
Setelah membersihkan diri Anin langsung kembali ke toko untuk membayar camilan nya. Dia baru sadar jika ada Raka disana.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Anin tanpa basa-basi lagi.
"Misi" jawab Raka singkat.
"Berapa lama?"
"1 bulan"
"Bakal menjadi bulan terlama buat gue. Aaahhhh, pengen kabur gue rasanya" ucap Anin setengah teriak membuat Bagas yang sedari tadi di samping mobil menoleh.
Bagas menghampiri mereka dan hendak menanyakan perihal data itu.
"Nin, mas mau ngomong bisa?" tanya Bagas kepada Anin.
"Emang dari dulu bisu? Kan sekarang pun bisa ngomong!" ucap Anin ketus.
"Maksud mas, ngobrol berdua"
"Maaf, aku sibuk!"
"Mas pengen tanya masalah flasdisk yang dulu diambil waktu disandera"
Anin diam tak menjawab. Dia sampai lupa jika barang itu telah hilang.
"Minta sama ayah"
"Punya ayah dicuri orang, masih ada lagi?"
"Sal, lo masih mau duduk apa gimana nih? Kita bisa telat nanti" Salma yang mendengar ucapan Anin langsung bangkit dari duduknya dan menuju ambulance. Bagas masih mengejar Anin.
"Nin, Anin, Anin! Anindya Wijaya! Berhenti!" Bagas meninggikan suaranya membuat semua tersentak kaget.
"Mas butuh file itu. Demi keselamatan kamu, mas cuma pengen melindungi kamu" ucap Bagas melemahkan suaranya.
"Melindungi ku? Jangan repotkan dirimu, aku bisa melindungi diriku sendiri. Satu hal lagi, belajarlah mengontrol emosi mu, tidak semua perempuan bisa mendengar bentakan mu" Anin kembali melangkah ke dalam ambulance.
Anin dan Salma diantar oleh pak Rusdi ke desa x. Perjalanan nya hampir 1 jam. Itu pun jika tidak hujan. Makanya jika ada yang bertugas di pustu pasti mereka akan lebih memilih menginap disana daripada harus berjuang melawan medan.
Anin memilih diam tak bersuara. Salma tak tega untuk bertanya, tapi melihat Anin diam juga membuatnya tak tahan.
"Nin, lo gak papa?" tanya Salma memberanikan diri.
"Gak papa, besok gue cari kontrakan deh habis pulang dari pustu"
"Ngapain nyari kontrakan? Tenang aja, kak Bagas gak bakalan di rumah kok. Soalnya kan mereka ikut satgas" jawab Salma padahal ia tak tahu jika Bagas dan tim nya diberi libur seminggu sebelum penyamaran.
__ADS_1
"Yakin? Gue gak mau kalau harus ketemu dia. Hampir aja tadi pertahanan diri gue roboh"
"Maafin kakak gue ya Nin, gue yakin kok kakak punya alasan sendiri tapi yang pasti bukan karena mbak Nisa"
"Kenapa lo yang minta maaf? Lo gak salah, dia juga gak salah kok. Gue yang terlalu berharap. Harusnya gue sadar, siapa gue. Udah ah, gue gak mau bahas itu lagi"
"Eh Nin, jadwal lo dan gue seminggu kedepan kok enak banget sih, gak ada jaga pustu desa ini" ucap Salma yang mendapatkan kiriman jadwal dari temannya.
"Masa? Jangan-jangan salah jadwal lagi"
"Bentar gue chat mbak minul dulu" Salma dengan cepat menanyakan kepada mbak minul.
"Gimana?" tanya Anin.
"Ooohh, ternyata besok selasa depan itu ada acara safari KB di KODIM. Kita diminta tenaga dari dinas kesehatan untuk melayani akseptor"
"Oohh, padahal gue pengen nya jaga pustu"
"Kenapa?"
"Biar gak ketemu dr. Bimo, gue juga gak enak sama kak Sinta. Waktu itu gue pernah diingetin sama dia buat gak genit sama dr. Bimo. Emang gue genit ya? Papasan aja gue menghindar" terang Anin.
"Hilih, kak Sinta mah emang begitu orangnya. Dia suka kan sama dr. Bimo. Makanya bersikap gitu. Yang genit malah dia. Kalau ada dr. Bimo di pustu pasti deh caper"
"Hahaha, udah ih. Malah ghibah kita"
.
Pustu
Malam ini Anin kembali termenung. Mengingat kembali kejadian tadi pagi.
"Hmm, dulu kita ketemu nya hampir aja tabrakan, sekarang memori ku seakan diingatkan kembali mas. Kamu apa kabar? Kenapa tubuhmu sekarang menjadi kurus? Apakah kau sudah punya orang lain yang merajai hatimu? Hmmm, move on kok susah banget sih. Pantesan dulu si Tari sering bengong nangis sendiri. Ternyata begini susahnya"
Salma melihat dan mendengar Anin berbicara sendiri sambil menatap langit malam yang begitu gelap.
"Nin, lo gak papa?" Salma ikut duduk di teras pustu.
"Gak papa, gue rasa-rasanya gak pengen balik deh Sal, gue disini aja sampai senin"
"Mana bisa? Senin kan jadwal kita di desa satunya Nin. Udah lah, kak Bagas jangan terlalu dipikirkan. Eh, bang Raka mau kesini nganterin makanan"
"Sampe sini keburu makanan nya dingin Sal"
"Biarin, kalau gue kan yang penting bang Raka nya, makanan hanya alasan belaka. Hahaha"
"Dasar!"
__ADS_1
Tak berselang lama Raka datang. Salma sudah sangat senang. Dipeluknya kekasihnya itu.
"Ehemmm, ingat disini ada jomblowati yang baru saja bertemu sang mantan" sindir Anin
Raka dan Salma malah menertawakannya. Raka ikut duduk di teras.
"Jadi gimana rasanya ketemu mantan? Dag dig dug der atau jeder-jeder?"
"Haish mbuh lah bang" jawab Anin memakai bahasa jawa yang artinya gak tahu lah
"Lo tahu? Saat gue mau kesini dia tu curhat. Katanya kutukan lo terjadi"
"Emang lo ngutuk kakak apaan?" Salma bingung dengan percakapan keduanya.
"Gue pernah bilang waktu putus itu, kalau sampai dia bohong dunia dia akan selalu dikelilingi oleh gue. Entah itu terjadi sungguhan atau bagaimana, waktu gue satu pesawat sama dia udah jadi cukup bukti sih kalau omongan gue beneran terjadi"
"Hahaha, gak berani macam-macam lah gue kalau begitu. Nanti gue bisa lo kutuk juga"
"Eh Sal, minggu ini kan gue jaga cuma sampai jumat aja. Jadi Sabtu gue ke kota Tari ya"
"Kok bisa sampai jumat? Sabtu gue sama siapa?"
"Lo sama kak Sinta, dia minggu kemarin minta jalan sama dokter Bimo, gue suruh gantikan dia. Nah sekarang gue minta imbalan dong"
"Pinter juga lo, besok kalo dia mau digantiin lagi gue juga bilang begitu ah"
"Dek, abang gak bisa lama-lama. Ada apel malam. Abang tinggal kalian berdua gak papa?"
"Tenang aja, Salma mah disini aman sama gue. Yang harusnya hati-hati abang, banyak demit" terang Anin
"Hush, jangan sembarangan Nin. Abang kan kalau sama yang gituan takut"
"Hahahah, abang ih. Digodain Anin doang juga. Ya sudah, hati-hati. Telpon adek kalau udah sampai. Sekarang kan disini pasang pemancar juga. Jadi aman sinyalnya"
"Siap"
Raka meninggalkan pustu. Dia mempercepat laju motornya. Gelap, jarang ada rumah membuatnya bergidik ngeri mengingat omongan Tari. Tiba-tiba motornya berhenti tak bisa maju
"Kenapa motor gue? Aduuuhhh jangan sekarang. Mbah cucu mu gak ganggu kok mbah, cucu mu hanya ingin pulang" ucap Raka ketakutan.
Raka melihat ban belakangnya ternyata tersangkut ranting.
"Hufh gue kira apaan" Raka cepat-cepat mengambil ranting itu dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
.
.
__ADS_1
.