
Aqiqah Sigit berjalan dengan lancar meskipun sedikit mendadak. Semua bisa menikmati acara itu. Dibantu oleh para tetangga dan pegawai puskesmas yang saat itu ingin menjenguk Sigit dan Anin.
"Untung kita datangnya oas aqiqah ya. Aman kantong kita buat makan siang. Hahaha" kata Minul.
"Makan yang banyak" sahut Anin.
Sinta dan Bimo sedang bermain dengan Sigit. Digendongnya kesana kesini. Sigit menjadi primadona baru.
"Ini anak lucu banget siiih" puji Sinta.
"Iya dong, mirip siapa kak?"
"Mirip papahnya nih"
"Hahah, kan mas bilang juga apa. Kan yang kerja keras mas yang. Kamu mah cuma enak-enak aja" Anin merona dan menutup mulut Bagas dengan tangannya.
"Maaaas, malu ih"
"Wkwkwk, pake acara malu segala Nin. Kita mah udah biasa denger beginian. Makanan sehari-hari. Malah kalau gak dibahas serasa ada yang kurang" sahut Minul
"Tuh yank, gak papa. Sudah dewasa kita"
"Iya, tapi kasihan kuping Sigit dengerin omongan papahnya yang ngawur begini kak" Sahut Salma.
Waktu semakin berlalu. Genap dua bulan usia Sigit. Waktu cuti untuk Bagas pun berakhir. Dia harus kembali dalam misi. Pelantikannya juga ditunda karena sedang dalam misi.
Tari sudah mulai mengeluarkan lendir darah. Tristan membawanya ke rumah sakit. Tari diperiksa oleh bidan IGD.
"Bu, pembukaannya sudah 3cm. Ini langsung ranap saja ya bu. Mau sama dokter siapa?"
"Dokter yang perempuan saja kak" jawab Tristan cepat. Tari ditemani oleh mamahnya. Papahnya dan papah mertuanya masih dalam perjalanan.
"Untuk pendamping persalinannya siapa?" tanya bidan itu lagi.
"Saya saja kak" jawab Tristan cepat.
Salma ditemani ayah dan ibu juga datang ke rumah sakit untuk menemani Tari. Anin bersama Sigit di rumah.
Anin melakukan dancing labour. Sebuah gerakan tari untuk membantu mempercepat pembukaan. Dia juga sudah membawa gym ball. (cari di gugel tentang hipnoterapi persalinan, nanti keluar semua itu).
Pukul menunjukkan 8 malam. Kontraksi Tari semakin sering. Saat dicek ternyata pembukaannya sudah 8cm.
"Pindah ke ruang bersalin ya bu" kata bidan itu. Tari mengangguk dan diantar ke ruang bersalin.
Bidan mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan. Tristan semakin tegang.
__ADS_1
"Saya sudah ingin meneran kak" kata Tari. Kepala bayi sudah kelihatan. Dengan segera bidan itu menyuruh temannya untuk memberi tahu dokter. Dia segera mengambil tindakan.
"Saya pimpin neran ya. Jika ada kontraksi langsung tarik nafas, dorong dibawah sini" Tari mengangguk. Dia meneran, bidan itu memecah ketuban Tari yang masih utuh. Tristan merasa hal itu sangat menegangkan.
Setelah beberapa kali meneran dan saat dokter datang, seorang bayi perempuan cantik lahir.
"Oeeeekk oeeekk oeeeeekk" tangis bayi itu. Tari dan Tristan menitikkan air matanya. Bayi itu dikeringkan lalu diletakkan diatas perut Tari.
"Biar IMD dulu ya" kata dokter itu. Lalu dokter mengeluarkan plasenta dengan sempurna. Tak ada bagian yang tertinggal.
"Waaaah, ibu pinter nih, robek nya cuma sedikit"
"Alhamdulillah dokter" ucap Tari.
Setelah semuanya selesai dan bayi mereka sudah dipakaikan baju, Tristan segera mengambil wudhu untuk mengadzani putrinya.
Semua menyambut bahagia kehadiran putri kecil itu. Tak lama Tari dipindahkan lagi keruangannya. "Besok kalau semua normal boleh pulang" kata dokter.
"Alhamdulillah" ucap syukur semua orang.
"Mau dikasih nama siapa Tris?" tanya mamah Tari.
"Aluna Lestari. Karena dia lahir waktu malam, biar secantik rembulan dan Lestari adalah nama mamah"
Mamah Tari tersenyum. Ternyata dia masih dihargai oleh menantunya. "Terima kasih"
Sigit menjadi pelindung bagi kedua saudara perempuannya itu. Setelah 3 bulan dalam misi para tentara itu pulang.
Mereka melepas rindu dengan keluarga mereka. Sigit yang sekarang berusia 5 bulan lebih sudah bisa mengoceh tak jelas dan tengkurap maupun berbalik.
Para anak ASI itu tumbuh sesuai dengan usia mereka. Mereka menikmati peran masing-masing. Setelah cuti 1 bulan, Bagas dan Raka kembali karena mereka harus dilantik.
Dia memboyong Anin dan Sigit untuk ikut dengannya karena pelantikannya menjadi mayor. Raka juga memboyong serta anak istrinya dalam pelantikan.
Tante Indira dititipi 2 orang malaikat kecil saat pelantikan itu. "Aaaah, senang sekali kalian. Jadi anak sholeh sholeha ya sayang. Sigit jaga adik-adiknya nanti ya. Hihihi. Muka kalian kok mirip siiih, nenek gemas sama kalian" ucap tante Indira gemas dengan bayi-bayi itu.
Setelah selesai pelantikan, mereka mengunjungi ayah Umang. Rindu mendera pada ayah dan anak itu. Anin menangis memeluk ayahnya.
"Ayah sehat?" tanyanya saat bertemu.
"Alhamdulillah, ayah sehat. Mana cucu ayah?"
"Kita video call tante Indi ya Yah" Bagas melakukan panggilan video dengan tante Indi.
"Assalamualaikum papah, Sigit sama Hana lagi melek niiih"
__ADS_1
"Waalaikum salam, tante. Ini ayah Umang mau lihat Sigit dan Hana"
"Oh, oke" Tante Indi mengarahkan kamera ponselnya kepada Sigit dan Hana. "Nih kek, Sigit dan Hana disini. Usia Sigit sekarang 6 bulan. Hana baru 2 bulan. Gendut-gendut nih mereka"
Ayah Umang tersenyum penuh haru melihat bayi-bayi itu mengoceh tak jelas. Entah Sigit ini memang ingin tengkurap atau bagaimana, saat ayah Umang bertanya dia menunjukkan kemampuannya. "Sigit sudah bisa apa?" tanyanya.
Sigit mengoceh tak jelas dan langsung tengkurap dan ngesot. "Woooo, cucu kakek pintar sekali. Hana sehat-sehat ya disana. Sigit, tunggu kakek keluar dari sini ya sayang. Nanti kita main sama-sama. Mau main layangan sama kakek?" sahutnya senang.
Sigit tertawa membuat ayah Umang semakin bahagia melihat perkembangan cucunya. Hana menangis, akhirnya sambungan video itupun harus berakhir. "Sudah dulu ya mas, Hana menangis. Kalian juga cepat pulang. Tante bingung kalau mereka nangis minta susu. Karena sudah habis stok yang kalian tinggalkan"
"Iya, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Ayah Umang menghapus air matanya. "Ingat ya Yah, ayah harus selalu jaga kesehatan ayah. Demi cucu ayah" ucap Bagas menyemangati.
"Iya, kalian pulanglah. Kasihan jika Indira harus menjaga bayi-bayi itu" Mereka semua mengangguk.
Hari berganti hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Mereka hidup dengan bahagia. Bukan tanpa masalah. Ada masalah, tapi mereka bisa meredamnya. Tak terasa sudah 5 tahun usia Sigit. Ayah Umang juga sudah bebas. Perayaan ulang tahun yang biasanya mereka lakukan dengan sederhana. Hanya sekedar berkumpul.
"Kakeeeeekkk" ucap Sigit, Hana, dan Luna menghambur ke dalam pelukan ayang Umang.
"Assalamuaikum cucu-cucu kakek. Siapa yang hari ini ulang tahun?"
"Kamiiii" jawab mereka bertiga kompak. "Hahahaha". Ya begitulah. Umur mereka berdekatan. Hanya beda bulan. Maka, jika 1 ulang tahun. Semua harus ulang tahun semua.
...---THE END---...
Like
Vote
Komen
Tip
Itulah gaes. Diingat nama anak mereka ya. Insyaallah akan saya buat part selanjutnya. Dengan judul Cinta Karena Mandat. Tapiiii...... ada tapinya niiiih. Hehehe. Nunggu novel kedua saya end dulu. Karena othor gak bisa kalau harus mengerjakan bersamaan. Heheh
Sigit Nagendra Ardhitama
Aluna Lestari
Hana Salma Atmajaya.
Diingat yaaaa.
__ADS_1
Terima kasiiiih sudah membaca karya saya. Sudah mendukung dan selalu menantikan karya saya. Othor gak bisa balas apa-apa. Hanya bisa menghibur dengan kehaluan othor. Wkwkwkw. Semoga Allah melimpahi kita dengan kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin.
Novel kedua saya "Larasati & Pak Bupati" Monggo dibaca sambil nunggu "Cinta Karena Mandat" terbit. Akhir kata Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Love you all 😘😘😘😘😘😘😘😘😘