
"Surprise!!" Teriak semua orang saat Anin dan Bagas membuka pintu rumah.
Anin dan Bagas melongo dibuatnya. Semua ada disana. Mulai dari paman nya, bibi nya, Nisa dan suami serta Jessy, Tari dan Tristan, Om Herman dan tante Indira, Adit, Sani dan Mayor. Berkumpul untuk merayakan kepulangan Anin.
"Ooo, ini orang udah gak ngumpet lagi Nin dari kamu?!" tanya Tari saat melihat Bagas berada di samping Anin dan melirik Bagas geram.
"Heheheh, main petak umpetnya udah selesai Ri. Ntar gue kena tampol lagi sama lo" jawab Bagas sambil cengengesan membuat semuanya tertawa.
"Ayo masuk" ucap Ibu.
"Ini syukuran kecil-kecilan merayakan kesembuhan kamu Nin. Kamu suka?" tanya Ayah pada Anin.
Anin mengangguk tersenyum. "Terima kasih karena kalian menyayangi Anin. Terima kasih sudah tulus memperhatikan Anin. Anin hanya bisa membalasnya dengan doa. Semoga kita semua dalam lindungan Allah, diberi kesehatan, keselamatan dan umur panjang"
"Aamiin" semua mengamini doa Anin.
"Yok makan dulu semua nya" ibu mempersilahkan mereka makan.
"Nin" panggil pamannya. Anin mendekat dan menyalami paman dan bibi nya.
"Maaf ya kemarin paman sekeluarga masih umroh sama Nisa dan Riski juga Jessy jadi tidak bisa menjenguk kamu di rumah sakit" ucap pamannya.
"Gak papa paman. Ada Ibu sama Ayah kok"
"Bibi minta maaf sama kamu atas kelakuan bibi ya Nin"
"Anin sudah memaafkan bibi. Jauh sebelum bibi meminta kepada Anin. Anin sadar bi, Anin menjadi tanggungan kalian selama ayah dan bunda tidak ada. Anin memakluminya"
"Tante, Jess boleh minta boneka lagi?" kata Jess membuat gemas Anin.
"Cium dulu dong, nanti tante belikan lagi"
"Yeeeee" Jess turun dari pangkuan Nisa dan menghujani Anin dengan ciuman.
"Mas Riski minta maaf ya Nin, mengenalkan kamu sama seorang buron seperti itu"
"Hahaha, gak papa kak. Dia juga udah punya istri lho. Istrinya lagi hamil juga"
"Ha?" Riski dan Nisa melongo tak percaya perkataaan Anin.
Bagas yang sedang bersama komandannya dan mayor berbincang sebentar. Tante Indira yang ada disitu melarang mereka membicarakan pekerjaan.
"Dilarang membicarakan pekerjaan! Oke boys!?"
"Siap ibu negara!" Jawab mereka kompak
"Baguuuuuuusssss" tante Indira mengacungkan jempol.
"Gas, besok ajak Anin ke batalyon. Nikah batalyon dulu. Tinggal menghadap saya kan"
"Uhuk uhuk uhuk. Ehem, siap Ndan!"
"Monyet satu ini memang perlu diikat Ndan. Kalau tidak nanti pasti kabur lagi" ucap mayor mengejek Bagas.
"Merasa bersalah boleh, tapi jangan sampai terpuruk. Dia itu butuhnya kamu. Bukan yang lain. Tanya tuh sama Sani. Saya saja sampai bingung saat ditanya mas Bagas misi kemana?"
"Teruas komandan jawab apa?" tanya Indra heran.
"Tak jawab saja. Misi melatih kemampuan menjadi ninja. Biar bisa menghilang dan datang tanpa ketahuan"
"Hahahahah"
__ADS_1
"Berangkatlah ke Jakarta, urus dengan cepat"
"Siap"
Anin sudah berkumpul dengan teman-temannya.
"Nin, gue denger lo minta sama om Edi buat jadi Ayah lo. Bener?" tanya Tari.
"Iya, gue pengen dia berubah menjadi lebih baik. Gue juga masih merasa beliau sayang sama gue. Semoga hukuman nya gak lama dan berat lah. Gue juga pengen kali kayak kalian punya orang tua. Eh kak Adit, makasih ya atas darah yang disumbangkan ke Anin. Mungkin kalau gak ada kakak Anin udah gak ada"
"Heeeeehhh, gak baik ngomong begitu. Sama-sama. Kakak hanya membalas budi atas pertolongan kamu dulu"
"Nin, lo setuju gak kalau kak Adit sama mamah?" ucap Tari
"Uhuk uhuk uhuk, kak Adit beneran?"
Adit hanya mengangguk.
"Yang harusnya ditanya tu lo Ri, lo siap gak punya bapak sambung cakep kayak begini?" ucap Salma
"Ooo jadi Adit cakep? Cakepan mana sama abang?" Raka tak terima Salma memuji yang lain.
"Ooo jelaaaaasss, cakepan kak aditt.....eeee salah ya cakepan abang toh yooooo"
"Cieeeee" ucap semuanya.
"Dia ketularan Bagas kali makanya dikit-dikit jadi cemburu" ucap Tristan.
"Gimana Ri?" tanya Anin.
"Gue sih oke-oke aja. Ya mungkin jodohnya mamah sama papah cuma segitu doang. Kalau kakak emang serius ya silahkan tanya ke mamah nya mau atau tidak. Tari sih merestui"
"Kamu dulu gih" balas Adit.
"Dia aja ngajak nikahnya kayak orang main-main. Masa kakak lo gak bisa romantis sih Sal. Biar gue percaya gitu kalau dia emang beneran ngajak gue nikah?"
"Lhhhaaaaahhh, jangan harap Nin. Bagas itu anaknya gak pekaan" sahut Tristan.
"Bener kata Tristan. Mana mau dia sok romantis begitu. Gengsi nya gedeeee" Raka menimpali.
Anin hanya tersenyum. Semua menikmati suasana tersebut. Canda gurau semua menghidupkan suasana rumah itu.
.
Waktu cepat sekali berlalu. Tiba di hari pernikahan Sani dan Indra. Semua keluarga bersiap.
Raka dan Salma serta ayah dan ibu satu mobil dengan Raka.
Sedang Bagas dan Anin menggunakan mobil Salma nantinya.
"Bu, seragam Bagas kok gak disetrikain sih"
"Ya Allah Bagaaaass, ibu lagi riweh sama sanggul kamu minta setrikain sama yang lain aja sana"
"Dek"
"Gak bisa kak, Salma lagi bantu ibu pasang sanggul"
"Yank"
"Apa sih mas? Ini lho alis ku sampai naik satu. Gak simetris!"
__ADS_1
"Bentar doang yank, masa mas minta tolong lagi sama pak jenggot?"
"Hahaha, gih minta tolong sana. Makanya belajar nyetrika sendiri"
"Orang udah belajar masih aja gak rapi kok"
"Hadeeehhh, riweh deh kamu mas. Siniin! Makanya besok lagi kalau mau dipake di cek dulu! Lagian udah aku bilangin toh, gak usah ikut prosesi pedang pora. Ngeyel aja" Anin sudah merunyak kemana-mana.
Akhirnya Anin menghentikan mewarnai alisnya dan menyetrika seragam Bagas.
"Nyet, lo kok belum siap sih? Pedang pora lho" Raka menghampiri Ibu dan Salma melihat Bagas masih menggunakan kaos.
"Sabar Mbel, seragam lagi disetrika in calon bojo. Lo duluan aja deh. Ntar gue susul"
"Buruan, ntar telat! Bu, dek, ayo ayah udah nunggu"
"Iya bang, adek udah selesai" Salma dan Ibu menyusul Raka ke mobil.
Anin menyerahkan seragam kepada Bagas. Bagas segera memakainya.
Anin merapikan alis nya dan menggelung rambutnya ke belakang.
"Ih, cantik!" cup. Bagas memuji dan mengecup bibir Anin.
"Wooo, main kecup aja. Ayo berangkat. Nanti telat"
Mereka segera menyusul Raka dan rombongan.
Pesta berjalan lancar sampai acara selesai.
"Kita nginep di hotel aja sih yah, besok masih resepsi nya Tari. Capek kalau bolak balik" ibu memberi saran kepada Ayah.
"Ya sudah, kita cari hotel saja"
"Kenapa gak di hotel yang buat resepsi kita bang?" Salma memberi ide.
"Ah iya, sekalian, minggu nya langsung"
"Oke gas keun" ucap Ayah membuat semua menoleh.
"Kenapa?" tanya ayah
"Ayah gaul banget pake bahasa itu"
"Ayah kan masih muda bu"
"Ayah itu menolak tua bu" Raka menyahut
"Bang, papah sama mamah besok yang jemput siapa?"
"Pak jenggot yank. Tenang aja. Telpon kakak dulu gih. Bilang kita di hotel aja"
"Oke"
Salma menghubungi Anin dan menyuruhnya untuk ke hotel x. Anin dan Bagas mengikuti mereka.
.
.
.
__ADS_1