Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 131


__ADS_3

Sudah hampir 5 hari banjir menggenangi 3 desa itu. Semua dikerahkan bantuan berdatangan dengan sendirinya, mulai dari bantuan logistik, tenaga medis, obat-obatan. Tanggul yang jebol pun sudah bisa diperbaiki hasil gotong royong semua warga dibantu para TNI.


Memasuki hari ke 7, air semakin surut. Semua lega. Kerja keras mereka tak sia-sia. Berkat kerja keras mereka menangani banjir, Dandim mengadakan perayaan kecil-kecilan di pos jaga. Semua makanan dipesankan oleh Dandim. Para tenaga puskesmas pun turut di undang.


Acara dibuka dengan sambutan dilanjutkan dengan doa dan makan bersama, dan terakhir hiburan. Salma mengajak Anin untuk menyumbangkan lagu.


"Nin, ayok nyanyi. Gue yang mainin gitar deh" ajak Salma


"Ih, malu ah. Semua tentara Sal"


"Emang kenapa? Ayo lah Nin, gue pengen lo nyanyi buat gue. Ungkapan hati gue buat abang gue tercinta" Salma masih mencoba membujuknya.


"Cieee, nyanyi apa?" akhirnya Anin mau untuk bernyanyi.


"Sumpah Ku Mencintaimu dari seventeen. Please" Salma mengerlingkan matanya.


"Iya-iya" Anin dan Salma maju ke depan. Sorak sorai para penonton riuh.


"Hai semua, perkenalkan saya bidan Anin, ini teman saya bidan Salma. Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih kepada semua dalam bencana yang baru saja kita alami, tanpa kalian mungkin ini masih akan banjir. Langsung saja ya. Temen saya ini minta dinyanyikan lagu dari seventeen. Sumpah ku mencintai mu. Emang pacar lo ada disini?" Tanya Anin memancing Salma.


"Ada lah, kalau gak ada gak mau gue ke depan begini" jawab Salma.


"Ciee, tentara?"


"Udah nyanyi aja, buruan"


"Eh jawab dulu dong. Tentara?"


"Iya" jawab Salma. Raka dan Bagas memperhatikan obrolan mereka berdua di depan.


"Oke langsung saja. Mulai"


Intro dimulai dan Anin mulai bernyanyi. Saat sampai di reff Anin mengubah liriknya sehingga Salma berhenti bermain gitar dan mengingatkannya.


"Sumpah ku mencintai nya"


"Salah Nin, ku mencintai mu" jawab Salma


"Oh, salah ya? Kalau gue maunya mencintai nya gimana dong?"


"Gue maunya cuma sama dia Nin"


"Cinta mati dong. Oke, kita lanjutkan yang bener ya. Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku gila karena mu, sumpah mati hati ku untukmu tak ada yang lain" Anin melihat langsung mata Bagas seakan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Bagas. Bagas yang sedari ditatap menatap balik Anin seakan bertanya, mungkinkah lagu itu untukku?


"Mati rasa ku tanpa mu, henti nafas ku karena mu, sumpah mati aku cintaaaa"

__ADS_1


Selesai bernyanyi Bagas menghampiri Anin yang sedang sendirian. Anin menoleh.


"Lagi ngapain?" tanya Bagas yang sudah duduk disebelah Anin


"Gak ngapa-ngapain"


"Habis ini kita bakalan jarang bertemu. Boleh mas minta imbalan waktu kamu nebeng?"


Anin memutar ingatannya. "Apa?" tanya Anin datar.


"Tolong bantu mas menyelidiki Akbar" jawab Bagas tak kalah datar.


"Kenapa harus dia sih. Dia orangnya tuh baik lho"


"Jangan melihat dari cover aja dong, kan kemarin kamu bilangnya apapun. Mas hanya butuh apakah dia benar-benar seorang pengusaha batu bara atau bukan. Bisa?"


Anin sebenarnya malas. Tapi dia sudah berjanji.


"Hmm, baiklah. Apa yang harus kulakukan?"


"Suruh Akbar untuk menunjukkan dimana perusahaannya. Mas akan mengikuti mu. Rekam dengan kamera yang akan mas sembunyikan di tas kamu. Setelah dapat bukti segera pulang. Dengan begitu kamu juga bisa mengetahui siapa sebenarnya Akbar. Dan jika tuduhan mas salah, mas akan menjauhi dan melepasmu untuknya"


Anin agak terkejut dengan perkataan Bagas yang bagian akhir. Dalam hati kecilnya dia tidak ingin Bagas pergi. Tapi sekali lagi ego mengalahkan permintaan hati kecilnya.


"Oke, aku setuju" ucap Anin.


"Pacarnya"


"Kamu pasti tahu kan siapa pacarnya?"


"Jangan mengorek info dari ku, aku tidak akan buka mulut"


.


Semarang


Tari dan Tristan telah melangsungkan akad nikah. Para tamu telah meninggalkan masjid dimana tempat akad nikah dilangsungkan. Ana sengaja datang dan mendekati keluarga yang tengajmh berbahagian itu.


Tersisa papah Tristan, papah Tari, kedua mempelai, dan orang tua Bagas. Ana mendekati mereka yang sedang bersenda gurau.


"Bang, aku hamil. Aku hamil anak kamu. Dan kamu dengan teganya menikahi orang lain? ucap Ana datar.


Semua yang ada disana kaget mendengar ucapan Ana. Kecuali kedua mempelai yang sudah hafal watak Ana. Sampai papah Tari syok dan pingsan.


Papah Tristan dan orangtua Bagas membawa papah Tari ke rumah sakit. Tari dan Tristan tidak habis pikir dengan Ana.

__ADS_1


"Keterlaluan lo! Apa tujuan lo!" bentak Tari terhadap Ana.


"Hahaha, bagaimana? Akting gue bagus kan? Hahaha, semoga ayah mu mati! Lo inget kan lo pernah jeblosin papah gue ke penjara? Ini lah balasan gue!" balas Ana.


"Sakit jiwa kamu An! Pulang! Aku gak bakalan tinggal diam! Lihat saja nanti!" ancam Tristan.


Papah Tari sudah berada di rumah sakit dan sedang menerima perawatan medis. Dokter menjelaskan kepada pengantar bahwa papah Tari mengalami syok dan berakibat ke stroke ringan. Papah Tari sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Tari dan Tristan baru saja tiba di rumah sakit dan mencari ruangan papah mereka dirawat. Papah Tari baru sadar ketika mereka datang. Tari menyuruh semua orang yang mengantarkan papahnya untuk pulang dan beristirahat.


"Pah, papah, ini Tari pah. Papah baik-baik saja?"


Papah nya mengangguk. "Suami mu nak, apakah benar yang dikatakan perempuan tadi?"


Tristan yang ada disamping Tari menggenggam tangan papah mertua nya.


"Tidak pah, Tristan tidak pernah menyentuhnya. Dulu dia juga memfitnah Tristan begitu. Tolong papah jangan percaya ya?" pinta Tristan.


Papah Tristan belum bisa menerima pernyataan Tristan.


"Pulanglah dulu, Papah hanya ingin ditemani Tari" ucap mertua Tristan dengan membuang muka.


Tristan kecewa, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan mertuanya. Tristan menurut terhadap keinginan papah mertuanya. Tari mengantarkan suaminya sampai parkiran.


"Bang, maafin papah ya? Ana memang keterlaluan! Akan aku buat perhitungan dia!"


"Sudahlah yank, fokus dulu ke kesehatan papah. Abang akan meminta rekaman cctv itu lagi. Semoga papah bisa percaya. Abang pulang dulu ya. Jagain papah ya" ucap Tristan dan mengecup kening istrinya.


"Hati-hati ya bang, telpon Tari kalau sudah dapat buktinya. Maaf malam pertama kita harus tertunda"


Tristan tersenyum. "Tidak apa-apa. Rawat dulu papah. Abang pergi dulu ya. Baik-baik disini. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Tari mencium tanga Tristan dan memeluknya. Tristan menghujani wajah Tari dengan ciuman dan tersenyum.


Tari sudah kembali ke kamar papahnya. Dia mendekat dan mengelus tangan papahnya.


"Papah tidak menyangka suami kamu bejat begitu" ucap Papah Tari.


"Pah, Tari yakin kok bang Tristan gak mungkin begitu. Ana itu terobsesi dengan bang Tristan dan dendam kepada Tari. Makanya dia begitu. Papah janga kemakan omongan Ana ya. Bang Tristan sedang mencari bukti untuk meyakinkan papah"


Papah Tari tidak menjawab lagi. Dia memilih memejamkan mata. Tari hanya bisa diam.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2