Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 135


__ADS_3

Salma sudah sampai di Pustu. Pikiran nya melayang-layang memikirkan hubungan nya. Sinta bertanya tapi diabaikan olehnya. Dia menyimpan kepalanya diatas meja. Air mata nya selalu tumpah.


Bagas dan tim akan segera berangkat ke desa perbatasan, mereka menggunakan motor. Sebelum berangkat Bagas berbincang 4 mata terhadap Raka.


"Hmm, kira-kira gimana ya nanti bang Raka sama Salma?" ucap Agus


"Bukan urusan kita" jawab Hendra


"Tapi kasihan juga kalau putus hanya karena perjanjian konyol" timpal Hendi.


"Kalau putus, aku mau lah dengan Salma" ucap Agus yang mendapatkan toyoran di kepala dari teman-temannya.


"Itu sih mau nya lo aja! Udah yuk ah cabut. Mereka biar boncengan. Biar akrab lagi gitu" ucap Hendra.


"Kuy lah, Di, bilang dulu sana sama kapten kita berangkat dulu" ucap Agus.


"Kapt, bang. Kita berangkat dulu ya. Ketemu di pos penjagaan" pamit Hendi kepada Bagas dan Raka. Mereka mengangguk.


Sepeninggalan kawan-kawan mereka, tinggal mereka berdua.


"Sumpah demi ibu gue nyet, gak ada dalam hati gue buat balas dendam ke lo. Gue bener-bener jatuh hati sama Salma. Gue pernah coba jauhin dia, tapi kami sama-sama tersakiti. Gue mohon maaf karena gue nyembunyiin ini dari lo. Gue minta tolong restuin kami" jelas Raka panjang lebar.


"Konsekuensi tetap harus dijalani mbel. Lo bersedia nerima tantangan gue, dan lo kalah. Jadi lo harus mengakhiri hubungan lo sama Salma" jawab Bagas datar


Raka mengusap muka nya kasar. Dia bingung harus bagaimana lagi mengubah keputusan sahabatnya ini. Keras kepala.


"Hari ini Salma di pustu kan? Gue pengen li mutusin dia di depan gue setelah selesai pengintaian. Dan gue pengen lo jauhin adek gue" imbuh Bagas dan berlalu menaiki motornya.


Raka semakin sakit mendengar permintaan sahabatnya. Bagaimana mungkin dia akan memutuskan Salma setelah apa yang dijanjikan dengan Salma. Bahwa dia akan memperjuangkan cinta mereka.


Bagas meninggalkan Raka sendirian. Raka bingung tak tahu harus bagaimana.


.


Bagas dan tim nya melakukan pengintaian. Raka sangat tidak fokus dengan pengintaian kali ini. Bagas memberi instruksi kepada Raka untuk mendekat ke lingkungan target, tapi Raka hanya diam saja. Hingga akhirnya Hendra mengambil alih tugas Raka.


Bagas yang melihat itu hanya diam dan memperhatikan sahabatnya. Pandangan Raka kosong. Baru kali ini dia melihat Raka benar-benar hancur.


Salahkah keputusan ku? Apakah aku terlalu egois? Tapi dia keterlaluan melanggar janji yang telah kami buat. Ah sudahlah. Fokus Gas! Gumam Bagas dalam hati.

__ADS_1


Hendra mendekat ke arah rumah itu. Dia mengelilingi rumah itu. Beberapa penjaga dengan senjata berdiri di depan rumah itu. Melalui earphone Hendra memberikan informasi dan di dengar oleh semua nya.


"Kapt, disini penjagaan ketat. Tiap penjuru ada 2 orang penjaga. Senjata nya juga lengkap" lapor Hendra


"Terus lakukan pengintaian. Lihat ke arah atas, apakah ada cctv?" perintah Bagas.


Hendra berjalan mengendap dan melihat ke arah atas. Dia menginjak sesuatu dan mengakibatkan penjaga melakukan pencarian. Hendra menginjak tombol alarm yang memang sengaja diletakkan di tanah.


Hendra segera menjauh dari lingkungan itu. "Kapt siaga! Menjauh sekarang!" perintah Hendra kepada kawanan itu. Bagas dan yang lain segera menjauh, kecuali Raka. Dia masih pada posisinya berjongkok di balik pohon.


Bagas sampai menghampiri nya dan menyeretnya menjauh dari balik pohon.


"Lakukan penyisiran! Periksa cctv!" ucap penjaga yang ada disana.


Bagas memutuskan untuk mengakhiri pengintaian hari ini. Mereka kembali ke pos penjagaan.


.


Anin yang hari itu dinas luar untuk mewakili puskesmas nya merasa cemas dengan keadaan Salma. Setelah selesai kegiatan, dia mengajak Tari yang baru saja kembali dari Semarang untuk menceritakan kejadian di Kalimantan.


Anin sudah sampai di kafe x. Tak lama Tari dan Tristan sampai dan duduk bersama Anin.


"Makasih sistaaa" ucap Tari sambil cipika cipiki.


"Kok abang gak dicipika cipiki juga?" tanya Tristan.


"woooo, belum pernah ditampol Tari nih! Kasih Ri!" ucap Anin disambut tawa dari ketiganya.


"Oke, cukup ketawa nya. Ri, keadaan disini lagi kacau banget. Salma dan bang Raka ketahuan sama mas Bagas"


"Ha? Seriusan lo? Terus Salma sama bang Raka gimana?" tanya Tari antusias. Tristan menyimak percakapan mereka.


"Kemarin bang Raka diajak duel sama mas Bagas, kalau kalah dia harus mundur dan ninggalin Salma"


"Terus?" ucap Tari dan Tristan kompak


"Bang Raka kalah dan harus menerima konsekuensi nya. Gue takut kalau Salma jadi terpuruk. Lo tahu kan dia baru kali ini pacaran dan bener-bener jatuh cinta terlalu dalam?"


"Iya, sekarang dia dimana? Telpon gih, gue kasihan dengernya"

__ADS_1


"Dia di pustu desa x, eh dia mau ada mahasiswa di rumahnya?"


"Mau, untung alhamdulillah Nin, padahal malamnya dia kekeh gak mau. Kalau sampai itu terjadi gue harus nyari bidan lagi"


"Ooohh syukur deh kalau gitu. Hmm, dia sekarang pasti lagi sedih banget. Mas Bagas keras kepala banget sih kamu? Bingung aku bujuknya pake cara apa"


"Emang lo gak keras kepala Nin? Ingat jodoh itu cerminan diri kita. Sekarang bang Raka dimana?"


"Mungkin di pos. Gak tahu lah. Gue mau nyusulin Salma ke pustu aja lah, minta antar sama OB puskesmas"


"Kita ikut!" jawab Tristan membuat Anin dan Tari melongo.


"Gak ganggu pengantin baru nih? Siapa tahu masih pengen wikwik gitu. hahahaha"


"Dasar mulut lo gak ada akhlak. Di kafe lho. Bisa malu gue!"


"Hilih, pake malu segala. Biasanya urat malu lo udah ilang"


"Ayo lah ke pustu, kalau gue ketemu kunyuk itu beneran gue tampol pake high heels gue! Kali ini seriusan!"


"Mantep nih istri ku. Abang pengen lihat Bagas ditampol ipar sepupu dia sendiri. Hahaha"


"Ih, jangan dong. Nanti kalau bocor kepalanya gue lagi yang repot" sergah Anin atas rencana Tristan dan Tari.


"Cieee, masih perhatian aja lo! Bentar lagi bau-bau CLBK nih yank" jawab Tristan


"Idih, gak lah ya!"


"Ayok lah berangkat. Daripada kemalaman" ucap Tari.


Anin mengirimkan pesan kepada OB puskesmas untuk mengantarkan nya ke pustu. Dia juga meminjam motor untuk Tari agar bisa masuk ke desa tanpa harus bawa mobil. Anin juga mengirim pesan ke mbak minul agar besok dirinya digantikan saja di acara Safari KB dengan petugas yang lain. Dia ingin di pustu.


Malam menjelang. Bagas menagih janji kepada Raka. Dengan berat hati Raka mengikuti langkah temannya ke pustu.


Salma baru saja selesai sholat dari isya' nya. Dan air mata nya berurai kembali.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2