Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 128


__ADS_3

Pak Jenggot dengan sigap menolong Anin yang berteriak. Tangannya hendak memukul orang itu.


"Ini mas! Sakit tahu! Tega banget sih dipukulin! Nyalain saklar lampu nya!" Bagas sewot karena dirinya dituduh maling.


Lampu menyala dan ternyata memang Bagas. Pak Jenggot melepaskan cengkraman nya.


"Maaf bos, Anin berteriak dan saya hanya mencoba menolong"


"Hhmm, kembalilah" Bagas menyuruh pak jenggot kembali. Bagas mengunci kembali pintu rumah dan menghempaskan diri ke sofa.


Anin masih diam mematung, dilihatnya Bagas mengelu-elus bagian yang dipukulnya menggunakan teflon.


"Mas..."


"Apa? Maling? Mana bisa mas masuk kalau ada kunci di dalam yang masih pada tempatnya! Heran deh!"


"Iya, maaf ya. Ya aku kira maling, suara klutak klutek gak jelas kok. Daripada aku kenapa-napa kan mending antisipasi dulu"


"Sudahlah! Sana balik tidur!" perintah Bagas kepada Anin.


"Maaf" Anin duduk disebelah Bagas dan meminta maaf.


"Enak aja minta maaf doang! Nih lihat jidat mas benjol"


"Ya itu kan salah kamu sendiri, kenapa gak ngasih kabar mau pulang atau tidak? Tinggal kasih kabar aja kok susah!"


Bagas tersenyum, ternyata Anin menunggu kabar dari nya. "Emang mas masih penting buat kamu?? Harus mengabari kamu segala" ucapnya datar.


"Ya... Ya... ya penting gak penting"


"Maksudnya??"


"Tau ah, aku mau balik tidur! Kamu tidur di kamar Salma aja. Kamar tamu belum diberesin"


"Gak mau tidur bareng aja??" ucap Bagas menggoda Anin.


Wajah Anin bersemu. "Gundulmu! Gak usah ngarep!"


"Hahahah, kalo mau besok kita nikah agama dulu! Nin, Anin? Ayang beb??" Bagas masih menggoda Anin. Anin meninggalkan Bagas kembali ke kamarnya.


Saat sampai di kamar, dia dengan kasar merebahkan tubuhnya. "Wong gendeng, bisa-bisanya ngajak tidur bareng! Hishhh! Malah gak bisa tidur nih!"


Bagas merebahkan tubuhnya di sofa. Dia melihat langit-langit rumah. Mencari cara untuk meminta bantuan Anin mengungkap identitas Akbar. Lama kelamaan mata nya mengantuk dan akhirnya dia tertidur.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Ponsel nya berdering berkali-kali. Dia membuka matanya dan terkejut melihat jam nya.


"Astaghfirullah, jam 6! Kenapa bisa kesiangan sih?! Haduuuuh, harus cepet-cepet ini" Anin segera meraih handuk nya dan berlari masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaa" suara teriakan terdengar sangat kencang. Bagas dan Anin sama-sama teriak. Anin berlari keluar kamar mandi.


"Astaghfirullah! Mas bisa gak sih kalau mandi pintunya dikunci??"


"Kamu tuh yang salah! Main nyelonong aja! Antri! Mas hampir selesai!" teriak Bagas dari dalam kamar mandi.


Anin mengatur nafasnya. Tak lama Bagas pun keluar.


"Lihat apa kamu tadi?" tanya Bagas tanpa basa basi.


Wajah Anin bersemu, lagi-lagi Bagas berhasil menggoda nya. Anin tak mau kalah. Dia ganti menggoda Bagas. "Semuanya... Uuuwww, perut sixpack lengan kekar dan......" ucap Anin sambil menunjukkan bagian yang dilihatnya. Bagas menutupi dada nya dengan tangannya.


"Daannnn......"


"Cukup! Mas gak pengen dengar! Sana mandi buruan! bikinin mas sarapan!" Bagas meninggalkan Anin yang tersenyum nakal.


Anin cekikikan di dalam kamar mandi.


.


Anin dengan cepat menyelesaikan ritual mandi nya dan segera menyajikan sarapan. Sarapan sederhana, hanya roti dan susu. Bagas dan Anin sudah di meja makan. Mereka menikmati sarapan mereka tanpa ocehan. Setelah selesai sarapan, mereka mengecek ponsel mereka. Isinya adalah mengikuti apel di KODIM untuk siaga bencana.


Bagas memakai sepatunya, dan hendak berangkat. Anin sudah siap di depan rumah. "Ngapain?" ucap Bagas melihat Anin yang masih berdiri di depan rumah.


"Nebeng"


"Ada imbalan nya gak nih?"


"Haiyo jelas toh yo, emoh rugi aku" (Oh ya jelas dong, gak mau rugi aku)


"Ayolah mas, bisa telat iniiii"


"Oke, tapi ada imbalannya ya?"


"Yawes lah terserah, apapun"


"Okeeee" Bagas setuju dan sudah siap di atas motornya. Anin membonceng di belakang.


"Ke KODIM lho ya, bukan ke puskesmas"


"Ngapain?"


"Caper! Ya ikut apel lah, aku disuruh ikut apel siaga bencana"


"Oohh, pegangan!"


"Udah, cepetan berangkat, ngomong terus!"


.

__ADS_1


Anin dan Bagas mengikuti apel di KODIM. Dandim memberikan pengarahan untuk siaga bencana. Setengah jam apel itu berlangsung dan selesai. Anin hendak kembali ke puskesmas tadi dering telponnya berbunyi.


"Halo, assalamualaikum mbak minul, ada apa?"


Waalaikum salam dek Anin, dek bisa minta tolong ndak? Ini mendadak banget nih. Mbak Lila merujuk pasien dengan eklampsia ke kota. Lha harusnya ini jaga di pustu desa perbatasan. Dek Anin bisa menggantikan mbak Lila gak? Please. Salma mbak mintain tolong gak bisa karena kemarin dia sudah double sift di ranap menggantikan tika


"Owh, pantesan semalem dia gak pulang, gak kasih kabar juga sih. Terus nanti saya sama siapa mbak?"


Nanti sama dokter Bimo dek, tapi dokter Bimo berangkatnya nanti. Ini ada pasien kecelakaan juga di igd. Nanti dari pihak KODIM katanya ada pergantian kompi dek, nanti kamu ikut mereka ya. Ada obat di pustu yang habis juga, nanti dianterin sama bang Diki ya dek ke KODIM obatnya


"Oke mbak, ya sudah Anin coba tanya dulu ke pihak KODIM. Obatnya Anin tunggu ya mbak, jadi agak cepet ya"


Iya dek, makasih lho dek, untung kamu selalu bisa diandalkan. Ya sudah mbak tutup dulu, assalamualaikum


"Waalaikum salam" Anin memasukkan kembali ponselnya dan menuju pos KODIM.


Setelah sampai Anin bertanya kepada petugas jaga nya. Dan memang akan ada pergantian kompi. Anin menunggu obat dari puskesmas. Dia melihat Bagas. Bagas pun melihat Anin, dan menghampiri nya.


"Ngapain masih disini?" tanya Bagas.


"Keppo!"


"Ooohh, gitu. Tadi aja minta nebeng!"


"Kalian mau pergantian kompi?" tanya Anin.


"Kok tahu? Kamu mengikuti jadwal ku ya?"


"Idih ogah! Aku nanti ikut sama kalian ke pustu"


"Kamu kena jaga pustu lagi?"


"Iya" Anin melihat Diki sudah berada di gerbang KODIM. Dia segera menghampiri nya. Bagas melihat nya dari kejauhan. Anin tersenyum genit kepada Diki. Diki ini agak kemayu ya gaes. Tapi Bagas fokusnya ke Anin. Jadinya cemburu lagi deh. Heheh


Anin sudah membawa obat dengan kedua tangannya. Bagas menghampirinya. Bukannya membantu Anin malah mulutnya kembali pedas.


"Siapa lagi itu cowok? Demen banget deket sana sini. Kegenitan! Malah jatuhnya murahan!"


Anin yang tadinya adem ayem mendengar perkataan Bagas menjadi membara. Emosi nya sudah sampai di ubun-ubun. Ingin sekali menampar Bagas, tapi tidak bisa karena tangannya membawa obat-obatan.


"Apa tadi kamu bilang?! Kegenitan?! Murahan?! Maaf ya! Aku waktu jadi tunangan bayaran kamu berapa tarif ku?! 5 juta! Itu terhitung mahal! Yang murahan tuh ya yang mengobral badannya di pinggir jalan!" Anin menginjak dengan keras kaki Bagas, membuatnya meringis kesakitan.


Anin meninggalkan Bagas dengan berurai air mata. Sakit hati dia dengan ucapan Bagas. Dia masuk terlebih dahulu ke mobil yang akan mengangkut pasukan kompi itu. Dia menenangkan diri dan mengatur nafasnya. Anin duduk di bangku belakang.


.


.


.

__ADS_1


Ya Allah mas Bagas mulutnyaaaa, pagi-pagi juga. Tadi waktu sarapan pengen ngambil selai strawberry keliru sambal setan kali. 😂😂


__ADS_2