
Malam menjelang, semua sudah pulang. Kini tinggal Bagas, Anin dan si kecil yang belum diberi nama.
"Mas, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Kata Anin sambil menyusui bayinya. Agak kesusahan. Karena dia belum boleh bergerak banyak.
"Sudah dong. Sigit Nagendra Ardhitama" jawab Bagas sambil menyunggingkan senyum.
"Artinya?" tanya Anin sambil menautkan alisnya.
"Anak laki-laki yang tampan, kuat dan berkarisma. Kayak papahnya. Iya nggak ya nggak?" jawab Bagas sambil menaik turunkan alisnya.
"Hmm. Iya deh iya. Ya sudah itu saja. Panggilannya Sigit ya. Assalamualaikum anak mamah, sigit sayang"
"Iya lah Sigit. Masa Sisi. Hahaha"
"Kumat nih papah. Somplak nya mulai lagi deh"
"Maafin papah ya, hampir aja tadi papah telat nak. Maafin papah juga ya mah. Gak ada saat kamu butuhin"
"Iya pah, gak papa. Banyak yang nemenin kok tadi. 2 bumil aktif selalu membantu. Sebentar lagi nunggu giliran mereka. Kamu ambil cuti pah?"
"Iya, mas ambil cuti tapi ya begitu. Dapatnya hanya sebulan. Gak papa kan?"
"Gak papa lah, namanya juga konsekuensi. Tenang saja"
"Mas bulan depan naik pangkat yank, jadi mayor"
"Horeee, Sigit dengar? Papah naik pangkat nak, alhamdulillah ya nak. Kehadiran kamu membawa kebahagiaan dan rezeki bagi kami semua"
"Jadi anak yang sholeh ya sayang" ucap Bagas sambil mengecup pipi anaknya.
"Udah tidur kayaknya mas, tangan aku kesemutan. Tolong angkatin ke box bayi nya ya"
"Iya mah" Bagas segera memindahkan anaknya ke box bayi. Dan duduk di samping ranjang Anin.
Bagas menghujani Anin dengan ciuman di wajahnya. Mencium bibir Anin lama sekali.
"Hadiah buat kamu karena telah menjadi wanita terkuat tertangguh dan terhebat yang mas miliki"
"Itu bukan hadiah sayang, itu mah kamunya yang mau" ejek Anin kepada suaminya.
"Hahaha, maksud mas, ini lho" Bagas mengeluarkan cincin dari dalam sakunya.
"Aaaah, romantis sekali suamiku iniiii"
Bagas memakaikan cincin ke jari manis Anin. Kelihatan sangat cantik.
"Makasih ya mas, hadiah aku adalah kehadiranmu. Untuk ku dan anak kita"
"Sama-sama sayang. Kamu tidur saja. Biar mas yang jagain sigit. Mas mau jadi papah siaga"
"Cieee, bener? Perlengkapan Sigit ada didalam tas biru itu semua ya mas. Aku tidur dulu ya"
"Iya"
Anin memejamkan matanya. Mungkin masih ada efek biusnya. Matanya berat sekali untuk membuka. Bagas beralih pada putranya yang kini terpejam. Dia menyenandungkan sholawat untuk putranya itu.
"Imut banget sih kamu nak. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan kami ya. Papah sangat bahagia nak. Jaga mamah selalu ya sayang. Dan jadi pelindung adik-adikmu nanti" ucapnya sambil mengembangkan senyum.
Bagas merasa sangat mengantuk. Beberapa kali dia menguap. "Hoam, ngantuk banget sih. Waktu tugas enak ada yang gantiin tidur. Hadoh Gas Gas, sok-sok an sih lo"
Akhirnya Bagas memilih memejamkan matanya. "Papah tidur sebentar ya nak, jangan rewel ya sayaaang. Anak pinter anak sholeh"
Tak butuh waktu lama, Bagas langsung masuk ke dalam dunia mimpinya. Hingga Sigit menangis pun dia tak mendengar. Anin terbangun karena anaknya menangis dengan kencang.
__ADS_1
"Maaas, Mas Bagaaaas" teriak Anin tapi tak ada sahutan.
Akhirnya Anin memencet bel untuk meminta bantuan kepada perawat. Seorang perawat masuk dan melihat keadaan Anin.
"Ooohh, anaknya nangis ya bu" ucap perawat itu.
"Iya sus, suami saya gak denger. Mungkin kecapekan. Tolong ya sus"
Perawat itu tersenyum dan segera mengecek anak Anin. "Ooh, adek ngompol bu. Saya bantu ganti dulu ya"
"Terima kasih ya sus"
"Sama-sama bu"
Setelah perawat itu selesai membantu Anin mengganti popok anaknya, Anin meminta anaknya untuk dia susui.
Perawat membantu memposisikan bayi mungil itu dan dia mulai menyusu. Perawat juga mengecek kondisi Anin.
"Saya tinggal dulu ya bu. Kalau butuh apa-apa pencet bel seperti tadi saja"
"Iya sus, makasih ya"
"Sama-sama bu"
Anin menyusui bayinya. "Yang kenyang ya sayang. Papah gimana sih ya nak, katanya mau jagain kita. Malah kita yang jagain papah. Dasar papah"
Akhirnya Anin tidur sambil menjaga anaknya. Anaknya tidur bersebelahan dengannya. Bagas? Masih ngorok.
Hingga subuh menjelang Bagas tak kunjung bangun. Perawat melakukan pengecekan berulang kepada Anin dan bayinya.
"Sus, bisa tolong bangunkan suami saya? Sudah mau pagi, tapi belum bangun juga dianya"
"Ya bu" Suster tersebut segera membangunkan Bagas.
"Sholat mas, matahari sudah mau terbit tuh. Katanya mau jagain kita. Eh malah kita yang jagain dia"
"Heheheh, maaf. Mas ngantuk buanget semalam"
"Sana buruan sholat"
"Iya-iya ih bawel"
.
Ayah dan Ibu segera bergegas ke rumah sakit. Mereka kepikiran dengan Anin.
"Sudah siap semua bu?" tanya Ayah sambil memanaskan mobil
"Sudah yah, bantuin ibu masukin ini dong yah"
"Iya"
Ayah dan ibu memasukkan barang yang akan dibawa ke rumah sakit. Tak butuh waktu lama mereka segera meluncur ke rumah sakit.
Sesampainya mereka di rumah sakit mereka menelpon Bagas untuk membantu ibu membawa barang yang dibawa dari rumah.
"Mas susul ibu dan ayah dulu ya yank" kata Bagas setelah menerima telpon dari ayah.
"Iya pah" sahut Anin dengan panggilan barunya untuk Bagas.
Bagas segera menghampiri ayah dan ibu di parkiran rumah sakit dan membantu membawa tentengan.
"Banyak banget sih bu. Mau pindahan apa gimana?"
__ADS_1
"Kan Anin disininya juga sekitar 3 harian lagi Gas. Daripada bolak balik kan ya sekalian. Ibu juga bawakan kamu baju tuh"
"Makasih ibuku sayang"
"Kamu sudah siapkan nama untuk anakmu Gas?" Tanya Ayah saat berjalan menuju kamar Anin.
"Sudah dong"
"Siapa?" tanya ibu semangat.
"Sigit Nagendra Ardhitama"
"Wuiss. Pinter kamu pilih nama. Sigit anak laki-laki yang tampan. Nagendra artinya kuat. Ardhitama berkarisma" Ucap Ayah
"Kok ayah tahu artinya?" tanya ibu
"Tahu lah, ayah kan orang Jawa tulen bu. Begitu kan artinya Gas?"
"Yap betul"
Mereka masuk ke kamar Anin. Anin sedang menyusui bayinya. Dia sudah mengantisipasi adanya ayah, jadi dia memakai kain penutup untuk menyusui.
"Assalamualaikum" ucap mereka.
"Waalaikum salam" jawab Anin.
"Waaah, cucu mbah uti lagi nyusu ya? Kalian sudah sarapan nak?"
"Belum bu. Nanti setelah menyusui Sigit saja"
"Gas, ambilkan makanan buat Anin. Suapi istrimu" perintah ibu kepada Bagas.
"Siap nyonyah. Yank, mau makanan rumah sakit apa yang dibawa ibu?"
"Yang dibawa ibu. Pasti ibu masak semur ikan gabus kan?"
"Iya, biar luka kamu cepet kering"
Bagas duduk dan mulai menyuapi Anin. "Yang banyak makannya mah, ASI kamu diserot terus tuh sama Sigit. Sampai papah gak dikasih sisa"
"Ya Allah si Bagaaaas. Sama anak sendiri dicemburui" ucap Ibu sambil menjewer kuping Bagas.
"Aduh sakit bu"
"Baru tahu kan kamu? Kamu kira dulu ayah gak ngalamin?" sahut ayah yang duduk di sofa.
"Astaghfirullah ayaaaah. Malah ikut-ikutan Bagas. Anak sama bapak sama aja. Sigit, cucu mbah uti, jangan dengerin omongan mbah kakung sama papah mu ya nak. Mereka sama-sama gak jelas"
"Hahahaha" mereka semua tertawa bahagia.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1