka membawa sandera keluar. Bagas mengecek keadaan apakah masih ada sandera atau tidak.
"Kapt, bergegas dari sana!" ucap Raka.
Dan Duooorrrrrrrrr.
Bom itu meledak.
"Kapt!" teriak kawanan itu.
.
__ADS_1
.
.