
Kalimantan
"Ish, main tutup aja nih si kakak! Awas ya nanti" Salma kesal dengan kelakuan kakaknya.
"Tadi kakak bilang aku kenal sama calon kakak ipar, tapi bukan kak Nisa. Siapa dong? Jangan jangan Ana, tapi kan dulu kakak bilang gak suka sama dia karena kayak ulet bulu" Salma masih berbicara dengan dirinya sendiri sambil mondar mandir tak jelas.
"Ih, sumpah ya si kakak, beneran bikin pinisirin tau! Kakaaaaakkkkkkk!" Salma berteriak karena tidak tahan dengan rasa penasarannya.
Drrttgggg Drrrtttggg. Hp Salma bergetar.
"Assalamualaikum Abang" jawab Salma dengan tersenyum menerima panggilan telpon tersebut.
Waalaikum salam honey ku, kamu udah telpon Bagas?
"Udah, nyebelin tu orang. Gak mau ngasih tau calonnya coba Bang. Kan jadi kesel adek"
Main tutup telpon juga gak?
"Iya. Eh Bang, udah tanya keputusan kakak?"
Udah tadi, bilangnya gabung. Ibu tadi juga telpon Abang. Nanya Abang ikut gabung juga apa tidak
"Kasihan Ibu. Pasti berat rasanya" Salma menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Doain aja Dek, semoga kita semua selalu diberi keselamatan oleh Allah. Aamiin.
"Iya Bang, Hemmmmmhh, siap siap LDR an nih kita"
Sabar, kamu disini juga jangan nakal ya.. Abang bakalan rindu berat Dek sama kamu
"Aaahhh, Abang bikin Adek pengin nangis"
Jangan nangis dong, besok jalan ya. Kan senin Abang berangkat
__ADS_1
"Mau kemana kita?"
Pantai?
"Baiklah"
.
Bagas dan kedua orang tuanya sudah siap. Senyum mengembang di setiap bibir insan itu. Mereka sudah siap untuk menuju rumah Anin.
"Sudah terkunci semua Bu?" Ayah bertanya pada Ibu
"Sudah Yah, Bismillah yok berangkat"
Mobil sudah melaju di jalan raya. Bagas di dalam mobil sedari tadi hanya diam.
"Gas, kenapa diam?" Ayah yang berada di samping Bagas bingung melihat putra nya
"Hmmmm? Gak papa Yah, cuma agak gugup aja"
"Tapi Bagas kan udah terlanjur cinta dan sayang sama Anin Yah"
"Kalo begitu pertahankan Gas, perjuangkan" Ibu ikut nimbrung dalam percakapan.
Tak lama, mereka pun sampai di rumah Anin. Disana sudah ada paman Anin, Tari, pak RT dan Bu RT. Kemana bibi Anin dan Nisa? Ah, sudahlah mereka tak begitu penting.
Paman Anin dan Pak RT menyambut kedatangan keluarga Bagas. Tari membantu menurunkan seserahan yang dibawa oleh keluarga Bagas dari dalam mobil dan memasukkannya ke dalam rumah.
Anin mondar mandir di dalam kamar sambil memegangi hp. Hatinya dag dig dug tak karuan. Perutnya mulas.
Bagas dan keluarga sudah duduk di tempat yang sudah di dekorasi. Membuat ruangan itu makin cantik. Hati Bagas berdetak sangat cepat. Lebih cepat dari biasanya. Tangannya keringat dingin. Ayah membuka suara untuk memulai acara.
"Assalamualaikum semuanya, perkenalkan saya Ardhitama, ini istri saya Rita, dan ini anak saya Bagas Ardhitama. Langsung saja agar tidak banyak memakan waktu. Kedatangan kami kesini dengan maksud ingin meminang keponakan Pak Ade untuk saya, eh salah. Maksud saya untuk anak kami. Sekiranya kami dapat diterima Pak"
__ADS_1
Semua orang yang disana tertawa saat ayah sengaja salah kata melamar Anin untuk dirinya.
Tari sibuk mengabadikan moment itu. Anin yang mendengar gelegar tawa makin mulas perutnya.
"Kenapa lama sekali sih? Kenapa gak cepat disuruh keluar?" Anin masih mondar mandir di dalam kamarnya.
"Waalaikum salam. Terima kasih atas kedatangan rombongan keluarga pak Ardhitama. Bukan sekali kita baru ketemu ya pak. Ini untuk kedua kalinya dengan suasana yang begini juga. Saya selaku wali dari Anindya Wijaya, Ade Wijaya mengikuti jawaban dari keponakan saya. Jika nanti diterima alhamdulillah bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Jika tidak... jika tidak ya jangan kecewa" ucap pak Ade dengan senyum
Perkataan pak Ade membuat tangan Bagas semakin dingin. Ibu yang melihat itu menenangkan Bagas sambil mengulas senyum.
"Tari tolong panggilkan Anin dan ajak dia kemari Nak" suruh paman kepada Tari.
"Baik paman" Tari bergegas menuju kamar Anin.
ceklek. pintu dibuka oleh Tari dati luar. Anin menoleh.
"Yok keluar" Tari menggandeng Anin.
"Tangan lo dingin banget sih Nin. Tenang tarik nafas"
Anin tidak menjawab dan mencoba menenangkan dirinya. Anin sudah duduk di ruang tamu nya. Bagas yang melihat Anin makin dag dig dug tak karuan.
"Ini keponakan saya pak Ardhitama. Cantik, cerdas, mandiri. Begini Nin, pak Ardhitama ini mau melamar kamu untuk anaknya. Apakah kamu menerima atau menolaknya?"
Anin menarik panjang nafasnya. Dia hendak menjawab. Tapi tiba tiba...
"Tunggu! Tunggu dulu" Seorang wanita dengan perawakan tinggi semampai masih menggunakan jas putihnya terengah engah di depan pintu rumah Anin. Semua mata tertuju padanya.
Kak Nisa? Mau ngapain dia kesini? Jangan jangan......
.
.
__ADS_1
.
hayoh lohhh, Nisa ngapain nongol siiiiihhhh