
Subuh berkumandang, semua melaksanakan sholat kecuali Anin. Dia masih halangan. Salma segera dirias setelah selesai sholat. Anin pun segera bersiap dan dirias. Akad akan dimulai pukul 7 pagi. Dan resepsi akan dimulai pukul 10 pagi.
Bagas masih sibuk menghapalkan lirik lagu yang akan dibawakannya. Raka sampai geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu. Waktu sudah menunjukkan setengah 7, Raka segera dipanggil untuk melakukan akad.
"Huft, bismillah, ya Allah lancarkan ucapan hamba saat mengucapkan ijab nanti. Aamiin" doa Raka kepada sang Kuasa.
Bagas menghampiri sahabat yang akan menjadi adik iparnya itu. Dia melihatnya dari bawah hingga atas. Lalu memeluknya dengan erat.
"Semoga lancar. Gue titip adek gue ke lo, tolong jangan pernah sakiti dia. Sayangi dan cintai dia. Bimbing dia menjadi istri sholeha. Tegur dia jika memang salah. Gue ikhlas adek gue menikah sama lo mbel" ucap Bagas sambil memeluk Raka.
"Makasih kak, Insyaallah gue akan menjadi imam yang baik buat adek lo dan buat keluarga gue" balas Raka haru.
"Apaan sih kita? Kenapa malah jadi melow begini sih?" Bagas melepaskan pelukannya.
Raka tersenyum. "Emang salah kalau kita melow. Sekali lagi makasih ya kak, semoga nanti lo juga lancar ngelamar Anin nya. Sorry gue cuma bisa bantu doa, karena gue hari inu yang jadi raja. Hahahah"
"Semoga bibir gue gak kesleo pas nanti ngelamar dia"
"Aamiin"
Raka dan Bagas segera turun ke tempat acara akan dimulai. Sedangkan Salma baru saja selesai dirias. Ayah masuk ke kamar nya. Dia melihat Salma dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah, kenapa ayah sedih?" tanya Salma.
"Ayah gak sedih, ayah menangis bahagia. Karena putri kecil ayah akan dipersunting oleh lelaki pilihannya. Putri kecil ayah sekarang sudah menjadi dewasa dan hari ini akan menjadi milik orang lain. Jadilah istri yang sholeha sayang. Patuhi perintah suami, selalu taat sama suami. Ridho Allah ada bersama suami mu nak. Ayah hanya bisa mendoakan mu, semoga rumah tangga kalian kelak tidak mengalami kesulitan, selalu diberikan jalan keluar atas setiap permasalahan. Semoga kebahagiaan tercurah untuk kalian" ucap Ayah tersedu sambil memeluk Salma.
"Terima kasih sudah menjadi cinta pertama bagi Salma yah, terima kasih sudah membesarkan dan merawat Salma. Insyaallah bang Raka akan menjaga dan melindungi Salma seperti ayah selalu menjaga dan melindungi Salma. Salma akan selalu menjadi putri kecil ayah. Terima kasih" balas Salma menahan tangisnya.
Anin yang melihat adegan itu ikut terharu. Apakah rasanya akan sesendu ini jika meminta ijin kepada ayahnya? Yah, apakah ayah dengar Anin? Mungkinkah ayah datang menyaksikan Anin menikah nanti?
Ibu yang baru saja masuk melihat suasana yang menjadi sendu segera merusaknya. "Udaaaah, luntur nanti bedak mu nduk. Ayah ini malah disini. Udah dicari pak penghulu. Sana turun dulu. Ayo Nin, bantu ibu bawa Salma ke bawah" ucap ibu sambil melepaskan pelukan antara anak dan ayah itu.
"Ibu ini ganggu aja!" balas Ayah sewot.
"Sanaaa, ditunggu penghulu"
"iya-iya" Ayah segera meninggalkan kamar Salma dan bergegas.
Tari baru saja datang dan menuju kamar Salma. "Aiiiiihhh, cantik nyaaaa, foto dulu yuk" ucap Tari dan meraih ponselnya dari dalam tas.
"Ikut-ikut" ucap Anin segera menghampiri Tari.
"Ibu juga dooong"
__ADS_1
"Hahahah" Semua tertawa.
Cekrek cekrek cekrek. Foto pun diambil dan langsung dibuat status oleh Tari. Ana yang berteman dengan dia melihat status Tari.
"Mereka bahagia banget sih! Tari dapat Tristan! Salma dan bang Raka! Anin balikan lagi sama bang Bagas! Gue disini tanpa kebahagiaan! Hidup dengan orang yang gak gue cinta! Sialan kalian!" ucap Ana saat melihat status Tari.
Raka sudah berhadapan dengan Ayah Ardhi. Dan ijab akan segera dimulai. Pak penghulu membuka acara dengan lantunan ayat suci al-qur'an. Lalu setelahnya menyerahkan acara ijab itu kepada ayah Ardhi selaku wali dari Salma.
"Bismillahirrahmanirrahim, Raka Atmajaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Salma Ardhitama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram dibayar tuuunai!" ucap Ayah dengan lantang dan mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Salma Ardhitama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram dibayar tuunai!" jawab Raka dengan mantap pula.
"Para saksi? Sah? sah?"
"Sah!" ucap para saksi.
Penghulu membacakan doa untuk pengantin. Salma diiring oleh Tari dan Anin menuju tempat ijab. Dirinya didudukkan bersama Raka. Mereka menandatangani buku nikah, penyematan cincin dan Salma mencium punggung tangan Raka, menandakan dia telah halal menjadi pasangan suami istri. Semua yang disana menjadi haru biru.
Setelah akad, Salma dan Raka didudukkan di pelaminan. Mereka meminta restu kepada orang tua masing-masing. Membuat Anin yang saat itu sedang bersama Bagas menitikkan air mata.
"Yank, kenapa nangis?" tanya Bagas.
"Anin udah gak punya orang tuaas, apakah nanti suasana nya akan sangat haru begini? Apakah ayah akan datang saat Anin nikah nanti? Hiks"
"Ssttt, jangan nangis sayang, kamu walaupun gak punya orang tua ada banyak orang yang menyayangi kamu. Ayah pasti datang untuk melihat putrinya menikah. Ayah pasti akan tersenyum bahagia" ucap Bagas yang dia sendiri tak tahu betul atau tidak.
"Itu kode keras namanya"
"Hahaha, biar kita juga cepet nyusul mereka lah mas. Aku kan juga pengen nikah punya keluarga punya anak"
"Iya-iya, segera!"
Bagas dipanggil oleh panitian karena rombongan tentara yang akan menjadi pasukan pedang pora sudah tiba. Masih ada waktu untuk berlatih sebentar.
"Yank, mas ganti baju dulu ya. Kan habis ini pedang pora dan resepsi"
"Oke"
Bagas meninggalkan Anin dan menyambut teman-temannya itu. Mereka berlatih sebentar di parkiran hotel dan segera bersiap. Hendra, Agus dan Hendi pun ikut menjadi pasukan pedang pora. Mereka bertemu dengan kapten mereka dan memberi hormat.
"Gimana luka lo Di?" tanya Bagas
"Sudah sembuh dong kapt" jawab Hendi.
__ADS_1
"Kapt, Tari hadir gak?" tanya Agus masih penasaran dengan Tari.
"Hadir, sama suaminya tuh"
"Lhaaaahh, berarti bener dia suaminya. Kalah cepet dong gueeee"
"Haahhaha" semua menertawakan Agus.
Para pasukan itu bersiap karena acara akan dimulai sebentar lagi. Band pengiring pun juga sudah hadir. Dan ternyata Alvin cs lagi yang menjaadi band pengiringnya.
Para tamu yang kebanyakan dari pulau jawa sudah hadir. Tamu dari puskesmas pun sudah tiba. Acara resepsi dibuka dengan pedang pora. Setelah itu dilanjutkan dengan resepsi. Anin segera maju ke atas panggung untuk menyanyikan lagu seperti permintaan Salma.
"Kamu lagi Nin?" tanya Alvin saat melihat Anin di atas panggung.
"Yo ojo bosen to kak"
"Hahah, kamu kalau nyanyi itu minta disaqer ngunu lho Nin. Nanti hasilnya bagi duaaa" ucapan Alvin membuat para tamu undangan tertawa.
Bagas merasa perutnya mulas maka ia lari ke toilet. Saat di toilet dia mendengar percakapan antara 2 orang lelaki. Entah siapa. Mereka baru saja masuk.
Bagas mendengarkan dengan seksama pembicaraan 2 orang itu.
"Jadi dokter hari ini mau ngelamar Anin? Bukannya dia itu udah punya gandengan ya dok?" tanya lelaki 1
"Iya jadi lah, gak peduli saya dia udah punya gandengan atau belum" jawab lelaki 2
"Semoga beehasil deh dok. Saya masuk duluan dok" lelaki 1 itu masuk ke toilet diikuti oleh lelaki 2 di toilet sebelahnya.
Bagas segera keluar dan menjauh dari toilet. Dia menghibungi Hendra.
"Misi!" ucap Bagas.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Lhoh lhoh lhoh, masih ada misi lagi?? 🤔🤔🤔