Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 115


__ADS_3

Anin sudah berada di dalam kamar hotel nya. Salma dan Raka juga sudah kembali ke rumah masing-masing.


"Dek, kalau kamu di posisi Anin, kamu abang putusin tiba-tiba reaksi kamu bakalan gimana?" ucap Raka saat mengemudikan mobilnya.


"Abang kenapa tanya begitu? Ada niatan untuk putus juga? Ha?" Salma heran dengan kekasihnya.


"Gak lah, seumpama sayang..."


"Bakal lebih rapuh dari Anin bang, Anin itu emang cewek tangguh. Lihat sendiri kan dia sama sekali gak nangis di depan kita? Diantara kami bertiga memang dia yang paling tangguh bang. Dan yang paling lemah ya Salma. Sumpah pengen nyumpahin kakak aku nya"


"Hus jangan, kuwalat nanti kamu. Kalau abang pukul kakak kamu boleh? Abang juga emosi dengan keputusan dia!"


"Pukul aja udah, gak usah minta ijin sama Salma. Kenapa sih itu orang? Sakit jiwa kayaknya. Udah dapet yang baik begitu kurang apa?"


"Memang selama beberapa minggu ini dia dihampiri oleh mimpi yang sama. Mimpi dimana Anin menyelamatkan nya. Tapi kan jangan putus juga, cari cara lain kek!"


"Coba ngomong ke kakak kek bang, biar bisa balikan sama Anin. Jadi gak enak hati aku nya"


"Susah yank, tahu sendiri kan dia orang nya keras kepala"


"Hmmm, ya udah kita doakan yang terbaik untuk mereka saja lah"


"Itu yang terbaik. Besok abang jemput Anin apa gimana yank?"


"Gak usah, besok ada perwakilan dari BKD serah terima dengan puskesmas kok, meski SK belum turun tapi dulu aku juga gitu"


"Oke deh"


.


Tari baru saja mendarat di Kalimantan. Dia segera mengirimkan pesan kepad Tristan. Dia menghubungi Anin.


"Nin, lo dimana?"


Di hotel x, kenapa Ri?


"Mau mampir lah, oke gue kesana. Agak lama ya, kan agak jauh juga"

__ADS_1


Oke, gue tunggu


Selang 30 menit Tari sudah sampai di hotel yang dituju. Dia menanyakan kepada resepsionis kamar Anin. Dan dia diantar ke kamar Anin.


Tok tok tok. Suara pintu kamar hotel Anin diketuk. Anin langsung membuka pintu nya.


"Hai Ri, masuk yuk!" ucapnya sambil tersenyum.


"Haduh, capek! Nin, mas Bagas pengen gue tamp pake high heels gue rasanya! Itu orang waktu tugas kejedot apaan sih bisa kayak begitu!"


"Itu lagi yang dibahas! Capek gue Ri, bahas yang lain aja lah"


"Lo kalo mau nangis gue siap nemenin. Gak usah ditahan-tahan. Nangis aja yang kenceng biar lega"


"Gue gak mau mengeluarkan air mata berharga gue cuma buat cowok bajingan kayak dia!"


"Yakin lo kuat?"


"Diantara kalian bertiga siapa yang terkuat? Lupa lo!" ucap Anin menyombongkan diri.


"Ha? Sumpah lo Ri? Kan gue gak mau melaporkan bokap nya Ana. Siapa yang melapor Ri?"


"Gue! Mereka tuh harus dikasih pelajaran tau Nin! Biar jera!"


"Mending lo cabut deh Ri, lo tahu sendiri kan Ana bonek alias bocah nekat!"


"Gak bakalan! Biar tahu rasa dia! Udah mau gelap. Gue balik dulu ya. Maaf sempat gak percaya sama lo" Tari mengambil tas nya dan meninggalkan Anin sendirian di dalam kamar hotelnya.


Kesendirian membuat Anin merenung. Mengingat kejadian yang menimpa dirinya. Dia ingin menangis tapi ditahan nya.


"Sesuai janji aku, aku bakalan menghilang jika kamu menyakiti ku. Semoga kamu tidam menyesal dengan keputusan ini"


.


Serah terima PNS kepada instansi tempat mereka bekerja sudah selesai. Anin dan seorang dokter laki-laki yang satu puskesmas dengannya menunggu sopir dari puskesmas mereka.


"Halo, nama gue Bimo, kita satu puskesmas kan?"

__ADS_1


"Hai, nama gue Anin. Iya kita satu puskesmas. Abang asli mana?"


"Gue asli Bandung, lo?"


"Gede di Semarang, heheh. Eh itu mungkin sopirnya" ucap Anin sambil menunjuk seorang lelaki keluar.


"Mari abang dan kakak kita ke puskesmas. Oh iya, perkenalkan nama saya Rusdi, saya salah satu sopir puskesmas" ucap lelaki tadi.


Anin dan Bimo segera memasukkan barang bawaan mereka ke mobil ambulance milik puskesmas itu. Bimo melihat Anin sedikit kewalahan mengangkat kopernya menawarkan bantuan.


"Sini biar gue bantu, lo ni bawa apaan sih Nin. Berraaattt bangggeettt" ucap Bimo sambil mengangkat koper Anin.


"Heeheeheh, baju satu lemari gue masukin semua Bang" ucap Anin yang sudah duduk di kursi belakang ambulance.


"Lo depan ya, gue gak bisa kalau duduk di depan. Pasti muntah nya"


"Oohh, oke deh" Anin bertukar posisi dengan Bimo.


"Sudah siap semua? Mari kita meluncur!" ucap pak Rusdi.


.


Puskesmas


Anin dan dokter Bimo sudah sampai di puskesmas. Acara penyambutan juga dilakukan sederhana. Anin dan Bimo dibawa ke aula.


"Assalamualaikum rekan-rekan sejawat semua, jadi maksud dikumpulkan disini adalah untuk menyambut kedatangan 2 orang karyawan baru kita. Semoga bisa membawa nama Puskesmas lebih baik lagi. Aamiin" ucap kepala puskesmas memberi sambutan.


"Anindya Wijaya dan dr. Bimo Alfariski silahkan memperkenalkan diri"


Anin dan Bimo memperkenalkan diri di hadapan semua pegawai puskesmas. Dan mulai besok mereka akan mulai bekerja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2