Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 125


__ADS_3

Anin dan Tari sudah berada di jalan raya untuk kembali ke rumahnya. Di dalam mobil Anin kembali murung. Dia menyandarkan kepalanya di jendela mobil.


"Woy! Ngapain sedih? Masih mikirin si kunyuk?"


"Apaan sih Ri, sebut nama dia yang bener. Dia lebih tua dari kita"


"Ciee masih belain aja lo, Kak Sani jauh di atas lo. Jadi mending lupain dia deh Nin"


"Begitu kah? Hmm, ternyata move on susah. Sakit perih ada semua. Panggilan dia ke cewek lain, perlakuan manis dia ke cewek lain makin buat hati gue sesak"


Ddrrrttttggg Drtttggg.. Panggilan masuk ke ponsel Tari.


"Tolong angkat kan dong Nin" Tari masih fokus menyetir karena jalanan agak macet.


"Lhah, kok nomor gue yang memanggil. Jangan-jangan ketinggalan lagi" Anin melihat layar ponsel Tari dan yang tertera adalah namanya. Anin merogoh-rogoh tas nya dan memang tidak ada ponselnya.


"Kenapa? Beneran ketinggalan?" tanya Tari.


"Kayaknya iya deh, puter balik gih"


"Mana bisa. Jalanan macet begini. Angkat dulu deh mending. Minta untuk disimpenin dulu"


Anin mengangkat panggilan itu. Bagas menyahut dari seberang sana.


"Halo, assalamualaikum" ucap Anin.


Waalaikum salam. Ponsel kamu ketinggalan nih


Anin diam tak menjawab. Suara ini, suara yang begitu dia rindukan. Suara yang mampu mengobati rasa rindunya.


Halo Nin, masih disana?


"Iya, bisa tolong simpankan dulu ponselnya? Besok aku ambil. Kita bertemu di resto x jam 11.00"


Kamu posisi dimana? Biar aku anterin. Oh ya, aku lupa ngasih tahu, kamu kenal dengan komandan ku? Namanya Suherman dia ingin bertemu denganmu


"Suherman? Aaaahh, iya aku kenal. Suami tante Indira kan? Ketemuan dimana?"


Di resto x jam nya sekitar jam 12.00 an. Besok aku jemput


"Tidak usah dijemput. Aku sudah ada janji dengan seseorang juga, jadi nanti aku akan langsung menemui om herman"


Terus ini hp nya gimana?


"Antarkan ke alamat Tari di jalan merdeka no. 50. Kami terjebak macet"


Siap ayang beb. Assalamualaikum


"Waalaikum salam"


.


Rumah Tari


"Hadooh capek nya kena macet" ucap Tari sambil merebahkan tubuh di sofa.


Anin sedang melepas sepatunya dan ikut duduk di sofa.

__ADS_1


"Eh Nin, si Salma mau gak ya kalau gue kasih jatah mahasiswi 2 orang aja deh"


"Lhah, bukannya kalau pembagian itu yang mengatur dinas ya? Kok ini lo bagi sendiri"


"Iya, itu karena ada satu bidan yang gak bisa ditempati, dari dinas menyerahkan kembali ke kampus. Mau ya? Biar kalau supervisi tuh gak sampai jauh banget"


"Lo ngomong sendiri deh, coba telpon aja. Gangguin biar gak bisa pacaran terus"


"Hahaha, sirik aja lo ada orang pacaran, udah ah gue mau mandi dulu terus telpon Salma"


Tok tok tok. Anin membuka kan pintu. Bagas sudah berdiri di depan pintu dan menyodorkan ponsel Anin.


"Makasih" ucap Anin datar.


"Sama-sama" balas Bagas juga datar.


Keduanya terdiam tak tahu harus berbicara apa.


"Besok jangan lupa di resto x jam 12.00. Mas balik dulu. Assalamualaikum"


"Iya, waalaikum salam"


Bagas meninggalkan rumah Tari. Anin hanya diam tak bisa mencegah Bagas. Anin terduduk kembali di sofa.


"Huft, kenapa jadi dingin begitu sih? Apa kamu cemburu padaku? Yang patutnya cemburu itu aku, baru 3 bulan putus kamu sudah mendapatkan yang lain. Sedangkan aku? Aku masih terjebak dengan perasaan ku padamu. Sakit melihatmu dengan yang lain, tapi jika memang itu pilihanmu aku gak tau bisa ikhlas apa gak. Huaaaa"


.


Resto x


Anin sudah tiba di resto bersama Tari. Mereka dipersilahkan oleh resepsionis resto tersebut untuk diantarkan ke meja tujuan. Nisa, Riski, Jessy, dan seorang laki-laki sedang bercengkrama.


"Hai Nin, Ri, apa kabar?" sapa Nisa sambil cipika cipiki dengan mereka.


"Alhamdulillah Anin baik mbak"


"Tari juga baik, mbak gimana?" ucap Tari


"Mbak juga baik, Akbar ini lho yang namanya Anin. Gimana cantik kan?"


"Iya" jawab Akbar singkat dan tersenyum, mata nya masih fokus kepada Anin


"Woy! Terpesona sampai begitu banget. Mingkem!" ucap Riski mengingatkan Akbar.


Semua yang ada disana tertawa.


"Tante, mana boneka Jes?" tanya Jessy menagih janji nya.


"Ada dong, ini semua punya Jessy. Dirawat ya boneka nya. Udah minta adek ke mommy sama papi belum Jes?"


"Udah dong, kata papi lagi proses pencetakan. Jes gak mudeng tante" jelas Jes membuat orang tuanya malu dan yang ada disana tertawa.


Mereka menikmati sajian yang terhidang di atas meja itu. Hingga akhirnya Nisa, Riski, Jes, dan Tari memberikan kesempatan pada Anin dan Akbar untuk berdua. Tak jauh dari sana ada dua pasang mata yang sedang mengamati mereka.


"Kenapa mukamu? Masam sekali. Kau cemburu?" ucap Mayor Indra kepada Bagas.


"Sangat! Aku masih sangat mencintainya. Melihatnya berbagi senyuman saja aku ingin membawanya keluar dari sini"

__ADS_1


"Bersabarlah, rebut dia kembali kalau memang kau benar-benar mencintainya"


"Ah, aku sudah tidak tahan. Aku akan menghampiri mereka. Lakukanlah tugasmu sendiri Ndan. Hatiku semakin panas"


"Oke"


Bagas berjalan menuju meja Anin dan duduk di samping Anin. Akbar dan Anin sampai kaget tiba-tiba ada orang yang duduk di meja mereka.


"Maaf, siapa ya?" tanya Akbar kepada Bagas.


"Kenalin, saya Bagas. Mantan tunangan Anin dan sebentar lagi akan kembali menjadi imamnya" ucap Bagas dengan penuh percaya diri.


Anin memukul lengan Bagas dengan buku menu yang masih ada disana.


"Jangan percaya bang, gak bakalan mau Anin balikan sama dia!" ketus Anin.


"Kenalkan, saya Akbar, pengusaha batu bara. Kau dengar sendiri kan, Anin tidak akan kembali padamu. Jadi lebih baik kau simpan tenaga mu untuk merebutnya kembali. Itu akan menjadi hal yang sia-sia" Akbar menyombongkan diri kepada Bagas.


"Jangan dulu sombong, ada yang lebih tahu tentang perasaan itu. Ada Allah yang maha membolak-balik kan hati" balas Bagas.


"Iya, dan hati aku udah kebalik sama kamu! Kalau dulunya aku cinta sekarang hanya biasa saja. Udah sana pergi. Gak usah ganggu!" usir Anin kepada Bagas.


"Aku mau nya disini. Dapat mandat dari komandan Suherman untuk mengawasi kamu!"


"Hilih alasan. Ngomong aja cemburu dan gak ikhlas lihat aku sama yang lain!" tandas Anin.


Akbar hanya bisa tersenyum melihat dan mendengar perdebatan mereka.


"Anin mau tambah makanan?" tanya Akbar


"Boleh bang, Anin jadi lapar lagi kalau udah berdebat dengan orang ini!"


"Anin mau apa?"


"Terserah abang aja"


Pelayan datang dan Akbar memesankan makanan. Mereka yang ada di meja itu diam membisu. Tak lama berselang pelayan datang membawakan makanan. Anin mendelik dengan menu di depan nya. Udang bakar.


"Ayo makan lagi Nin. Gak usah ngurusin mantan kamu"


Anin masih melihat udang itu. Dia ingin menolak tapi tidak enak hati terhadap Akbar. Bagas masih diam. Anin hendak memakan udang itu dengan tangannya tapi dengan cepat Bagas mengarahkan tangan Anin ke mulutnya.


"Kau bahkan membuatnya dalam bahaya. Kau tidak tahu bahwa Anin alergi udang?" sindir Bagas terhadap Akbar.


Akbar berhenti makan dan melihat Anin.


"Benar? Kenapa gak bilang sih? Maafin Abang, pesan menu lain aja ya?"


"Gak usah bang, Anin udah kenyang. Abang aja yang makan"


Bagas melahap habis udang bakar itu. Perhatian sekali sebagai mantan.


Ternyata kamu masih ingat mas. Terima kasih


.


.

__ADS_1


.


Cieew mas Bagas sweet banget sih masih inget aja Anin alergi udang


__ADS_2