
Tristan menuju lokasi penyekapan Anin. Tari disebelahnya hanya diam. Tristan memberikan tisu untuknya.
"Udah, jangan nangis. Anin pasti baik-baik saja. Besok lagi, kalau aku bilang di rumah jangan membantah. Di rumah saja. Maaf tadi udah marah-marah sama kamu. Sekarang aku butuh bantuan kamu. Kamu bisa beladiri kan?"
Tari yang menerima tisu itu mengusap air matanya yang sedari tadi berjatuhan. Dia mengangguk mengiyakan omongan Tristan.
"Apa yang bisa ku bantu?" Tari membuka suara.
"Kau lihat penjaga itu bukan. Berpura-pura lah kau tersesat. Alihkan perhatiannya sampai jalan ujung sana. Aku akan masuk kesana, sebentar lagi rombongan dari TNI akan tiba. Setelah kamu berhasil, ambil alih kemudi mobil ku. Arahkan ke arah utara. Tunggu aku di pintu sana. Jika ada yang menyerangmu kau tahu harus apa kan?"
"Lari" ucap Tari
"Ya jangan lari dong! Hajar orang itu! Gunakan ilmu yang kamu pelajari!" Hardik Tristan.
Ini orang kenapa sih? Bentar-bentar marah, bentar-bentar baik. Heran! batin Tari.
Tari segera turun dari mobil Tristan. Jantung nya berdegup kencang. Ini baru pertama kali baginya. Dia mengatur nafasnya.
"Oke, tenang Ri. Lo bisa!" Tari meyakinkan dirinya sendiri.
"Permisi pak, numpang tanya. Saya mau ke kampus x tapi kok dari tadi hanya muter disini ya. Sepertinya saya tersesat disini. Bisa bapak tunjukkan jalannya?"
"Oh, itu mbak lurus saja belok kanan jalan lurus ketemu pertigaan belok kiri. Kampusnya ada di sebelah kiri jalan mbak" Terang penjaga itu.
"Lurus kemana sih pak? Bapak coba sini deh. Saya tu buta jalan pak" Tari meraih tangan penjaga itu dan mencoba menggelendot di lengannya. Berhasil. Sang penjaga itu luluh dengan rayuan Tari.
__ADS_1
Tristan yang melihat celah itu segera melangsungkan aksinya. Dia masuk lewat gerbang tapi disana ada penjaga 1 nya lagi. Mau tak mau dia harus baku hantam dengan penjaga itu. Pingsan. Ya penjaga tersebut pingsan. Tristan masih mengendap dan membaca situasi.
"Aku sudah di dalam. Ada penjaga di arah barat dan timur masing-masing 3 orang. Aku akan melumpuhkan bagian timur. Dan kau bagian barat" ucap Tristan melalui microphone kecil.
.
Anin mengerjapkan matanya. Tangannya tak bisa digerakkan. Mulutnya ditutup dengan solasi. Kakinya juga diikat. Dia berteriak tapi tidak bisa. Anin memejamkan mata.
Oke tenang Nin, tenang. Jangan panik
"Kenapa cantik? Kau takut? Kita lihat, apakah pacarmu yang tentara itu menyelamatkan mu atau malah membuangmu" ucap seseorang kepada Anin.
Siapapun tolong selametin gue. Mas Bagas, selametin Anin mas... Pinta nya dalam hati.
"Halo, baik. Akan kulakukan perintahmu" seseorang itu berbicara di telpon.
Anin menangis ketakutan karena ucapan lelaki itu. Tristan dan kawanan nya berhasil melumpuhkan para penjaga di depan. Mereka mulai masuk. Terjadi baku hantam kembali.
Dor. Orang yang bersama Anin menembakkan peluru ke udara. Anin semakin takut. Tubuhnya bergetar hebat.
"Kalau kalian berani mendekat akan kubunuh gadis ini!" ancam nya lagi
"Kau ini sungguh pengecut! Begitu doang bisanya? Coba tarung dulu dengan ku!" Tristan mencoba mengalihkan perhatian orang itu karena dari sisi belakang anggota TNi sudah melumpuhkan sebagian penculik Anin.
Srek grep. Suara pistol di todongkan di kepala lelaki itu.
__ADS_1
"Kau mau mati? Lepaskan sandera mu sekarang juga!" Gertak anggota TNI itu.
Tubuh lelaki itu bergetar. Anggota TNI yang lainnya membebaskan Anin. Lelaki itu dengan cepat menepis pistol di kepalanya dan membalik keadaan. Anin dibawa nya. Dia menodongkan pistol ke kepala Anin.
"Jatuhkan senjata kalian! Kalian ingin dia mati?!"
Tari yang baru saja tiba dengan mobil Tristan di gerbang belakang melihat Anin sedang dalam bahaya. Entah apa yang membuatnya berani. Dia melihat ada kayu besar, dengan mengendap dia memukul tengkuk lelaki itu dan
Bruk
Semua orang yang ada disana tak percaya dengan barusan yang terjadi. Tari dan Anin langsung berlari menuju mobil diikuti salah satu kawanan TNI.
"Ri, biar gue aja yang bawa" kata lelaki itu. Dia memakai masker hingga tak dikenali.
Anin dan Tari sempat bingung. Dengan segera lelaki itu mengambil kunci mobil.
"Ayo cepat, kalian mau tertangkap lagi?"
Kata lelaki itu membuyarkan lamunan Anin dan Tari. Mobil melaju meninggalkan gedung tua itu. Di perjalanan lelaki itu menurunkan maskernya hingga ke leher. Dan ternyata lelaki itu adalah...
.
.
.
__ADS_1
Ayo tebak siapa hayo? Makasih masih setia mantengin cerita Anin dan Bagas. Like vote and comment ya guys.