
Edi kembali ke persembunyiannya. Dia gusar kesana kemari. Bayangan anak kecil itu kembali berkelebatan di pikirannya. Matanya sudah dipenuhi air mata. Tak menunggu lama, air mata itu tumpah. Lirih tapi masih bisa terdengar.
"Maaf.....
Maafkan kesalahan om.....
Aniiiiinnnn sayannggg, ikutlah bersama om. Om akan merawatmu. Maafkan om membuat mu menjadi yatim piatu. Hikkksssss huhuhuhu"
"Aaaakkkrrgggghhh, tapi itu pantas ayahmu dapatkan! Dia merebut semua yang aku punya! Orang yang kucinta! Bahkan tahha? Semua ayahmu dapatkan! Dia serakah! Ya dia serakah! Hahahahaha"
Suara tangis itu berganti tawa yang mengerikan di malam hari. Tawa seorang yabg dipenuhi akan kedengkian.
Bagas dan Raka melakukan penyusuran malam. Mereka menyusuri setiap jalan. Hanya sepi yang mereka temui. Mereka hanya berdua dan mengintai rumah sasaran mereka.
Mereka hanya menunggu siapa yang akan keluar dari sana, atau siapa yang akan masuk kesana. Dinginnya malam dan gelap nya semesta tak menyurutkan semangat mereka mengungkap misi yang mereka tangani. Entah sudah berapa jam mereka melakukan pengintaian itu. Mereka akan terus menunggu.
"Lanjut atau selesai?" tanya Raka yang sudah mendengar seruan qiroah
"Tunggu sebentar lagi. Dengarkan dengan seksama bunyi apa yang mendekat" jawab Bagas seperti mendengar deru kapal yang akan mendarat.
Raka mendengarkan dengan seksama. Dan memang itu bunyi kapal yang sedang mendarat. Tak lama berselang banyak motor dengan kotak ikan di belakang motor itu datang. Sekitar 7 motor yang datang. Pengendara itu membuka helm mereka.
Mata Bagas dan Raka sampai melotot melihat siapa yang datang.
"Akbar Jayadi!" pekik mereka dalam gumaman.
"Cepat foto dan kirimkan ke mayor!" perintah Raka kepada Bagas yang posisinya lebih dekat untuk memotret sang target.
Bagas mengambil ponsel nya dan memotret targetnya.
"Oke dapat"
Mereka kembali fokus terhadap yang mereka lihat. Kapal yang menepi tadi menurunkan barang mereka ditukar dengan box ikan yang ada di atas motor. Akbar membuka box itu dan melihat senjata yang baru saja datang.
"Hmmm, harum sekali kamu sayang. Barang baru memang selalu menggiurkan" ucap Akbar.
Edi datang dari arah dalam. "Bawalah dengan hati-hati. Suap mereka yang bisa di suap. Jangan membuat bos besar kecewa. Aku ingin bertanya sesuatu"
Akbar menghentikan aktifitasnya yang sedang mengendus dan mencium senjata itu.
"Apa?"
"Kau kenal dengan 2 perempuan kemarin?" tanya Edi
__ADS_1
"Yang satu adalah calon istri ku, yang satu temannya. Kenapa?"
"Calon istri? Mia bagaimana?"
"Setelah melahirkan aku ceraikan. Ganti yang masih rapet!"
"Aku sarankan kau jauhi dia atau kita akan terkena masalah" jawab Edi.
"Kenapa?"
"Karena diam-diam kemarin dia merekam mu. Periksa cctv jika kau tak percaya"
Edi masuk ke dalam bersama Akbar dan menunjukkan aksi Anin kemarin.
"Gadis sialan! Aku kira dia gadis lugu!"
"Hahaha, dia terlalu pintar untuk menjadi gadis lugu. Jangan lagi bertemu dengannya jika kau ingin selamat"
"Tapi aku sudah terlanjur mencintai nya!"
"Persetan dengan itu! Aku mau kau menjauhi nya! Jangan libatkan lagi dia dalam bahaya!"
Akbar bingung dengan perkataan Edi barusan.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Cepat antarkan barang itu ke kota sebelum pagi menjelang kalian harus sudah keluar dari desa ini" perintah Edi kepada Akbar. Akbar menyimpan pertanyaannya untuk Edi.
Dia kembali ke motornya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.
Bagas dan Raka segera menyingkir dari persembunyian mereka karena pagi akan segera menjelang.
Mereka berlari ke dalam hutan mengambil motor mereka yang sengaja disembunyikan. Lalu dengan cepat kembali ke jalan desa dan mengikuti kemana perginya rombongan itu.
Di dekat KODIM Bagas menyuruh Raka menepikan motornya. Dia mengirim pesan kepada Mayor Indra untuk membantunya mengejar rombongan motor tadi.
Sang mayor yang sudab sangat siap menerjunkan beberapa anak buahnya dari batalyon untuk membantu Bagas dan Raka.
Raka dan Bagas kembali melajukan motornya mengejar rombongan tadi.
.
Pustu
Anin merasakan perutnya mulas, segera dia ke kamar mandi dan ternyata dia datang bulan.
__ADS_1
"Sal, gue balik tidur lagi ya. Gue datang bulan. Nanti jam 6 bangunin gue" ucap Anin sambil merebahkan tubuhnya lagi.
Salma yang sedang berdoa sampai tidak fokus dan harus mengulang doa nya lagi.
Anin berada di alam bawah sadarnya. Dia kembali ke masa lalu. Malam itu dia melihat Bunda nya sedang dipaksa oleh seseorang.
"Nindya dengarkan aku, aku sungguh mencintai mu, tinggalkan dia dan hiduplah bersama ku. Aku lebih kaya dari nya. Memang pangkat ku tak lebih dari nya. Tapi aku lebih kaya dibandingkan dengan dia. Aku memiliki bisnis lain yang akan menjamin kehidupan mu kelak. Aku mohon hiduplah bersamaku" ucap lelaki itu
"Bisnis? Bisnia apa yang sedang kau jalankan, sehingga bisa mencukupi ku di kemudian hari?"
"Aku melakukan penyelundupan senjata"
"Kamu gila Ed! Kamu akan tertangkap! Ternyata yang diucapkan Mas Andi memang benar adanya! Kamu sungguh gila! aku tidak pernah mencintai mu! Aku hanya simpatik terhadapmu! Tak lebih! Tolong pergilah! Pergi dari kehidupan kami! Biarkan kami hidup bahagia!" ucap Bunda Nindya. Anin yang saat itu berada di balik mobil mendengarkan semua percakapan yang terjadi antara bundanya dan om Umang. Anin memberanikan diri melerai pertikaian mereka.
"Bundaaaa, bunda kenapa bertengkar dengan om Umang? Apa om Umang nakal sehingga bunda memarahi nya?" tanya anak kecil itu.
"Tidak sayang, ayo ke mobil. Bunda akan memanggil ayah untuk mengantar kita ke rumah tante Indira"
"Ayah kerja lagi bunda?"
"Iya sayang, ayah kerja lagi. Sama om Umang, sama om Herman, sama Om Ardhi, dan om Bakri. Kita ke rumah tante Indira ya. Nginep disana"
"Yeeee, aku ketemu sama dedek Icha" ucap Anin kecil.
Anin sudah di dalam mobil. Bunda nya memanggil ayah nya untuk segera keluar tapi tak kunjung keluar. Akhirnya sang bunda memanggil ayah Andi.
Edi sangat marah akan penolakan yang diterimanya. Dia dengan cepat masuk ke mobil dan memutus kabel rem mobil. Anin yang melihat itu mencegah Edi untuk melakukannya.
"Om Umang, kenapa mobil ayah di rusak om? Nanti ayah kenapa-napa gimana? Om jangan om, jangan om. Om Umang jahat, om Umang jahat, Anin benci om Umang"
Bugh. Edi menyentang tubuh Anin ke belakang hingga kepalanya terbentur pintu mobil dan setelah itu Anin pingsan.
"Nin, Anin! Bangun! Lo kenapa?!" Salma ketakutan melihat keringat Anin yang sudah bercucuran dan mengatakan om Umang jahat berulang kali.
Anin sadar dari mimpinya dan menghela nafas. Salma memberinya air minum. Kepala Anin agak sakit. Dia hanya diam tak bercerita ke Salma.
.
.
.
Siapa yang besok gak cuti? Sama kayak author dong. Hahaha. Tetep semangat ya gengs. Like komen vote nya jangan lupaaaa. Makasih buanyakkkk.... 😘😘😘😘😘
__ADS_1