Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 112


__ADS_3

Matahari enggan keluar dari persembunyiannya. Anin sudah membereskan semua barang yang akan dibawanya ke Kalimantan. Banyak kenangan di rumah itu, bersama sahabatnya dan juga bersama Bagas. Air mata nya mulai menggenangi pelupuk mata nya dan jatuh tanpa permisi. Anin mengusap nya.


"Jangan nangis lagi Anin, buktikan lo kuat! Sebelum lo kenal dia juga lo baik-baik aja! Sekarang fokus untuk masa depan lo Nin!" ucapnya menguatkan diri sendiri.


tok tok tok. Anin yang berada di ruang tamu segera membuka kan pintu. Ada paman nya, Nisa, Jessy, suami Nisa, ayah dan ibu berdiri di depan pintu. Ayah dan Ibu sudah menceritakan kejadian semalam dengan paman Anin.


Anin tersenyum dan memberi salam satu per satu kepada mereka. Anin mempersilahkan mereka masuk dan duduk.


"Anin buatkan minun dulu ya" Anin hendak menuju dapur tapi dicegah oleh Nisa.


"Kamu duduk aja, biar mbak yang buatkan. Jess sama tante dulu ya" Nisa menuju arah dapur dan Jess duduk di pangkuan Anin.


"Nin, ada apa sebenarnya?" tanya ayah dengan nada sendu.


"Ayah tanya langsung saja ke mas Bagas, karena dia yang lebih berhak menjawabnya. Ibu maaf ya tadi malam Anin tidak mengangkat telepon dari ibu. Anin pun tidak tahu harus bicara apa"


"Kamu baik-baik saja? Tenang ya sayang, nanti ibu coba ngomong lagi sama Bagas"


"Oh ya bu, Anin titip ini" Anin melepas cincin pertunangan nya dan memasukkan ke dalam kotak kado yang Bagas beri tadi malam. "Tolong kembalikan kepada pemiliknya, Anin tidak pantas menerima nya"


"Anin, jangan seperti ini sayang, Ibu sedih jika kamu begini. Dipake buat kamu ya, atau mau dijual juga terserah"


"Anin gak pantas menerima ataupun menjualnya bu, berikan saja ke mas Bagas. Biar dibuangnya atau diapakan nya terserah"


Nisa kembali dengan membawa minuman di tangannya.


"Paman, Anin besok sudah harus orientasi, jadi Anin mohon doa restu paman. Doakan Anin selalu ya paman" Ucap Anin sambil menggenggam tangan pamannya membuat suasana haru.

__ADS_1


"Paman selalu mendoakan mu nak, jangan sungkan meminta bantuan kepada paman jika kamu butuh sesuatu. Paman masih belum bisa menjaga mu dengan baik, semoga kebahagiaan selalu berlimpah kepada mu nak" ucap pamannya sambil menitik kan air mata.


Anin mengangguk. "Mbak, mas, maafin Anin kalau Anin ada salah. Doakan Anin selalu ya. Jess nanti kapan-kapan main ke Kalimantan ya. Tante ajak beli es krim yang buanyak. Mau?"


"Jangan es klim ante, mommy ngamuk nanti. Beli boneka aja boleh?" ucap Jess membuat suasana agak mencair.


"Boleh, janji ya Jess main ke tempat tante" Anin menyodorkan kelingkingnya dan dibalas oleh Jess. Mereka membuat janji kelingking.


"Ayah, Ibu, terima kasih selama ini udah menjaga Anin. Maaf kalau selama ini Anin berbuat salah, tolong doakan Anin yang baik-baik" Anin memeluk Ibu yang sudah menangis.


"Maafin anak ibu yang sudah membuat hati kamu sakit ya sayang. Bagas memang keterlaluan. Apa gak bisa kalian balikan lagi?" Anin melepas pelukannya, dan mengusap air mata ibu dan menggenggam tangannya.


"Ibu, Mas Bagas yang menginginkan ini berakhir"


"Kenapa kalian tidak saling memperjuangkan?" tanya ayah.


Tristan muncul di balik pintu. Anin menyuruhnya untuk membawa kopernya. Anin berpamitan dengan mereka yang ada disana. Anin sengaja meninggalkan rumah lebih awal karena harus menjelaskan kepada Tari tentang kejadian semalam. Anin dan Tristan sudah berada di dalam mobil dan siap melaju meninggalkan rumah. Dia melambaikan tangan dan memaksakan senyum yang keluar dari bibirnya. Mobil sudah melaju dan menghilang di jalan.


.


"Abang sudah mencoba meminta rekaman cctv di kafe itu, hanya saja yang di dekat meja kamu cctv nya mati. Abang hanya berhasil mendapatkan yang saat abang kembali dari toilet dan yang Bagas pergi dari kafe itu" ucap Tristan memecah keheningan.


"Anin coba bantu abang sebisa Anin" ucapnya lesu sambil memandang ke arah luar jendela.


"Nin, abang hanya bisa memberikan ini. Simpanlah untuk tambahan disana. Anggap saja itu upah kamu selama bantu abang. Abang doakan semoga kamu bahagia disana" Tristan menyerahkan amplop putih itu kepada Anin. Anin menerima dan membuka nya.


"Terima kasih bang, maaf kalau selama disini Anin menyusahkan abang. Mantep juga gajinya, hahaha" Anin melepas tawanya menghitung jumlah uang yang Tristan berikan kepada nya.

__ADS_1


"Itu khusus karyawan seperti kamu! Kalau bukan kamu ya gajinya dibawah itu. Hahahah"


Keheningan tercipta kembali. Sampai di apartemen. Anin meminta Tristan untuk mengeluarkan terlebih dahulu kopernya. Untuk berjaga-jaga. Mereka langsung menuju apartemen milik Tari.


Teng tong. Anin membunyikan bel. Tristan berada di belakang Anin. Tari membuka pintu apartemen nya. Dilihatnya mata sahabatnya itu, bengkak akibat menangis.


"Masuk dulu" ucap Tari. Mereka masuk dan duduk di sofa. "Mau minum apa?"


"Gak usah, gue kesini cuma mau meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Terserah lo mau percaya apa gak, memang tidak ada bukti yang menguatkan karena cctv disana mati. Hanya ini yang kami punya" Anin berbicara dengan nada dingin mengikuti ritme sahabatnya yang menjadi dingin kepada nya. Tristan menyerahkan ponsel nya kepada Tari. Tari melihat dengan seksama.


"Hanya ini?" tanya Tari.


"Ya, seperti yang udah gue bilang. Kalau gue ada rasa sama Tristan gue gak bakalan jodoh-jodohin kalian. Pernah gue nikung lo? Selama lo pacaran sama Angga pernah gak lo lihat gue aneh-aneh sama cowok lo?! Sama seperti lo yang ciuman sama Tristan, gue juga kebawa perasaan! Gue emang pernah jadi pacar ataupun tunangan bayaran, tapi gue gak pernah jadi tukang tikung sahabat sendiri!"


"Kok jadi lo yang galak ke gue sih? Harusnya gue yang marah dong!"


"Gue mau pamit, gue harus pergi. Terserah lo percaya apa gak ke gue. Gue harap lo percaya dan gak ngerusak hubungan persahabatan kita. Assalamualaikum. Abang disini aja. Anin bisa pakai taksi online, daripada ada yang menganggap Anin tukang tikung lagi!" Anin meninggalkan apartemen Tari dan memesan taksi online.


Tari mengejar sahabatnya itu.


"Anin! Tunggu!" ucapnya dengan berlari. Anin menoleh dan berhenti.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2