
"Mau nyanyi lagu apa Nin?" tanya Alvin saat Anin berada di atas panggung.
"Sampe tuwek dari Denny Caknan. Yang gak bisa bahasa Jawa cari sendiri di mbah gugel ya. Hehehe"
"2 lagu ya Nin? Sama cendol dawet ngunu Nin. Biar dapet saweran.... Nanti pada nyawer yang banyak yaaa" teriak Alvin.
"Okeeeee" ucap tamu undangan.
"Emoh ah kak, kan kakak sing dibayar suruh nyanyi, aku cuma nyumbang. Nek nyumbang itu sak ikhlas e"
"Iyo, paham aku. Sak ikhlas e iku harus 2 lagu. Gelem yo gelem? Jawab. Ora sido nyanyi iki mengkoooo"
"Ha yowes lah, saweran saweran"
"Oke, lagu apa sek iki?"
"Pamer bojo cendol dawet disik lah"
"Oke, mari kita sambuuutt Anindya Wijayaaaa. Tarik Ssiiiiiissss"
"Semongko" Anin mulai menyanyikan lagu milik Didi Kempot.
Suasana menjadi riuh karena senang. Para tamu undangan banyak yang menyawer Anin. Ayah Ardhi sampai ikut turun dan menyawernya. Bagas juga ikut menyawer 200 ribu untuk Anin.
"Mas, kurang lho ini. Nambah lagi tooo" ucap Anin disambut dengan tawa dari penonton.
Bagas merasa perutnya mulas. Dia segera ke toilet. Dia mengeluarkan semua isi perutnya. Saat di dalam toilet ada 2 orang pria yang baru saja masuk. Mereka berbincang mengenai Anin.
"Jadi dokter mau melamar Anin nanti dok? Bukannya dia udah punya gandengan ya?" tanya Diki.
"Iya, ah biarin aja punya gandengan, pokoknya saya tetap akan melamarnya nanti" jawab dokter Bimo.
"Ya sudah lah, semoga sukses ya dok. Saya mau ke dalam dulu" balas Diki mendoakan.
Dokter Bimo pun ikut ke dalam toilet dk sebelah Diki. Bagas langsung mengakhiri ritualnya dalam toilet. Dia segera keluar dan menghubungi Hendra.
"Misi! Temui gie di toilet, ajak Agus dan Hendi merapat cepat!" Bagas menyuruh tim nya berkumpul.
Tak lama mereka berempat sudah berkumpul.
"Di dalam sana ada 2 orang pria, mungkin teman sepuskesmas Anin. Salah satunya ingin melamar Anin. Ini bisa mengacaukan rencana gue yang hari ini juga bakalan ngelamar dia. Gue butuh kalian untuk menghambat selama 3 menit an"
"Kami harus apa kapt?"
"Alihkan perhatiannya, salah satu dari kalian berpura-pura lah pingsan. Mengaranglah cerita, terserah apapun. Agar dia percaya bahwa ada orang pingsan dan butuh pertolongan. Tahan dia selama 3 menit agar tak masuk ke dalam. Lakukan akting kalian dengan baik. Ada reward berupa makan gratis untuk 2 hari kedepan. Anin sudah mulai nyanyi lagu kedua?"
"Masih cendol dawet kapt" jawab Hendra
__ADS_1
"Oke, lakukan sekarang. Gue akan balik ke dalam" Bagas meninggalkan mereka mereka.
"Misi bodong! Gue kira apaan. Lagi mencicipi makanan juga" protes Hendi kesal.
"Udah lah, lakuin aja. Di, tubuh lo yang paling gede. Lo aja yang pura-pura pingsan. Biar agak susah ngangkatnya" ucap Hendra.
"Lalu?" tanya Agus.
"Kita karang cerita bahwa teman kita habis makan tiba-tiba dia tersedak dan pingsan. Begitu mungkin yang diinginkan kapt" balas Hendra.
"Kenapa gak dikunciin di kamar mandi aja sih? Kan lebih mudah!" protes Hendi lagi.
"Lo hari ini kebanyakan protes ya. Kapt tadi nyuruhnya gitu. Kenapa tadi gak bilang ide lo sama kapten?" balas Hendra.
"Gue lagi ngunyah makanan, mana bisa buat mikir"
"Ah, sudahlah. Buruan Di, pingsan. Keburu orangnya keluar" ucap Agus.
"Haisssshhhh, gue lagi"
Hendi segera berbaring di sebelah toilet. Hendra berpura-pura sebagai teman yang mendampinginya. Agus bersembunyi di balik tembok.
Dokter Bimo dan Diki keluar dari toilet hendak kembali ke tempat acara. Hendra yang melihat itu langsung beraksi.
"Toloooong, toloooong" ucap Hendra. Dokter Bimo dan Diki pun menoleh. Mereka menuju arah Hendra.
"Saya gak tahu bang, tadi kami habis makan. Dia ingin ke toilet dalam keadaan masih mengunyah makanannya. Tiba-tiba dia tersedak dan tidak sadarkan diri. Bisakah anda membantunya?"
"Coba saya cek dulu jalan nafasnya" Dokter Bimo akan memeriksa Hendi.
"Bisa kita pindahkan dia ke kursi panjang itu bang? Saya takut dia masuk angin jika disini" balas Hendra lagi.
"Oke, pindahkan dulu kesana" balas dokter Bimo.
Agus berpura-pura datang agar lebih lama lagi menahan dokter Bimo dan Diki.
"Eh, kenapa ini?" tanya Agus berpura-pura.
"Angkat dulu kesana deh" jawab dokter Bimo.
"Tolong jelaskan dulu kepada saya, ada apa ini? Perlukah saya telpon ambulance?" tanya Agus lagi.
"Begini, teman kamu ini tersedak makanan dan pingsan. Kita pindahkan dulu kesana. Biar coba saya cek dulu jalan nafasnya" jelas dokter Bimo.
Mereka berempat mengangkat Hendi. Dokter Bimo memposisikan kepala Hendi sedikit menengadah guna memeriksa jalan nafasnya.
Dia melihat jalan nafas Hendi bersih, tidak ada sisa makanan yang tertinggal.
__ADS_1
"Dia tidak tersedak makanan, jalan nafasnya bersih. Coba ceritakan kejadian yang sebenarnya padaku" jelas Bimo kepada Hendra.
"Benar dokter, dia tersedak. Dia makan sambil berjalan. Setelah itu tersedak dan pingsan. Dia juga bilang dada nya sakit" jelas Hendra.
"Kau membohongiku? Kau tadi tidak menyebutkan bahwa dia mengalami sakit dada. Ya kan Diki?" elak Bimo.
"Iya benar, tadi abang hanya bercerita jika temannya pingsan karena tersedak makanan" ucap Diki.
"Mana mungkin kami berbohong, kami tidak akan mungkin melakukannya, untuk apa juga aku berbohong. Dia memang tersedak dan pingsan. Bisakah kalian membantu ku daripada kita berdebat tak kelas begini?" sanggah Hendra.
"Ada yang punya minyak angin?" tanya Bimo.
Semua menggeleng.
"Huft, ya sudah tunggulah disini dahulu. Akan kuambilkan minyak anginnya" Bimo segera menuju parkiran dan mengambil minyak anginnya.
Saat sudah sampai lobby hotel dia berhenti. "Tunggu, sepertinya memang ada yang aneh. Aku sepertinya pernah melihat mereka. Tapi dimana ya? Sialan! Bukankah mereka para tentara yang ada saat banjir di desa x? Apakah mereka sengaja mengerjai ku? Jalan nafasnya bersih tak ada sisa makanan, dia tidak tersedak!" Seketika Bimo kembali ke toilet tadi dan hanya menemukan Diki yang diikat dan dilakban.
"Diki?! Siapa yang melakukan ini padamu??" Bimo segera membuka ikatan dan lakban pada mulut Diki.
"Mereka berbohon dok, dia hanya pura-pura pingsan" jelas Diki kepada Bimo.
"Ayo kembali ke acara, aku yakin mereka pasti ada disana"
"Dokter kenal mereka?"
"Ya jelas, itu para tentara yang membantu banjir kemarin. Kalau mereka sedang satgas tidak mungkin mereka ada di acara seperti ini"
Bimo dan Diki kembali ke tempat acara resepsi. Dia membuka pintu dan seketika matanya terbelalak. Dia melihat seorang lelaki berlutut di depan Anin dan bertanya kepada Anin.
"Anindya Wijaya, maukah kau menjadi istriku?"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Selamat pagiiiii, semangat pagi di penghujung tahuuunn. Laporan BKKBN kelar, tinggal urusan sama BPJS. Semangat yang masih dikejar laporaaaannn 😘😘😘
__ADS_1